
"Sayang, ayo bangun." dengan penuh kelembutan Salman membangunkan Wulan, sambil menggoyangkan tubuhnya.
"Hem." Wulan menggeliat sambil menggeram, lalu kembali memeluk guling.
Salman pun kembali membangunkannya. Tapi tetap tidak berhasil. Akhirnya ia merebahkan diri di samping Wulan, sambil memandangi wajahnya.
Muncul ide yang melintas di benaknya. Ia tersenyum, sambil memainkan ujung rambut istrinya, dan menggunakannya untuk menggelitiki hidungnya.
Wulan merasa risih dan gatal, hingga tangannya mengusap hidungnya. Salman semakin terkekeh melihat hal itu.
Wanita yang ada disampingnya mulai kebrisikan dengan suara tertawa Salman. Sehingga ia memicingkan matanya, sebelah sudut bibirnya juga terlihat naik.
"Ayo, kita jadi pulang ngga nih?"
"Ish, kamu nyebelin banget sih, mas." Wulan memukul suaminya asal.
"Salah sendiri, aku sudah membangunkan mu. Tapi kamu ngga bangun-bangun. Aku bahkan sudah bau wangi."
"Oh, jadi kamu ngatain aku bau asem gitu?" Wulan melotot, bibirnya mengerucut, dan ia sampai mengukung badan suaminya. Keduanya saling beradu pandang.
"Aduh, sayang. Kamu jangan seperti itu dong, nanti aku bisa khilaf. Terus ketinggalan pesawat deh."
"Ya sudah, ditunda saja kepulangannya, kalau ketinggalan pesawat. Kok repot."
"Serius nih?" Salman menowel hidung mancung istrinya sambil menyunggingkan senyum smirk.
Keduanya beradu mulut sekian menit. Hingga akhirnya, Salman dengan lembut membalik tubuh istrinya. Lalu mengangkatnya menuju kamar mandi.
"Kalau ngeyel seperti ini, tanda-tandanya kurang dimanja. Baiklah, aku mandiin saja. Agar tidak ketinggalan pesawat." celoteh Salman.
__ADS_1
Setelah memandikan dan mendadani istrinya, keduanya pun segera keluar kamar sambil menyeret koper.
Grandpa dan grandma sudah menunggu keduanya di ruang keluarga.
"Ah, grandma pikir kalian akan menggagalkan rencana untuk pulang. Karena belum juga keluar kamar, padahal waktu sudah mepet." celoteh grandma. Salman dan Wulan menyunggingkan senyum.
"Maklum saja, grandma. Salman harus berjuang untuk membangunkan ibu hamil yang satu ini. Karena sangat susah sekali dibangunkan. Bahkan, harus digiring ke kamar mandi."
"Di giring? Kenapa jadi macam kambing sih." Wulan menepuk lengan suaminya.
Grandpa dan grandma terkekeh melihat keduanya.
"Sudah, jangan bertengkar. Ayo kita sarapan pagi dulu. Grandma tidak mau, cicit grandma sampai kelaparan di dalam pesawat." grandma menarik tangan Wulan, dan mengajaknya ke ruang makan.
Setelah selesai sarapan, keduanya mengunjungi kediaman Leon. Keduanya ingin berpamitan dengan keluarga itu.
**
Fatim tengah duduk di depan cermin sambil mengenakan jilbabnya. Sedangkan Leon, baru saja mandi.
Setelah sekian menit berlalu, Leon dan Fatim sudah rapi. Keduanya bergegas menikmati sarapan pagi.
Mama Margaretha menuang banyak makanan ke piring menantunya. Karena ia tidak ingin cucunya sampai gizi buruk.
"Ah, sudah ma. Itu terlalu banyak, nanti Fatim tidak habis."
"Segini tidak banyak untuk ukuran ibu hamil, sayang." Mama Margaretha masih terus menuang, aneka sayur dan lauk ke piring menantunya.
Biasanya keluarga itu memilih menu sarapan yang simpel. Seperti roti, outmeal, buah dan susu. Tapi kini mereka membiasakan dengan mengonsumsi berbagai jenis sayuran. Mengikuti selera makan menantunya. Karena anak yang di kandung Fatim adalah satu-satunya calon cucu di keluarga keduanya.
__ADS_1
Fatim menghembuskan nafas sambil mengulas senyum, sebelum melahap sepiring penuh makanan yang ada dihadapannya.
"Tidak usah dibantuin, sayang. Sebaiknya kamu segera berangkat saja." ucap mama Margareth.
"Benar apa yang dikatakan mama, sayang. Kalau kamu bantuin, mama. Keenakan nanti, mama ngga ngapa-ngapain." ucap Leon santai.
"Kak. Ngga boleh begitu lho sama orang tua. Nanti kamu kualat. Minta maaf dulu gih."
Mama dan papa tersenyum mendengar perkataan menantunya. Ia bisa menjadi seseorang yang selalu mengingatkan tingkah anaknya yang belum bisa bersikap lebih dewasa.
"Iya-iya sayang." Leon meringis ke arah Fatim.
"Ma, Leon minta maaf ya."
"Kamu itu sudah besar, harus bisa bersikap lebih baik dan lebih dewasa tentunya." kata papa.
Fatim pun membantu mama mertuanya untuk mencuci piring terlebih dahulu. Sedangkan Leon dan papa menuju teras rumah.
Ketika membuka pintu itu, Leon dan papanya tersentak kaget. Begitu juga dengan tamu mereka. Hingga mereka saling mengusap dada.
"Maafkan kami, om. Belum sempat menekan bel, pintu sudah terbuka." ucap Salman, yang merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa. Oh iya, mari masuk." Marco menggeser tubuhnya, agar Salman dan Wulan bisa masuk.
Tak berselang lama, Fatim dan mama Margareth berjalan menghampiri mereka yang berdiri di ambang pintu.
"Tidak usah, om. Kami buru-buru. Kedatangan kami kesini, cuma ingin berpamitan dengan keluarga om saja kok." tolak Salman lagi.
❤️❤️
__ADS_1