Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
171. Di pesantren


__ADS_3

"Mama, ayo segera turun dari mobil." papa Reyhan mengetuk mobil yang ditumpangi oleh istrinya. Membuat mereka tersentak kaget, lalu terkekeh.


"Iya, pa. Ish, papa ih. Tak sabaran." ucap mama Laura sambil membuka pintu mobil.


Mereka pun berjalan beriringan menuju rumah yang terletak di samping kantor kesekretariatan.


Mereka serempak mengucapkan salam, yang membuat penghuni rumah itu segera keluar menemui mereka.


"Reyhan, pantas saja kamu terus mengirim chat pada ku panjang lebar. Ternyata kamu membawa rombongan sebanyak ini." ucap papa Andre sembari berjalan ke arah papa Reyhan, lalu memeluknya.


Tak hanya menjabat tangan papa Reyhan, papa Andre juga menjabat dan memeluk rombongan laki-laki. Tak berapa lama kemudian, umi Rosyidah datang dan ikut menyalami rombongan wanita.


Lalu di susul oleh haji Dahlan dan istrinya, serta Fatih. Menantu di keluarga itu. Yang juga melakukan hal yang sama pada para tamu.


Karena sofa yang tidak muat menampung banyak tamunya, mereka pun duduk di atas karpet yang telah disediakan. Bahkan di atas karpet itu telah terhidang aneka cemilan dan minuman untuk menjamu para tamu.


Papa Andre mempersilahkan tamunya untuk menikmati aneka hidangan yang telah disediakan. Setelah itu, mereka pun menikmati hidangan sambil memperkenalkan diri.


Suasana siang itu, benar-benar penuh kehangatan. Mereka banyak bertanya jawab tentang segala hal.


Hal yang paling terasa berkesan adalah ketika Marco mengatakan tujuannya untuk memperdalam ilmu agama, sebelum memutuskan menjadi seorang mualaf.


Tentu saja hal itu di sambut baik oleh keluarga papa Andre. Ia akan mengusahakan menuruti permintaan itu. Mereka pun mulai menyusun sebuah agenda. Karena mereka memang adalah orang-orang yang sibuk.

__ADS_1


Saat mereka sedang sibuk memikirkan agenda untuk mereka bertemu, terdengar suara tangis bayi.


"Pasti itu suara bayimu, Fat." papa Andre memalingkan wajahnya menghadap anaknya.


"Iya, pa. Sebentar ya, Fatih tengok dulu." laki-laki yang menjadi saudara keponakan Salman itu bangkit berdiri dan berjalan menuju kamarnya.


"Mas." "Ai" ucap Aisyah dan Fatih bersamaan saat masuk ke kamar. Lalu keduanya segera menghampiri bayi mereka yang masih menangis.


"Sepertinya dia kehausan, Ai." Fatih menggendong dan menyerahkan bayinya pada Aisyah. Wanita itu menerimanya dan meletakkan dengan pelan dipangkuannya.


"Maafkan aku ya, mas. Semenjak melahirkan aku belum buang air besar, dan baru kali ini aku bisa." tutur Aisyah menceritakan keluhan yang ia alami setelah melahirkan.


"Nanti sore jadwal periksa. Ceritakan nanti pada dokter soal perutmu, agar lebih nyaman." nasehat Fatih, Aisyah pun mengangguk.


Sesampainya di ruang tamu, terlihat keluarga dan tamunya masih asyik bercakap-cakap.


Tak lama kemudian, Marco minta pada Andre untuk mengantarkan ke tempat dua laki-laki yang diasingkan di tempat tersebut. Dengan senang hati Andre mengantarkannya.


Keduanya berjalan beriringan menuju rumah kecil yang digunakan untuk mengasingkan Ronald dan Romi.


Tampak dari kejauhan beberapa bodyguardnya tengah berdiri di sekeliling rumah itu untuk memastikan tahanannya tidak kabur.


Setelah Andre dan Marco mendekat, para bodyguard itu membungkukkan badannya pada tuannya.

__ADS_1


Sejenak Marco bertanya pada bodyguardnya tentang hal apa saja yang Ronald dan Romi lakukan selama di tempat pengasingan itu dengan suara yang berbisik, agar tidak terdengar oleh orang yang tengah mereka bicarakan


Marco manggut-manggut dan sesekali ia terkekeh geli mendengar penuturan dari bodyguardnya. Setelah itu ia masuk ke dalam dengan di temani oleh Andre untuk melihat langsung apa yang terjadi di dalam.


Terdengar suara ribut-ribut dari dalam kamar Ronald dan Romi. Di dalam kamar, keduanya tengah menghafal tata cara berwudhu yang benar. Dan keduanya merasa bahwa gerakan wudhu nya sudah benar. Keduanya juga sedang menghafal surat Al-fatihah. Dan masing-masing merasa paling benar. Sehingga memicu keributan.


Marco berusaha keras menahan tawanya ketika mendengar hal itu. Lalu ia membuka pintu dan berdiri dihadapan musuhnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Ronald dan Romi serempak menoleh ketika mendengar suara derit pintu yang dibuka. Keduanya semakin benci dengan Marco. Karena gara-gara dia, harusnya merasakan hal yang tidak mengenakkan selama berada di pesantren.


"Om, tolong keluarkan aku dari sini." rengek Romi dan segera menghampiri Marco.


"Baiklah, aku akan mengeluarkan mu dari sini. Tapi ada syaratnya."


"Aku akan melakukan apapun syarat yang, om katakan."


"Serius?" Romi pun mengangguk.


Papanya membulatkan matanya ketika melihat hal yang dilakukan anaknya. Ia sangat malu melihat anaknya yang merengek-rengek seperti anak kecil.


"Kamu minta maaf dengan anak ku, Leon. Secara tulus ikhlas. Karena gara-gara ulah mu anakku harus di operasi kepalanya, dan sekujur tubuhnya penuh luka."


"Baiklah, om. Aku akan minta maaf."

__ADS_1


"Romi!" bentak Ronald pada anaknya.


__ADS_2