
Fatim dan papanya segera menghampiri Leon dan security.
"Kenapa bisa seperti ini, pak? Apa yang terjadi?" Fatim bertanya pada security dengan wajah merah padam dan air mata mulai tumpah.
Security itupun menceritakan kejadian yang sebenarnya.
"Ya Allah. Kasian sekali dia, pah. Ayo kita bawa ke rumah sakit sekarang." papa Adam mengangguk, lalu segera mengangkat tubuh Leon dengan dibantu oleh security.
Fatim masuk dan papa Adam meletakkan kepala Leon dipangkuan nya. Sedangkan kaki Leon bertumpu pada paha papa Adam. Dengan cepat, sopir melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
"Apa dia akan baik-baik saja, pa?"
"In shaa Allah, semoga dia baik-baik saja." balas papa setelah menghirup nafas panjang. Ia tahu kondisi Leon cukup parah. Darah segar terus menetes dari anggota badannya.
Setelah hampir satu jam, akhirnya mobil sampai di pelataran rumah sakit. Sopir segera mendekat ke arah perawat.
Tak lama kemudian, ia sudah kembali bersama beberapa perawat yang membawa brankar.
Mereka membantu mengangkat dan meletakkan tubuh Leon di brankar. Lalu segera mendorongnya menuju ruang tindakan.
Papa sengaja mengajak Fatim menunggu di luar. Karena ia tahu anaknya begitu khawatir. Bahkan terlihat gadis itu tangannya saling bertautan dan dingin.
"Kamu doakan saja dia." ucap papa sambil merangkul bahu anaknya. Fatim menganggukkan kepalanya, walau hatinya tetap tak bisa tenang.
Setelah menunggu setengah jam, akhirnya pintu ruang IGD dibuka. Fatim dan papa Adam menghampiri seorang dokter yang baru keluar.
__ADS_1
"Gimana keadaannya, dok?" tanya Fatim dengan tidak sabaran.
"Kemungkinan pasien tadi mengalami benturan yang keras. Karena di telinganya keluar darah. Di tambah kondisi pasien yang sampai tak sadarkan diri. Kita harus melakukan CT scan. Agar bisa lebih tahu kondisi dalamnya. Dibeberapa bagian tubuhnya terdapat luka lecet yang cukup banyak."
"Okay, lakukan saja yang terbaik untuknya. Aku akan bertanggungjawab." tegas papa Adam.
"Baik, dok." dokter jaga tadi kembali ke ruangan. Dan papa Adam juga kembali mengajak Fatim duduk. Keduanya sama-sama berdo'a untuk kesembuhan Leon.
Di dalam ruangan, dokter dan perawat segera melakukan CT scan dan beberapa tindakan medis lainnya.
Tapi mereka dikejutkan dengan Leon yang terus memanggil nama Fatim. Matanya mengerjap pelan-pelan.
Melihat hal itu, perawat dan dokter saling beradu pandang. Lalu memutuskan untuk memanggil Fatim.
Setelah perawat menyampaikan padanya, Fatim segera berlari ke dalam. Di susul oleh papanya.
Ditengah kesadarannya yang belum sempurna, Leon tersenyum pada Fatim. Lalu kembali menutup matanya sambil tetap memanggil nama Fatim.
Melihat hal itu semakin membuat hati Fatim teriris. Dan terus meneteskan air mata. Hatinya benar-benar tak kuat melihat laki-laki yang pernah meriasnya menjadi cantik, kini terbaring tak berdaya.
Dokter kembali melakukan tugasnya. Fatim pun memandangnya dengan nanar.
CT scan telah selesai dilakukan. Sambil menunggu hasilnya, perawat mengobati luka luar di tubuh Leon. Laki-laki itu juga sudah tidak memanggil nama Fatim lagi.
Papa mengajak Fatim untuk mengerjakan sholat Maghrib di ruangannya. Gadis itu pun mengangguk. Ia berjalan dengan gontai menyusuri koridor rumah sakit.
__ADS_1
Fatim memanjatkan doa dengan khusu' untuk kesembuhan Leon.
Setelah keduanya selesai mengerjakan sholat, terdengar dering handphone papa Adam. Laki-laki bertubuh atletis itu segera mengangkatnya, ketika mengetahui istrinya yang meneleponnya.
"Assalamu'alaikum, sayang." salam papa dengan begitu lembut pada istri tercintanya.
"Wa'alaikumussalam, mas. Kata pak Ujang tadi ada kecelakaan di depan rumah kita. Siapa pa? Dan kenapa sampai sekarang kalian belum pulang?" balas mama Tiwi terdengar khawatir.
"Iya benar. Yang kecelakaan saudaranya menantu Reyhan. Pemuda bule itu."
"Kak Leon, pa. Namanya." imbuh Fatim yang duduk disamping papanya dan mendengar jelas percakapan itu. Papa Adam menyunggingkan senyum tipis, lalu melanjutkan pembicaraannya lagi.
"Kamu dengar sendiri kan, tadi anak kita bilang apa? Namanya, Leon. Sekarang belum sadarkan diri."
"Kalau begitu mama kesana sekarang ya, pa."
"Iya, ma. Sama tolong sekalian bawain baju ganti untuk Fatim." sela Fatim lagi, papa Adam hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya.
"Iya, ma. Papa juga mau dibawakan baju ganti. Kalau kesini suruh nganterin pak Ujang. Hati-hati bawa mobilnya. Papa tutup dulu ya teleponnya. Assalamu'alaikum, ma."
"Iya, pa. Wa'alaikumussalam." Panggilan pun berakhir.
"Pa, kita kesana lagi yuk. Takutnya kak Leon kembali memanggil ku, dan aku ngga ada disana."
"Memang kamu siapanya Leon? Sampai saat sakit seperti ini justru yang dipanggil adalah namamu." papa Adam menyunggingkan senyum tipis melihat anaknya yang salah tingkah dan tak bisa menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Ya cuma teman saja sih." balas Fatim sambil nyengir kuda.