
Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Sudah hampir sebulan Marquez dan istrinya tinggal di Belanda. Mereka sekeluarga bersama-sama mendalami ilmu agama.
Dan pada pagi di hari Minggu, mereka pergi bersama menuju masjid untuk mengikuti pengajian. Grandpa dan Daddy tampak gagah memakai setelan kemko. Sedangkan Wulan, Mommy dan grandma terlihat anggun memakai gamis dan jilbab.
Di waktu yang bersamaan, keluarga Leon juga tengah bersiap berangkat untuk beribadah. Kedua keluarga itu saling beradu pandang dan melempar senyum sebelum akhirnya masuk mobil.
Meskipun kini mereka memiliki keyakinan yang berbeda, tak ada sedikit pun rasa benci. Karena memang pada dasarnya, bukan hal itu yang menjadi landasan mereka berteman.
Tapi karena mereka sama-sama saling berbuat baik satu sama lain, sehingga timbul untuk selalu membalas kebaikan dengan kebaikan pula.
Meskipun Wulan telah berulang kali menolak, Leon tetap berharap agar bisa menjadi pacar atau bahkan pendamping hidup gadis yang semakin cantik dengan balutan gamis dan jilbab itu.
Mobil mereka masing-masing melaju menuju tempat peribadatan masing-masing.
Wulan kembali merapikan penampilannya saat hendak keluar dari mobil. Setelahnya karena terburu-buru keluar, ia membuka pintu mobil sedikit keras. Alhasil pintu itu sampai mengenai seseorang yang baru saja keluar dari mobilnya.
Arghhh...
Seseorang itu sampai mengerang kesakitan. Wulan yang melihat meringis seakan ikut merasakan sakit laki-laki dihadapannya.
__ADS_1
"Maaf." ucap Wulan, yang membuat laki-laki itu menoleh ke arahnya.
Keduanya saling membulatkan kedua matanya. Benih cinta yang telah lama tidak terkena guyuran air, kini seakan kembali segar ketika melihat siapa yang ada dihadapannya saat ini.
"Kak Salman?" gumam Wulan yang membuat laki-laki itu kembali terheran-heran.
Ia berusaha mengingat-ingat wajah cantik yang mengenakan pasmina lebar dihadapannya.
"Ka_kamu?" hanya itu kata yang bisa keluar dari mulut laki-laki dihadapan Wulan.
"Jangan hanya kamu saja. Aku punya nama." sahut Wulan dengan ketus.
Ia jengkel ketika kembali dipertemukan dengan pujaan hatinya, tapi laki-laki itu tidak pernah menyebut namanya.
"Wulan? Kenapa dia bisa ada disini?" lirih Salman lagi.
Ia melihat Wulan yang berjalan diantara mobil yang terparkir. Dengan berlari kecil ia mengejarnya.
"Tunggu!" seru Salman, yang membuat jantung Wulan berdetak kuat, lalu menghentikan langkahnya.
__ADS_1
'Itu suara kak Salman. Beneran nggak sih nyuruh aku berhenti? Kok jadi deg-degan gini ya.' batin Wulan sambil berdiri mematung.
"Kamu kenapa ada disini? Kenapa dimana-mana aku selalu menemui bayangan mu?"
"Apa! Bayangan? Aku ini nyata kak, bukan sekedar bayangan. Nih rasakan." Wulan mencubit gemas pipi Salman, sehingga membuat laki-laki itu meringis kesakitan. Lalu tanpa sadar tangannya memegang tangan Wulan.
Untuk pertama kalinya Wulan bahagia ketika tangannya di sentuh oleh Salman. Wajah yang tadinya tersenyum mendadak memerah karena tak bisa menyembunyikan rasa syok nya.
Sedangkan Salman yang melihat perubahan wajah Wulan, dan tak lama kemudian menyadari jika ia tengah menyentuh tangan gadis aneh itu cukup lama, segera menghempaskan begitu saja.
"Ma_maaf, aku tak sengaja menyentuh mu." ucap Salman dengan suara bergetar. Membuat Wulan mengulum senyum.
"Disentuh yang lama juga tidak apa-apa kok. Asalkan kita sudah halal." cetus Wulan yang membuat Salman mendongakkan kepala menatapnya.
"Apa!"
"Eh, tidak apa-apa. Lupakan saja." wulan membekap mulutnya sendiri karena malu selalu saja mengejar laki-laki dihadapannya, yang tak pernah menaruh rasa suka padanya.
"Maaf aku tak ingin ketinggalan acaranya. Aku permisi ke masjid dulu." Wulan kembali melanjutkan perjalanannya.
__ADS_1
Dan entah kenapa perkataan Wulan tadi membuat hati Salman merasakan suatu keanehan.
"Kenapa hatiku terasa berbeda seperti ini? Apa dia sudah meracuni ku dengan kata-kata gombalnya?" gumam Salman sebelum melangkahkan kakinya menuju masjid.