
Sepanjang perjalanan pulang, Wulan tertunduk lesu. Sampai rumah pun, ia juga masih menunjukkan ekspresi yang sama. Hanya satu penyebabnya, cintanya tak bersambut sebelum diutarakan.
Mommy yang melihat perubahan wajah anaknya yang drastis itu segera menyusul ke kamarnya.
"Genduk ayu, apa yang terjadi?" ucap mommy sambil mengusap punggung anaknya. Hal itu semakin membuat Wulan terisak.
"Lhoh, kok malah menangis? Kenapa ngga mau cerita sama mommy?" mommy Melati mulai khawatir.
"Kenapa harus ada dinding pemisah di antara kami mom?"
"Maksudnya?" mommy mengernyitkan dahi, tak paham dengan perkataan anaknya.
"Tinggalkan Wulan sendiri dulu mom, pliss." rintih Wulan. Mommy menghela nafas, sebelum akhirnya keluar meninggalkan anaknya yang masih terisak.
**
Sebulan telah berlalu, Wulan menghabiskan waktunya dengan menyesali getaran rasa yang ada ketika melihat Salman. Padahal ia tahu, laki-laki itu tak menaruh hati barang sedikit pun padanya.
Mungkin kah cinta itu bisa salah alamat?
__ADS_1
Ia memutuskan untuk pergi ke jalan-jalan sembari mencari udara segar. Setelah berpamitan dengan mommy nya, ia melajukan mobil membelah jalanan yang cukup ramai.
Tangannya bergerak lamban memutar kemudi, karena tidak tahu arah dan tujuan yang hendak di tuju. Sementara berkali-kali ia mencoba menghapus bayangan wajah Salman dari pikirannya, namun sulit.
Dan karena ulahnya itu ia tak sengaja menabrak mobil yang ada dihadapannya.
Brak....
Suara benturan keras terjadi, membuat ia tersentak kaget dan tersadar dari lamunannya.
"Oh my God. Aku melakukan kesalahan. Pasti sebentar lagi, aku akan kena caci maki." gumam Wulan sambil menggigit bibir bawahnya.
Ia masih diam di tempat, karena yakin sebentar lagi si pemilik mobil yang ia tabrak akan menghampirinya.
Ia mengetuk kaca mobil samping kemudi, dan tak lama kemudian kaca terbuka. Wulan seketika membulatkan matanya melihat siapa yang ada di dalam mobil.
"Kak Salman?" gumam Wulan.
"Apa mobil mu rusak?" tanya Salman. Wulan mengernyitkan dahinya, mendengar pertanyaan lelaki itu.
__ADS_1
"Ke balik kak, harusnya aku yang bertanya seperti itu. Mobil kakak ada yang rusak ngga?"
"Aku belum memeriksanya, kalau mau tahu periksa saja sendiri. Bukan kamu baru saja melewati mobil bagian belakang ku?"
Wulan kembali di buat ternganga dengan ucapan Salman. Biasanya ketika orang mengalami kecelakaan, akan segera mengecek kondisi kendaraannya, tapi Salman justru terlihat santai.
Wulam pun berjalan ke belakang sambil mengecek mobil bagian belakang Salman. Ia meneliti dengan seksama. Ia cukup syok melihat mobil lelaki itu yang penyok. Dengan muka tertunduk lesu, ia menghampiri Salman.
"Kak Salman, maafin aku ya. Mobil bagian belakang mu penyok." lirih Wulan dengan muka sedihnya, yang membuat Salman menoleh ke arahnya.
"Tidak apa-apa, nanti bisa di perbaiki. Kalau begitu aku telepon orang bengkel dulu." Ucap Salman yang terlihat santai.
Wulan pun semakin heran dengan tingkah lelaki dihadapannya. Kenapa selalu terlihat santai dan tenang dalam menghadapi apa pun juga. Serasa hidupnya tanpa beban.
"Kak Salman, boleh ngga aku protes?" Salman mengangguk mengiyakan.
"Harusnya kakak itu marah-marah dong ke aku. Maki-maki aku sesuka hati. Tapi kenapa cuma diam saja sih? Kalau aku yang jadi korban kecelakaan, pasti aku bakal marahin si penabrak habis-habisan." sungut Wulan penuh emosi.
"Janganlah marah, maka bagimu surga. Kalimat itu selalu teringat di pikiran ku ketika aku dihadapkan pada sesuatu yang tidak sesuai dengan hati ku. Aku hanya berharap, dengan aku bisa menahan amarahku, maka surga semakin mudah ku gapai."
__ADS_1
❤️❤️