Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
141. Perjalanan umrah


__ADS_3

Pagi itu semua anggota keluarga Salman dan Wulan tengah bersiap-siap menuju ke bandara. Dimana titik kumpul yang telah ditetapkan oleh pihak travel. Setelah siap, tiga orang sopir opa Atmaja mengantar mereka menuju bandara.


Sepanjang perjalanan, mereka lebih banyak diam sambil berdzikir. Saat tiba di bandara, mereka segera berkumpul dengan rombongan jamaah umrah lainnya.


Pihak travel memberi sedikit pengarahan sebelum berangkat. Dan setelahnya, mereka dipersilahkan memasuki pesawat yang telah disiapkan.


Hati keluarga itu berdegup kian kencang. Karena itu adalah pertama kalinya mereka melaksanakan umrah bersama keluarga besar.


Kini, mereka telah duduk di kursi masing-masing. Tak lupa mereka mengenakan seat belt, demi keamanan.


Pesawat bergerak pelan, lalu meluncur dengan cepat. Bibir mereka kembali melantunkan kalimat thoyibah. Sambil memandang ke arah luar. Gumpalan awan terlihat jelas. Menambah kesan sejuk di mata hingga sampai hati.


Membutuhkan waktu sekitar sepuluh jam dari Indo ke tanah suci. Meskipun begitu, mereka masih terlihat fit. Saat jam makan siang, pramugari mengelilingi dan membagikan makanan bagi para penumpang.


Mereka pun segera memakannya. Setelah itu, barulah mereka mengerjakan sholat Dhuhur di tempat duduk masing-masing.


"Kalau kamu capek, istirahat lah." Salman menepuk sebelah bahu kirinya, sebagai isyarat agar Wulan merebahkan kepalanya di atas bahunya. Namun wanita itu menggeleng.


"Aku belum capek. Mungkin kamu bisa tidur dulu di bahu ku. Nanti baru giliran aku yang tidur di bahu mu." jelas Wulan.


"Kamu itu tidak berubah ya. Tetap saja energik." puji Salman pada istrinya. Sehingga membuatnya tersipu malu.

__ADS_1


"Tapi beneran mas, aku tidak capek sama sekali. Menurut artikel yang aku baca kemarin, Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya.


Jika kita berpikir buruk, maka hasilnya juga akan buruk. Begitupun sebaliknya.


Nah ada tambahan lagi, jika hamba-Nya mengeluh capek, maka sepanjang mengikuti umrah sampai pulang, pasti akan terus menerus didera rasa capek.


Tapi meskipun kita sedang capek atau mungkin sakit dan kita mikirnya bahwa kita itu sehat, kuat, maka sepanjang perjalanan berangkat dan pulang, pasti akan kuat dan justru kembali sehat.


Allah itu tidak tampak, tapi kekuasaan-Nya sungguh luar biasa. Sampai membuatku bergidik."


Salman tersenyum mendengar celotehan istrinya. Lalu menarik hidung mancungnya, sehingga membuatnya merintih.


"Ternyata istri ku semakin pintar saja."


Di bangku lain, anggota keluarga mereka sesekali terlibat obrolan santai. Kaum laki-laki pastilah tengah membicarakan soal bisnis.


Sedangkan kaum perempuan, apalagi yang mereka bicarakan, kalau bukan mengenai rumah tangga. Seperti tukar resep masakan, berkebun, barang-barang investasi, acara pengajian dan banyak hal lainnya.


Akhirnya setelah mengudara selama sepuluh jam, pesawat mulai landing di sebuah bandara. Mereka memastikan barang-barangnya tidak ada yang tertinggal di dalam pesawat. Barulah mereka turun.


Ucapan syukur menggema dari bibir para jama'ah umrah, ketika mereka telah sampai di tanah suci. Bahkan mereka sampai bersujud syukur untuk meluapkan rasa bahagianya.

__ADS_1


Mungkin banyak orang yang kaya dan bergelimang harta. Tapi hanya sedikit yang mau berangkat ke tanah suci untuk melakukan ibadah itu.


Sedangkan banyak juga orang yang terlahir tak punya. uangnya hanya cukup untuk makan. Tapi berbekal tekad dan semangat yang kuat, Allah memberi kemudahan bagi mereka untuk melaksanakan ibadah umroh ataupun haji.


Jadi kita tidak boleh berpikir, bahwa orang yang bisa melakukan ibadah haji atau pun umrah adalah orang yang kaya.


Tapi mereka orang-orang yang berniat melakukan ibadah itu dengan setulus hati. Maka Allah pun beri kemudahan.


Setelah sujud syukur, mereka bangkit berdiri dan berjalan melewati gedung bandara. Lalu menuju mobil travel yang siap mengangkut mereka menuju hotel.


Selama berada di dalam mobil, mereka melihat ke arah luar. Pemandangan yang jauh berbeda dari tempat tinggal mereka selama ini.


Sepanjang jalan, banyak berdiri tenda para penjual. Yang menjual berbagai kebutuhan sehari-hari dan oleh-oleh.


Di sana juga terdapat gedung-gedung yang tinggi menjulang. Seperti di negara-negara Eropa. Padahal dulu adalah sebuah negara gurun pasir yang tandus.


Dan sejak ditemukannya minyak bumi di negara itu. Negara itu berubah sangat pesat. Menjadi sebuah kota metropolitan.


Siapa pun yang menginjakkan kakinya di sana, pasti akan merasa takjub dengan segala keindahannya.


Menempuh empat jam perjalanan, akhirnya mereka semua sampai di hotel tempat tinggal mereka selama menjalani ibadah umroh.

__ADS_1


Mereka berjalan beriringan menuju kamar masing-masing. Sesampainya di kamar, keluarga Wulan dan Salman membuka tirai jendela dan melihat pemandangan indah Masjidil Haram saat sore hari.


Puas menatap keindahan Baitullah, tanpa rasa lelah mereka pun segera memasukkan baju dan perlengkapan lainnya di almari yang telah disediakan. Lalu mandi sore dan bersiap menuju ke masjid.


__ADS_2