Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
90. Anniversary


__ADS_3

Wulan sangat menikmati waktu sore di rumah Natalie. Ia banyak bertanya tentang alasannya memutuskan untuk menjadi seorang mualaf.


Bagaimana menyikapi orang-orang terdekatnya ketika mengetahui hal itu. Dan masih banyak lagi pertanyaan yang Wulan ajukan.


Hingga dirinya sudah bersikap layaknya wartawan yang meliput suatu berita. Natalie juga sangat sabar dalam menjawab setiap pertanyaan yang muncul begitu saja dari bibir tipis Wulan.


Dan barulah ketika suami Natalie datang membawa nampan yang berisi pie buah, membuat Wulan sadar jika dirinya sudah terlalu lama bertamu. Apalagi pie buah yang disajikan Natalie tadi ternyata sudah ia habiskan.


"Maafkan diriku yang sangat merepotkan kalian." ucap Wulan tersipu malu.


Rasa malunya tumbuh ketika ia kenal dengan Salman. Laki-laki dengan sejuta pesona itu memang telah banyak membuat seorang Wulan berubah.


"Tidak apa-apa. Kami justru senang dengan kehadiran seorang tamu di rumah kami. Itu artinya kamu membawa rezeki untuk keluarga kami." ucap Natalie.


"Rezeki apa? Yang ada aku malah menghabiskan makanan kalian." balas Wulan sambil terkekeh kecil.

__ADS_1


"Rezeki itu tidak sekedar materi saja sister. Mendapatkan seorang teman yang baik seperti mu juga merupakan rezeki bagi ku." balas Natalie dengan senyum hangatnya.


Membuat Wulan merasa terharu, karena dirinya di anggap seorang teman bagi orang yang belum lama di kenalnya.


"Berkenalan dengan mu juga menjadi suatu rezeki yang tak terhingga bagi ku sister." balas Wulan.


Mereka kembali bercakap-cakap sembari menikmati pie buah lagi. Hingga terdengar suara adzan Maghrib dari handphone Natalie. Wulan tahu kalau itu adalah panggilan bagi Natalie untuk melakukan kewajibannya.


"Terima Natalie sudah menjamu ku sebaik ini. Kalau begitu aku permisi dulu ya." ucap Wulan.


"Tentu saja, terima kasih." Kedua wanita itu saling bersalaman dan berpelukan.


Lalu Wulan menyunggingkan senyum tipis pada suami Natalie. Ia mengingat kebiasaan Salman yang tidak mau bersalaman dengannya. Dan ia pun keluar dari rumah teman barunya.


Wulan dan Aisyah memang berteman cukup lama. Keduanya saling menjaga toleransi beragama.

__ADS_1


Sekali pun tak pernah keduanya bertanya tentang pemahaman masing-masing.


Oleh karena itu Wulan juga merasa nyaman berada di dekat Aisyah, karena tak pernah menyentil hatinya.


Dan setelah bertemu dengan Natalie yang notabenenya adalah seorang yang berpindah keyakinan, membuat Wulan semakin gencar bertanya padanya.


Natalie hanya sekedar menjawab pertanyaan Wulan. Tanpa ada niat untuk mengajak mengikuti pemahaman barunya. Karena tidak boleh ada paksaan dalam beragama. Namun setiap ucapan Natalie terekam indah di otak Wulan.


Akhirnya, mobil memasuki pelataran rumah grandpa Louis. Ia mengernyitkan dahi ketika lampu rumah belum menyala. Wulan berpikir pasti grandpa dan grandma nya tengah pergi ke suatu tempat. Bergegas ia pun masuk ke dalam rumah setelah memarkirkan mobilnya di Carport.


"Happy anniversary!" Seru sekelompok orang dari dalam rumah, yang bersamaan dengan lampu yang menyala terang. Membuat Wulan terkejut setengah mati.


Bahkan ia sampai mengusap dadanya untuk menetralkan degup jantung yang tak karuan.


Matanya membulat sampai berkaca-kaca ketika melihat rumah grandpa nya yang di hias sedemikian indah. Dan keluarganya juga tengah berkumpul bersama. Semua tersenyum ke arah Wulan, termasuk seseorang yang tengah membawa kue.

__ADS_1


"Mommy, Daddy!" seru Wulan dengan mata yang berbinar. Ia segera menghambur di tengah kerumunan keluarga.


__ADS_2