Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
205. Semoga lelahmu menjadi Lillah


__ADS_3

Demi membuat hati suaminya tenang, Fatim mengabarkan pada kedua orang tuanya dengan melakukan panggilan video call.


Tak lama berselang, panggilan itu sudah direspon oleh mamanya. Tanpa diberi aba-aba, mereka saling melambaikan tangan dan mengucapkan salam.


Setelah sejenak melepas rindu, Fatim mengatakan tentang domisili pada kedua orang tuanya. Raut wajah kedua orang tuanya berubah sendu, ketika mendengar hal itu.


Tapi sejurus kemudian, papa Adam menyunggingkan senyum. Membuat Fatim dan Leon saling beradu pandang dan bertanya-tanya dalam hati, ada apa gerangan.


"Setelah menikah, tanggungjawab papa memang sudah berpindah pada, Leon. Jadi semisal kamu ingin mengikutinya domisili di situ, ya papa tidak bisa melarang. Tapi jika kamu berubah pikiran, dan ingin domisili disini, juga tidak apa-apa. Papa dan mama akan dengan senang hati membuka lebar-lebar pintu rumah untuk kalian."


Leon dan Fatim menyunggingkan senyum. Laki-laki itu merasa lega setelah mendengar penjelasan papa mertuanya.


"Terima kasih, pa. Leon disini akan berusaha untuk mencukupi kebutuhan lahir dan batin, Fatim. Dengan berbagai upaya."


"Hem, bagus itu." papa Adam menyunggingkan senyum sambil memperlihatkan jari jempolnya.


Hampir satu jam mereka melakukan panggilan video. Dengan berbagai macam hal yang mereka bicarakan.


"Alhamdulillah. Mereka sangat baik sekali. Aku beruntung punya mertua seperti mereka." gumam Leon, setelah panggilan berakhir.


**


Keesokan harinya, Leon sudah berpakaian rapi. Ia pun bergegas keluar kamar untuk menikmati sarapan pagi bersama keluarganya.


Ia melihat Fatim yang tengah menyiapkan makanan di meja makan. Fatim menyadari kehadiran suaminya. Lalu menarik kursi, agar suaminya bisa duduk.


"Kamu perhatian sekali dengan ku, sayang." Leon menatap istrinya.


"Harus dong. Biar kamu juga semakin semangat kerja. Iya kan, ma." Fatim justru menoleh pada mama mertuanya yang baru saja masuk rumah, dan membawa sayur dari kebun belakang.

__ADS_1


"Iya, sayang." Mama Margaretha asal saja menjawab, padahal ia tidak tahu apa yang tengah dibicarakan keduanya.


Tak berselang lama, papa Marco juga datang, bergabung dengan mereka mengelilingi meja makan.


Di sela-sela aktivitas makannya, papa membicarakan tentang rencana perusahaannya pada Leon. Agar anak laki-laki satu-satunya yang tentu akan menjadi pewaris perusahaan itu, bisa mengelola dengan baik.


Setelah selesai sarapan, papa dan Leon berpamitan ke kantor. Mama dan Fatim mencium punggung tangan suami masing-masing.


Mama dan Fatim duduk di taman belakang. Keduanya menghabiskan waktu bersama dengan merajut. Fatim tidak pernah melakukan hal itu. Maka dari itu, mama Margareth mengajarinya.


Sambil merajut, keduanya juga bercerita. Tidak semuanya hubungan menantu dan mertua itu tidak baik.


**


Sedangkan di kantor, Leon mulai berjibaku dengan pekerjaannya. Dia mulai fokus mengerjakan apa yang ditugaskan oleh papa untuknya. Jauh berbeda dengan Leon yang dulu. Yang hanya main-main dan tidak pernah serius, selain soal Wulan.


Kini ia sadar, harus merubah perilakunya yang kurang dewasa. Karena sebentar lagi ia akan memiliki seorang anak.


Tidak terasa, sudah seharian Leon bekerja. Kini waktunya ia pulang.


Dulu ia tak pernah merasakan capek, ketika pulang kerja. Karena pekerjaannya tidak pernah serius ia kerjakan. Ia selalu meminta sekretaris papanya yang mengerjakannya.


Tapi sekarang, semuanya ia kerjakan sendiri. Sehingga ia baru menyadari jika menjadi seorang pemimpin di sebuah perusahaan sangat menguras tenaga dan pikiran.


Merasakan rasa capek yang mendera seluruh tubuh dan pikirannya, justru membangkitkan semangat Leon untuk bekerja lebih giat.


Agar perusahaan papanya bisa berkembang pesat. Bisa menghidupi para karyawannya dan juga keluarganya.


**

__ADS_1


Kepulangan Leon disambut oleh senyum sumringah istri tercintanya. Wanita itu kini tengah menikmati jalan-jalan sore di pelataran depan rumahnya.


Melihat suami dan mertuanya keluar dari mobil, Fatim bergegas mendekat ke arah keduanya. Ia mencium punggung tangan kedua lelaki itu dengan takzim. Lalu membawakan tas kerja mereka. Setelahnya, mereka masuk ke rumah bersamaan.


Fatim menyuruh Leon duduk di tepi ranjang tempat tidur. Sedangkan dirinya justru malah duduk dilantai.


"Hai, sayang. Apa yang kamu lakukan." Leon mengernyitkan dahi, sambil menarik tangan Fatim.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin melepaskan sepatumu saja, kak."


Mulut Leon membulat, membentuk huruf O, sambil manggut-manggut.


"Tapi aku merasa tidak enak, sayang. Berdirilah. Biar aku sendiri yang melepas sepatunya."


"Aku kan mau cari pahala kak. Masa dilarang sih." Fatim pun menarik sebelah kaki Leon, lalu berusaha melepas sepatunya.


Leon akhirnya membiarkan istrinya melakukan apa yang diinginkan. Toh, hal itu justru membuatnya merasa jauh lebih dihargai.


"Bagaimana kerja kamu hari ini, kak?"


"Alhamdulillah. Walaupun capek, aku menikmatinya. Dulu rasanya tidak secapek ini, karena kerjaan ku hanya main-main. Tapi sekarang aku benar-benar lebih fokus, demi biaya hidup anak dan istriku. Makanya aku merasa sangat capek." kekeh Leon. Sifat aslinya mulai muncul lagi. Bicara apa adanya.


"Alhamdulillah. Aku ikut senang mendengarnya. Semoga lelah mu jadi Lillah."


"Apa maksudnya?" Leon mengernyitkan dahi tidak paham.


"Semoga segala rasa lelah yang mendera mu, mendapatkan pahala di sisi Allah. Karena kamu meniatkan segala sesuatunya untuk beribadah pada Allah. Lewat menghidupi anak dan istri mu dengan cara yang baik."


Sekali lagi, Leon manggut-manggut sambil mulutnya membentuk huruf O, sebagai tanda ia mulai paham dengan apa yang diucapkan istrinya.

__ADS_1


❤️❤️



__ADS_2