Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
233. Menginap


__ADS_3

Leon dan kakek Somad menggelar tikar di depan televisi. Sedangkan Fatim dan neneknya membawa nasi beserta sayur dan lauknya, lalu meletakkan di atas tikar yang sudah di gelar oleh Leon dan kakek.


Setelah selesai, mereka duduk melingkar dan menghadap ke makanan itu. Aroma masakan khas desa yang membuat perut mereka keroncongan.


Nenek dan kakek segera mempersilahkan kedua cucunya untuk menikmati makanan yang sudah disediakan. Fatim yang sudah menahan lapar sejak tadi, segera menuang secentong nasi ke piringnya. Lalu diikuti yang lainnya.


Sesaat Leon memperhatikan pindang ikan yang di taruh dalam mangkok. Terlihat sekali jika makanan itu mengandung banyak santan, dan juga bumbu rempah-rempah. Bahkan juga terdapat daun kemangi dalam jumlah yang banyak.


Orang Belanda memang jarang atau bahkan tidak pernah memasak dengan menggunakan santan dan bumbu rempah yang kuat. Demi menghormati kakek dan nenek, Leon mengambil sedikit pindang itu, lalu meletakkan di pinggir piringnya.


Leon mulai merasakan rasa sayur itu bersama nasi. Setelah beberapa kali mengunyah, ia berhenti. Semua menatap ke arahnya. Prasangka buruk mulai muncul dalam pikiran mereka.


"Hem, rasanya enak sekali. Gurih." Celetuk Leon, yang membuat mereka yang melihatnya tersenyum lega.


"Alhamdulillah, tambah lagi nak kalau kamu suka. Habiskan juga tidak apa-apa. Besok biar nenek buatkan untuk kamu lagi." Tawar nenek, dengan semangat empat lima.


Leon yang tadi memang mengambil sedikit sekali, lantas mengambil lagi. Satu ikan dan diguyur dengan kuah kental berwarna kekuningan. Mereka pun melahap makanannya, sambil bercerita.


"Kek, mohon maaf. Masjid itu kan tempat ibadah ya, kenapa tidak dibangun lebih besar dan luas? Agar bisa lebih menampung banyak jama'ah." Penasaran, Leon pun bertanya pada kakek tentang kondisi masjid.


Kakek Somad menyelesaikan mengunyah makanannya, lalu menghirup nafas panjang sebelum menjawab.

__ADS_1


"Maunya juga seperti itu, Leon. Tapi bagaimana lagi, dana yang terkumpul juga belum cukup."


"Tidak mencari bantuan kemana gitu kek? Seperti pengajuan ke lembaga agama, atau turun ke toko-toko besar, jalan..." Belum selesai Leon berkata, kakek sudah memotongnya.


"Masyarakat di sini tidak mau seperti itu. Lebih memilih mengumpulkan dana, dari kantong pribadi masing-masing.


Ada yang setiap Minggu memberi, itu jika gajiannya tiap Minggu. Ada yang memberi tiap bulan, jika gajiannya tiap bulan, dan bahkan ada yang memberi tiap hari, jika gajiannya memang setiap hari.


Yah, walaupun lama, tapi mereka lebih puas. Karena itu berasal dari kerja keras mereka menyisihkan sebagian rezekinya."


Leon manggut-manggut mendengar penjelasan kakek Somad. Sambil sejenak berpikir.


"Kalau ada yang menyumbang untuk renovasi masjid itu, apakah akan diterima kek?" Celetuk Leon.


"Oh, baiklah. Kalau begitu, Leon juga akan ikut menyumbang."


Fatim, kakek dan nenek sejenak saling beradu pandang dan menatap Leon.


"Alhamdulillah." Ucap mereka bersamaan.


"Kakek bersyukur, kamu begitu peduli pada rumah Allah."

__ADS_1


**


Setelah menghabiskan makan malamnya, Fatim dan nenek membereskan sisa makanannya. Sedangkan Leon dan kakek membereskan tempat makan mereka.


Lalu membersihkan kamar bekas milik mamanya Fatim dulu. Karena, rencananya pasangan suami-istri itu akan menginap di tempat kakek Somad.


Kakek dan nenek sebenarnya juga menyuruh mereka untuk menginap. Jadi seperti bak gayung bersambut.


Leon menarik senyum di wajahnya, ketika memasuki kamar mama mertuanya dulu ketika masih muda. Sangat sempit baginya, karena ukurannya hanya seluas kamar mandinya.


Meskipun begitu, ia tidak akan mengurungkan niatnya dan justru merasa senang. Karena akan menikmati suasana yang berbeda. Baik itu di malam nanti ketika tidur, atau suasana di pagi setelah bangun tidur.


Bahkan sejak awal, Leon lah yang mengajak istrinya untuk menginap. Fatim tidak menyangka, jika suaminya yang notabenenya sejak kecil tinggal di kota, mau menginap di rumah kakeknya yang kecil dan sempit.


Tentu saja keduanya telah meminta ijin pada kedua orang tuanya. Dan mereka pun mengijinkannya.


Kedua orang tua Leon berpikir, dengan mendapat suasana yang baru, anak laki-laki satu-satunya yang pernah mengalami kecelakaan itu, bisa lebih nyaman, rileks sehingga bisa lebih cepat sembuh.


Tak dipungkiri, proses penyembuhan bagi penderita kecelakaan yang mengalami benturan hebat di kepala, apalagi sampai di operasi, karena darah yang merembes memasuki jaringan otak, sangat riskan dan bisa menyebabkan kematian, terbilang cukup lama.


Mungkin butuh waktu sekitar satu sampai dua tahun, untuk bisa sembuh total. Dan setiap hari harus rajin mengonsumsi obat.

__ADS_1


Sejak dulu Leon memang terkenal sebagai anak yang bandel. Jadi meskipun rasa sakit yang ia alami cukup parah, ia tidak akan mengeluh pada siapa pun itu.


Kini kamar itu sudah bersih dan siap ditempati. Yang bertepatan dengan suara adzan Isya'. Mereka pun segera bersiap-siap ke masjid


__ADS_2