Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
79. Menghapus nomor


__ADS_3

"Wulan, sudah sejak dulu aku mencintaimu dan ingin menikah dengan mu. Kamulah yang di maksud mama ku dengan calon istriku." ucap Leon yang membuat Wulan terkekeh. Tapi semua orang memandang nya sambil mengernyitkan dahi.


"Maaf Leon. Aku tidak dapat menyembunyikan rasa geli dengan pernyataan mu itu." ucap Wulan setelah ia berhenti tertawa.


"Kita sudah berteman sejak masih kecil. Aku sudah menganggap mu seperti saudara sendiri. Jadi tidak ada rasa cinta untukmu di hatiku Leon. Kecuali rasa cinta sesama saudara." jelas Wulan yang membuat Leon kecewa. Begitu juga dengan kedua orang tuanya. Yang menganggap Leon dan Wulan adalah pasangan yang serasi.


"It's okay. Ayo kita lanjutkan lagi makannya." ucap Leon mengalihkan rasa tidak nyaman nya. Karena suasana berubah menjadi hening.


Mulutnya berkata tidak apa-apa, tapi tidak dengan hatinya. Ia sedih dan sakit karena Wulan mengucapkan hal itu padanya. Terlebih di depan keluarganya.


Tapi apapun yang terjadi, dia akan berusaha sungguh-sungguh untuk bisa mendapatkan hati Wulan. Selama pujaan hatinya belum menikah, ia pantang mundur.


Jika pun Wulan menikah dengan laki-laki pilihan hatinya, Leon juga siap menjadi seorang pebinor dalam rumah tangganya.


Apapun akan dilakukannya untuk mendapatkan tempat di hati Wulan.

__ADS_1


Mereka pun kembali memasukkan makanan ke mulutnya. Lalu setelah sekian menit berlalu, dan bertepatan dengan habisnya makanan yang tersaji. Rombongan itu pulang.


Wulan sengaja ikut dengan Leon, saat pemuda itu hendak membayar bill tagihan. Agar bisa bertemu dengan wanita tadi. Tapi setelah celingak-celinguk, ia tetap tak menemukan wanita itu.


Sementara Leon, ia tampak senang karena Wulan mau menemaninya, walau hanya sekedar membayar.


'Aku yakin, Wulan suatu saat akan mencintai ku. Semua ini hanya soal waktu. Dan aku juga perlu usaha dan trik dalam meluluhkan hatinya.' batin Leon tetap optimis.


Saat perjalanan pulang, Leon tetap berusaha mencairkan suasana. Karena pada dasarnya dia adalah tipikal lelaki yang cerewet.


Setelah masuk rumah, Wulan juga segera masuk ke kamarnya. Sedangkan grandpa dan grandma nya juga masuk ke kamarnya sendiri.


Cuaca panas memang membuat mereka sedikit kegerahan dan lebih memilih beristirahat di kamar masing-masing.


Setelah sampai kamar, Wulan segera mengunci pintunya. Ia tak ingin kejadian tadi pagi terulang lagi. Leon masuk ke kamarnya tanpa ijinnya.

__ADS_1


Selama ini kebiasaannya memang tak pernah mengunci pintu kamarnya. Namun sekarang ia harus membiasakan nya.


Karena rasa gerah, Wulan melepas bajunya dan mengganti dengan tang top dan celana hotpants. Rambut panjangnya ia ikat sembarangan.


Ia berjalan ke dekat jendela untuk membuka tirainya.


"Arghhh... Kenikmatan yang hakiki ini." gumamnya sambil menghempaskan tubuhnya di tempat tidur.


Ia menelpon mommy nya untuk menanyakan kabarnya. Hingga tak terasa hampir satu jam mereka bercakap-cakap melalui panggilan telepon.


Setelahnya Wulan menyecroll aplikasi WhatsApp nya. Ia melihat riwayat pesan dari Salman dulu yang belum sempat ia hapus. Ia membaca setiap bait kalimat percakapan itu.


"Mengingatnya hanya akan melemahkan ku. Lebih baik aku hapus saja nomor teleponnya. Jika berniat tidak boleh setengah-setengah. Harus totalitas." gumamnya.


Lalu ia menghirup nafas dalam-dalam dan akhirnya menghapus nomor Salman dari daftar kontaknya.

__ADS_1


Tanpa sadar, ia meneteskan air matanya ketika melakukan hal itu. Lalu segera mengusapnya kasar. Karena tak ingin menjadi wanita lemah.


__ADS_2