
"Kak Salman, kak." panggil Wulan berulang kali, yang membuat Salman tersadar dari lamunannya.
"Eh, kamu tadi bilang apa?"
"Aku ingin belajar pemahaman seperti yang kakak anut. Boleh?" ulang Wulan lagi.
"Atas dasar apa kamu ingin belajar hal itu?" nada bicara Salman kembali seperti sedia kala.
Wulan terdiam sambil berpikir, bukannya senang dan menyambut niat baiknya, tapi justru laki-laki itu tampak curiga. Sehingga gadis itu memutar otak untuk mencari kata-kata yang tepat.
"Aku melakukan semua ini untuk kak Salman. Agar aku bisa masuk ke dalam kriteria wanita yang kakak cintai. Bukan kah aku selalu mengatakan, bahwa Wulan cinta sama kak Salman."
"Kamu salah besar." tegas Salman yang membuat jantung Wulan berdegub kencang, bagai murid yang ketahuan salah dan siap mendapatkan hukuman besar dari gurunya. Ia pun seketika tertunduk dalam.
Salman menghirup nafas panjang, sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya.
"Jangan melakukan sesuatu berdasarkan cinta saja. Tapi lakukan lah segala sesuatu atas dasar ikhlas mengharap ridho Allah. Lakum dinukum waliyadin, untukmu agamamu dan untukku agamaku. Tidak boleh ada paksaan dalam beragama. Karena percuma saja kita menganut suatu pemahaman baru dan melakukan semua kewajibannya, tapi tidak diniatkan pada sesembahannya. Itu hal yang rugi."
__ADS_1
Wulan tertunduk dalam setelah mendengar ucapan Salman. Ia sadar mungkin terlalu bersemangat membaca lembar demi lembar buku dari laki-laki itu. Sehingga ia kurang menyadari jika segala sesuatunya ada landasannya.
Setelah percakapan itu, mereka menghabiskan makanannya. Lalu Wulan berjalan untuk membayar makanannya.
Kali ini Salman membiarkan gadis itu yang membayar makanannya. Karena ia tak mau di anggap meremehkan orang lain. Walau dalam hatinya ingin membayarkan makanannya sebagai bentuk sedekahnya.
"Terima kasih sudah mentraktir ku." ucap Salman ketika Wulan kembali mendekat ke arahnya untuk mengambil belanjaannya.
"Sama-sama." Wulan menyunggingkan senyum, lalu mengambil paper bag nya yang tergeletak di lantai.
"Sorry." "Maaf." ucap keduanya bersamaan, sambil menjauhkan tangan masing-masing dari paper bag itu.
Keduanya tiba-tiba merasa canggung. Akhirnya kembali mereka mengambil paper bag, dan untuk yang kedua kalinya tangan mereka saling bersentuhan, karena mengambil paper bag yang sama. Kini keduanya saling melempar senyum.
"Aku dulu yang ambil baru kak Salman." ucap Wulan kemudian.
Setelahnya mereka berjalan beriringan menuju mobil mereka terparkir. Keduanya saling melempar senyum sebelum akhirnya masuk mobil.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, kedua insan itu sama-sama berpikir. Wulan memastikan tentang debaran rasa yang muncul setiap kali bertemu Salman.
Sedangkan lelaki itu sendiri, berusaha membuang jauh-jauh rasa yang perlahan muncul ketika Wulan mengucapkan beberapa kata sesuai dengan pemahamannya.
**
Sementara itu di kediaman Wulan, Leon datang untuk mencarinya. Namun ketika bertemu dengan mommy Melati, ia sedikit kecewa karena Wulan pergi tanpa pamit. Akhirnya Leon dan mommy duduk di ruang tamu sambil bercakap-cakap.
Leon mengutarakan sesuatu yang mengganjal di hatinya tentang perubahan sikap Wulan pada mommy Melati.
Tanpa mereka sadari Daddy mendengar apa yang tengah mereka berdua bicarakan. Dengan langkah cepat ia menuruni anak tangga.
"Apa betul yang dikatakan Leon honey?" tanya Daddy dengan serius. Membuat istrinya tampak salah tingkah. Ia takut jika suaminya akan memarahi putri semata wayangnya.
"Aku juga tidak tahu honey. Selama di rumah ia biasa saja." kilah mommy dengan suara yang sedikit berbeda dari biasanya.
Daddy menarik nafas panjang, lalu duduk di samping istrinya. Mereka bertiga saling terdiam sehingga suasana tampak tegang. Berharap Wulan segera pulang dan menjelaskan semuanya.
__ADS_1