Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
88. Tuhan maafkan aku


__ADS_3

"Apa maksudnya kamu memberikan ini pada ku?" Wulan berkata sedikit tegas. Karena kebanyakan laki-laki akan memberikan sesuatu yang spesial seperti cincin sebagai tanda cintanya, dan berujung pada sebuah hubungan yang lebih serius.


"Ini hadiah ulang tahun mu baby. Kamu lupa kalau hari ini kamu berulang tahun?" Leon terkekeh kecil, sedangkan Wulan menepuk jidatnya sembari meringis.


Biasanya ia akan selalu mengingat hari ulang tahunnya. Tapi setelah bekerja, ia tak lagi ingat dengan hari spesial dalam hidupnya itu.


"Ulurkan jari mu. Biar aku bantu pasangkan cincin ini."


Sesaat Wulan kembali terdiam. Masih menimbang antara mau menerima cincin itu atau tidak. Karena cincin itu mirip seperti cincin untuk pertunangan.


Walaupun hanya sekedar hadiah ulang tahun. Ia menganggap itu bukanlah hal yang biasa.


"Meskipun ini adalah hadiah ulang tahun, aku tidak bisa menerimanya Leon. Cukup buket ini saja sudah membuat ku bahagia."


Bagaikan bunga yang layu, Leon seketika tertunduk lesu mendengar penolakan Wulan. Namun ia kembali mendongakkan kepalanya menatap gadis dihadapannya untuk kembali meyakinkan nya.


"Wulan, ku mohon terima hadiah dari ku ini. Akan aku berikan pada siapa jika kamu tidak menerimanya. Pliss banget."

__ADS_1


Leon terus mendesak Wulan hingga akhirnya gadis itu menerima pemberiannya. Pemuda itu dengan senyum sumringah memasukkan cincin berlian ke jari manis Wulan.


"Pas sekali." celetuk Leon sembari memperhatikan cincin yang melingkar di jari Wulan. Tidak kekecilan dan tidak kebesaran.


"Aku tadi hanya mengira-ngira saja. Eh ternyata pas sekali. Sepertinya kita berjodoh." imbuh laki-laki itu lagi, tapi Wulan tak bergeming.


"Kamu sudah terlalu lama berada di sini, sebaiknya kamu segera pergi. Kasian papa mu bekerja sendiri Leon."


"Okay, baiklah. Sampai ketemu nanti malam." Leon mendekatkan wajahnya ingin mengecup Wulan. Namun gadis itu segera menghindar.


Setelah Leon pergi, Wulan kembali melanjutkan pekerjaannya. Hingga akhirnya jam makan siang tiba.


Sembari mengunyah makanannya, Wulan membuka akun media sosialnya. Mulutnya berhenti mengunyah, ketika lagi-lagi mendengar ceramah pemuka agama tentang rukun Islam.


Hatinya semakin penasaran, lalu kembali menggeser tombol, mencari ceramah tentang hal yang berkaitan. Dan kali ini tentang rukun Iman.


Dadanya kian sesak. Karena hal itu sangat menusuk hatinya. Ia pun menyandarkan diri di kursi kebesarannya sambil mencerna semuanya.

__ADS_1


Beberapa menit sengaja ia berdiam, karena hatinya sejak dulu bertemu dengan Salman, sampai sekarang dalam tahap melupakannya.


Lalu banyak sekali kejadian tanpa sengaja yang membuatnya berpikir tentang pemahaman yang di anut oleh Salman.


Benteng tinggi yang sengaja ia bangun dalam mempertahankan keyakinan nya dan menjauhi lelaki itu, justru kian terkikis.


Wulan benar-benar merasakan dirinya lemah tak berdaya.


Sore hari tiba, Wulan tengah bersiap-siap pulang. Meskipun pikirannya tengah bercabang, ia berusaha tersenyum ketika melihat karyawan yang menyapanya.


Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, sembari memutar lagu-lagu kesukaannya. Namun entah kenapa, kali ini ketika mendengar ia menjadi kurang suka.


Berkali-kali ia mengganti channel nya, hingga tangannya justru terhenti ketika mendengar suara nasyid.


Otaknya menyuruh tangannya bekerja untuk mengganti channel itu. Tapi hatinya bersikeras menolak.


Seolah terjadi sesuatu yang tidak sinkron dalam tubuhnya. Akhirnya ia pun mendengarkan nasyid yang terasa merdu di telinganya.

__ADS_1


"Tuhan maafkan aku." desisnya.


__ADS_2