
"Belanda?" ulang mommy karena terkejut, dan Marquez mengangguk lemah.
"Apa yang terjadi dengan Wulan?" mommy bertanya sambil menggoyangkan lengan suaminya.
"Sebaiknya kamu segera melakukan apa yang aku katakan, baru setelah itu kita bicara." tolak Marquez.
Walaupun diliputi rasa penasaran, mommy mengangguk, lalu bangkit berdiri menuju kamarnya untuk menyiapkan baju.
Sedangkan Marquez menyugar rambutnya dan tampak frustasi.
"Kamu sudah selesai mengemas barang-barang yang kita butuhkan?" tanya Marquez ketika melihat istrinya sedang duduk di tepi ranjang.
Mommy melati menoleh, lalu mengangguk pada suaminya. Dan Daddy Marquez pun menghampirinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" mommy kembali melempar pertanyaan itu pada suaminya karena masih penasaran dan was-was.
Marquez menghirup nafas dalam-dalam lalu menceritakan semuanya pada istrinya itu.
Mommy tidak menyangka, jika hal itu akan terjadi. Padahal mereka sudah berusaha semaksimal mungkin.
Dan yang lebih membuatnya terkejut lagi, karena kedua mertuanya juga ikut-ikutan seperti Wulan. Entah apa yang ada di benak mereka, sehingga memutuskan demikian.
"1 jam lagi kita akan berangkat. Bersiaplah." ucap Marquez di akhir kalimatnya. Mommy mengangguk lalu berjalan menuju kamar mandi.
Setelah semua siap dan dirasa tak ada yang tertinggal, Marquez dan istrinya berpamitan pada asisten rumah tangganya. Lalu dengan di antar oleh seorang sopir, mereka berangkat menuju bandara.
__ADS_1
Saat perjalanan menuju ke Belanda, keduanya saling terdiam dengan seribu tanya di benak masing-masing.
**
Sedangkan jauh beribu-ribu kilometer dari tempat mommy berada, Wulan baru saja pulang dari kantor. Grandpa dan grandma menyambutnya dengan senyum sumringah.
"Apakah sore ini kita jadi pergi ke masjid?" tanya Wulan pada keduanya.
"Tentu saja jadi sayang. Kita sudah tak sabar menunggu waktu sore tiba." sahut grandpa.
"Okay, Wulan mandi dulu ya kalau begitu."
"Iya, kami juga akan bersiap-siap."
Mereka pun berpisah menuju kamar masing-masing untuk bersiap. Dan tak lama kemudian, mereka sudah berkumpul di ruang tamu.
"Setelah dari masjid, grandma juga ingin penutup kepala seperti itu." celoteh grandma seperti anak kecil yang merengek minta mainan.
"Tentu Wulan akan mengantarkan grandma." balas Wulan sambil tersenyum.
Mereka pun memasuki mobil yang telah siap di depan rumah. Dan kendaraan roda empat itu melaju dengan kecepatan sedang.
Tanpa mereka ketahui, tetangga mereka menyaksikan semua itu.
"I_itu Wulan? Berani sekali dia memakai penutup kepala. Tapi terlihat semakin cantik juga sih."
__ADS_1
Di dorong rasa penasaran, akhirnya Leon yang baru saja pulang kerja, mengikuti mereka.
"Mau pergi kemana mereka?" desisnya sambil fokus menatap mobil yang ada dihadapannya.
"Ke masjid?" desis Leon sambil mengerutkan keningnya, ketik mobil mereka berhenti di sebuah bangunan megah untuk beribadah.
Ia diam di dalam mobil sambil memindai keadaan sekitar. Dan tak lama berselang, keluarga Wulan turun dan mendekat ke arah pasangan suami-istri yang penampilannya seperti Wulan.
Mereka saling berjabat tangan dan berpelukan. Setelah itu, mereka berjalan bersama menuju masjid.
Dengan mengendap-endap, ia turun dari mobil, dan mengekor kemana mereka pergi. Tak lupa ia mengarahkan kamera handphonenya untuk merekam semua peristiwa yang terjadi.
Di dalam masjid, telah berkumpul beberapa orang yang dulu juga menjadi saksi Wulan saat ia mualaf.
Rombongan Wulan berjalan menghampiri mereka, dan tak lupa untuk menjadi berjabat tangan. Setelah itu, acara sakral itu pun segera di mulai.
Grandpa dan grandma melakukan persis apa yang dilakukan oleh Wulan dulu kala.
Dan ketika semua telah selesai, kalimat tahmid menggema memenuhi ruangan.
Rasa bahagia bercampur haru menyeruak menjadi satu. Hingga mereka juga menitikkan air mata.
"Terima kasih sayang, kamu telah menunjukkan ini semua pada kami." ucap grandpa dan grandma bersamaan sambil memeluk Wulan.
Gadis itu mengangguk dan tersenyum, sulit sekali rasanya untuk bisa berkata-kata.
__ADS_1
Sementara itu di luar ruangan, dada Leon bergemuruh. Baru kali ini ia melihat langsung sebuah acara sakral seperti itu. Hingga ia menjatuhkan dirinya di lantai.