Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
190. Hasil test


__ADS_3

Wulan memicingkan mata dan menutup hidungnya, ketika keluar dari toilet, sambil membawa gelas berisi air seninya.


"Ini di taruh mana, dok?" tanya Wulan.


"Taruh saja di atas meja ini."


"Hah?" Wulan membulatkan matanya, mulutnya menganga.


Dokter yang melihat tingkah bule berjilbab itu mengulas senyum. Ingin rasanya tertawa terbahak, tapi tidak sopan.


"Tidak apa-apa. Saya sudah sering menangani hal seperti ini. Tidak perlu malu." jelas dokter itu lagi.


Wulan pun meletakkan cairan bening berwarna kekuningan itu dihadapan sang dokter. Lalu dokter mencelupkan benda pipih ke dalamnya.


"Ini hasilnya." dokter itu menunjukkan benda pipih ke arah pasiennya. Salman dan Wulan melongokkan kepalanya bersamaan.


"Maksudnya apa, dok?" serempak keduanya bertanya, lali saling beradu pandang.


"Selamat. Anda sedang mengandung." ucap dokter itu, di iringi senyum tipis.


"A-aku hamil." gumam Wulan sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Alhamdulillah." gumam Salman.


Pasangan suami-istri itu sangat bahagia. Keduanya tidak menyangka, akan secepat itu mendapatkan amanah dari Allah.


Wulan refleks memeluk Salman dengan erat di hadapan dokter. Pria itu belum membalas pelukan istrinya. Justru ia meringis karena merasa malu dengan tingkah konyol Wulan.


"Sayang, kita bisa pelukan nanti di rumah. Di sini ada dokter." gumamnya sambil menyingkirkan tangan Wulan dari lehernya secara perlahan. Agar wanita itu tidak tersinggung.


"UPS! Maaf, mas. Aku lupa." Wulan menutup bibirnya yang meringis.


"Kalau berkenan, saya bisa melakukan USG untuk lebih memastikan kehamilan ibu." tawar sang dokter.

__ADS_1


"Boleh-boleh, dok. Saya mau di USG." balas Wulan dengan antusias.


"Kalau begitu, silahkan berbaring di atas brankar." titah Dokter itu.


Wulan pun segera menuruti nya. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur khas pasien berwarna hijau itu.


Salman yang penasaran seperti apa USG itu, ikut mendekat dan berdiri di samping sang istri.


Dokter menyingkap sedikit baju Wulan, dan meneteskan gel di atas perutnya, lalu menempelkan alat transducer.


Setelah sekian detik, terlihat di layar monitor gambar yang buram seperti semut. Karena hanya hitam putih saja.


"Menurut gambar ini, umur janin masih sekitar empat Minggu. Dan semua dalam keadaan baik." papar sang dokter yang membuat keduanya lega.


"Alhamdulillah." ucap keduanya dan tersenyum lega.


"Anda boleh beraktivitas, tapi harus tetap berhati-hati. Jangan sampai kelelahan. Karena di usia kehamilan yang masih muda ini, sangat rentan sekali terjadi sesuatu yang tidak diinginkan."


"Baik, dok. Kami akan menjaganya sebaik mungkin." ucap Salman.


"Konsumsi vitamin nya secara rutin ya. Dan dibuku sudah saya cantumkan tanggal untuk kembali kesini."


"Baik, dok. Sekali lagi terima kasih. Kami permisi." ucap Salman.


Keduanya terkejut ketika melihat papanya Fatim masih menunggunya, dan kini sedang berbincang-bincang dengan kedua orang tuanya.


"Wulan, Salman. Bagaimana hasilnya?" tanya mommy dan Daddy dengan tidak sabar. Keduanya sampai bangkit dari duduknya.


"Selamat, mom. Kalian berdua akan menjadi seorang grandpa dan grandma." ucap Wulan dengan berbinar.


"Ha. Kamu hamil sayang." tanya mommy memastikan.


"Iya, mom. Wulan hamil." istri Salman itu mengangguk antusias.

__ADS_1


"Selamat, honey." mommy dan Daddy memeluk Wulan bersamaan.


"Selamat ya, Salman. Jaga baik-baik kandungannya." ucap papa Adam sambil memegang bahu Salman.


"Terima kasih, om. In shaa Allah Salman akan menjaganya sebaik mungkin."


Setelah mengurai pelukannya, kedua orang tua Wulan juga mengucapkan selamat pada Salman. Keduanya memberi banyak nasehat untuk anak dan menantunya. Agar buah hati mereka bisa berkembang dengan baik, dan lahir ke dunia dalam keadaan sehat tak kurang suatu apapun.


Kini mereka mengantar Daddy berangkat ke kantor.


"Jaga baik-baik, cucu Daddy. Jangan sampai terjadi apa-apa dengannya." ucap Daddy sebelum melangkahkan kakinya menuju teras kantornya.


"In shaa Allah, Dad." balas Wulan dan Salman bersamaan.


Salman kembali melajukan mobilnya menuju kediamannya. Sepanjang perjalanan, Wulan banyak bertanya dengan mommy nya, seputar kehamilannya. Sedangkan Salman, hanya bisa menjadi pendengar yang baik.


Ketika sampai di rumah Salman, mama Laura menyambutnya dengan penuh suka cita. Lalu mempersilahkan mereka masuk.


Ia sengaja mengajak ke taman samping rumah. Agar bisa semakin betah dan nyaman ketika berbincang.


"Salman, tolong bilang ke, bibi ya. Bawain cemilan dan minuman ke taman." titah mama Laura.


"Baik, ma." laki-laki itu segera berlalu ke dapur untuk menyiapkan pesanan mama tercintanya.


Sementara mamanya tampak bersemangat dengan kedatangan besan dan menantunya.


"Ma, Wulan kesini bawa kabar lho." ucap Wulan mengawali pembicaraan mereka.


"Wow. Apa itu, Wulan? Mama jadi ngga sabar ingin mendengarnya." wajah mama Laura semakin berbinar ketika mendengar ucapan menantunya.


Wulan pun mengeluarkan test peck nya dan menyerahkan pada mama mertuanya.


"Kamu, hamil sayang?" Mama menatap Wulan dengan senyum tipis. Menantunya itu pun mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


"Ya Allah, alhamdulillah. Selamat ya sayang." Mama Laura memeluk menantunya.


__ADS_2