Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
159. Kelakuan wanita ketika berbelanja


__ADS_3

"Cobain sayang bajunya. Pasti cocok untukmu." ucap Salman agar istrinya tak memandang ke arahnya seperti itu.


Wulan menuju ruang ganti, dan mengantri dalam waktu sekian menit.


"Wulan." ucap seseorang yang baru saja keluar dari ruang ganti. Wulan pun menatap wanita yang memakai cadar yang ada dihadapannya sejenak.


"Aisyah." gumam Wulan, dan wanita yang ada dihadapannya pun mengangguk. Keduanya saling melempar senyum lalu berpelukan erat.


"Bagaimana kabarmu?" ucap keduanya bersamaan, sehingga membuat keduanya tergelak.


"Alhamdulillah, aku baik." untuk yang kesekian kalinya, mereka berkata sama.


Wulan mengurungkan niatnya untuk mencoba baju, dan memilih duduk di dekat bilik ruang ganti bersama Asiyah.


Keduanya pun bercakap-cakap, karena sudah lama sekali tidak bertemu. Bertemu saat pernikahan Wulan. Itu pun hanya beberapa jam saja. Rasanya masih kurang. Tidak seperti dulu saat kuliah, setiap hari mereka bertemu dan bercerita.


"Aisyah, kamu hamil?" Wulan mengelus perut buncit sahabatnya.


"Alhamdulillah, iya Wulan. Memangnya yang kamu lihat apa? Aku sedang bermain drumband gitu?" untuk yang kesekian kalinya keduanya terkekeh.


"Berapa bulan, Ai? Rasanya saat hamil itu gimana?"


"Alhamdulillah, in shaa Allah sebentar lagi aku akan melahirkan."


Badan Aisyah memang kecil, jadi tidak terlihat jelas jika dirinya tengah hamil. Ditambah ia biasa menggunakan gamis yang lebar. Membuat perut buncitnya tersamarkan.

__ADS_1


"Wow. Semoga dimudahkan ya, Ai. Bagaimana sih rasanya? Aku jadi tidak sabar, mau cepat-cepat hamil." tanya Wulan dengan antusias.


Terlihat istri Salman itu tengah mengusap perutnya, seolah-olah perutnya besar. Padahal masih datar.


"Aamiin ya rabbal aalamiin. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, Lan. Awal mulanya aku harus dirawat di rumah sakit, karena kandungan ku lemah. Harus mengonsumsi banyak vitamin dan obat untuk menguatkan aku dan janin ku.


Setelah perut ku mulai membesar, aku semakin mudah capek. Tidur tidak bisa nyenyak. Tapi, ya inilah jihadnya seorang wanita. Kamu pasti juga akan merasakannya sendiri nanti." tutur Aisyah panjang lebar. Wulan pun terlihat manggut-manggut mendengarkan.


"Kalau sudah tahu rasanya tidak enak seperti ini, apakah kamu akan berhenti dengan memiliki satu orang anak saja, Ai?" jiwa kepo Wulan meronta-ronta. Sedangkan Aisyah terkekeh melihat Wulan yang bersikap seperti wartawan.


"Aku juga belum bisa menjawabnya, Lan. Tapi yang jelas aku suka dengan anak-anak. Mereka itu lucu, menggemaskan..."


"Iya, Ai. Seperti aku yang lucu dan menggemaskan, kata mas Salman." potong Wulan cepat, Aisyah mendelik ke arahnya.


"Eh, lanjutkan, Ai." ucap Wulan sambil meringis, karena sudah memotong ucapan sahabatnya.


Memiliki banyak anak, juga menjadi ladang pahala buat kita orang tuanya. Karena kita di latih untuk bisa membina, dan mengarahkan dengan baik anak-anak kita. Agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang buruk dan dilarang agama.


Saat kita melatih mereka, kita sebenarnya juga tengah dilatih belajar untuk bersabar. Karena terkadang sikap anak tidak sesuai dengan apa yang menjadi kemauan kita."


**


Salman menunggu ditempatnya berdiri sudah hampir tiga puluh menit. Dan istrinya itu juga belum menampakkan batang hidungnya.


Padahal sejak tadi ia juga sudah memilih beberapa potong baju untuk istri dan anggota keluarganya.

__ADS_1


Karena khawatir dengan keadaan istrinya, jika wanita nya itu nyasar, ia pun menyusul istrinya di bilik ganti.


Alangkah terkejutnya ia ketika melihat orang yang dikhawatirkan justru tengah duduk santai dengan Aisyah.


"Sayang." ucap Salman saat berdiri di dekat istrinya, dan wanita itu menoleh ke asal suara.


"Aku khawatir dengan keadaan mu. Makanya aku susul kesini. Eh, tahunya lagi sibuk ngobrol." Wulan meringis mendengar keluhan suaminya.


"Maafkan aku, mas. Kami tidak sengaja bertemu, dan aku rasa baru sebentar kami bercakap-cakap."


"Kalau lagi bercerita sama teman, waktu sehari pun tidak akan cukup, sayang." dengan gemas Salman mencubit hidung Wulan. Karena panjang hidungnya yang melebihi hidungnya. Padahal hidungnya juga sudah mancung.


"Iya sih. Kamu kok tahu. Sudah pernah survei ya?" tanya Wulan dengan nada polosnya.


"Mama ku sering begitu soalnya." cetus Salman yang membuat Wulan terkekeh.


"Salman." suami Wulan pun menoleh ke asal suara yang ada dibelakangnya.


"Hei, Fatih." kedua saudara keponakan itu saling berjabat tangan dan berpelukan.


"Kenapa kalian semu ada disini?"


"Aku mencari istri ku, takutnya nyasar. Ternyata sedang sibuk dengan istri mu, Fat." Salman mengadu pada saudaranya. Fatih pun tertawa.


"Nasib kita sama, bro. Istri ku tadi pamit nya juga mau nyoba baju, tahunya..." Fatih menggelengkan kepalanya menatap Aisyah. Istrinya tersenyum, terlihat dari matanya yang menyipit.

__ADS_1


Kedua pasangan itu bercakap-cakap cukup lama. Karena tak enak dengan wira-wiri orang yang mau mencoba baju, mereka segera menyelesaikan apa yang menjadi tujuannya datang ke toko.


Setelah itu kedua pasang suami-istri itu kembali melanjutkan percakapan mereka di kedai dekat dengan toko uminya Fatih.


__ADS_2