Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
150. Mencarikan jodoh untuk anak


__ADS_3

Mama Margaretha tersenyum tipis mendengar jawaban Fatim. Karena orang tuanya begitu menjaga anaknya dengan baik.


"Apa karena hal itu Leon datang ke rumah mu?"


Fatim terkekeh kecil mendengar hal itu.


"Kemarin kak Leon memang bilang ingin bertemu dengan saya. Tapi saya menolaknya. Saya tidak ingin sering-sering keluar berdua dengan seorang laki-laki.


Terus dia ngotot ingin bertemu dengan saya. Akhirnya Fatim cerita pada papa soal kak Leon yang ingin main ke rumah.


Papa pun mengijinkan, dan ternyata kak Leon memang serius berangkat ke rumah saya. Karena bosan di rumah tidak ada temannya. Tante Melati dan suaminya baru umrah.


Tapi naas, saat saya baru sampai gerbang, kak Leon sudah seperti itu keadaannya. Fatim jadi tidak enak dan merasa bersalah. Semua terjadi karena ulah Fatim.


Jika saja Fatim tidak menyuruh kak Leon datang ke rumah, mungkin hal buruk itu tidak akan terjadi." wajah Fatim berubah sendu ketika mengingat kejadian itu.


Mama Margaretha juga menghela nafas panjang. Lalu meletakkan tangannya di atas tangan Fatim.


"Mungkin semua itu memang takdir yang harus dijalani anak Tante. Kamu tidak perlu bersedih seperti itu. Toh kamu juga ingin berbakti pada orang tuamu." Fatim menganggukkan kepalanya.


Suasana kembali hening. Masing-masing menata hati dan pikiran nya.


"Feeling seorang ibu itu kuat. Sepertinya anak Tante menyukaimu."


Fatim mendongakkan kepalanya, memberanikan diri menatap wajah wanita yang seumuran dengan mamanya.

__ADS_1


"Itu tidak mungkin, Tan. Kami baru beberapa kali bertemu. Dan awal kami ketemu saat di rumah Wulan."


"Hem, apa kamu tahu? Urusan hati itu kan tidak bisa dipaksakan."


Fatim kembali menundukkan kepalanya, sambil mencerna ucapan wanita disampingnya. Bagaimana mungkin rasa suka bisa datang secepat itu?


"Sekarang katakan pada Tante, apa kamu juga menyukainya?"


Fatim menggelengkan kepalanya. Karena ia yakin tidak menyukai laki-laki yang berbeda agama dengannya.


"Serius?"


"In shaa Allah Fatim serius, Tan."


"Lalu kenapa kamu mau menemani dia selama kami belum datang? Dan Tante lihat, kamu juga sempat menitikkan air mata saat melihat kondisi Leon."


"Demi apapun, Tante akan lakukan hal yang membuat anak Tante bahagia. Karena dia sudah menderita karena cintanya dengan Wulan tidak kesampaian. Di tambah lagi dia mengalami kejadian tragis seperti itu. Tante bersyukur dia masih bisa hidup. Dan ingin membahagiakannya." Fatim manggut-manggut mendengar ungkapan hati wanita di sampingnya.


"Kalau Leon sudah sembuh nanti, apa kamu mau menerima Leon?"


Fatim seketika tersedak. Margareth beranjak dari duduknya dan mengambil air mineral, lalu disodorkan pada Fatim.


Gadis itu menerima, lalu dengan cepat meneguknya setelah berdoa. Setelah ia cukup rileks, Margareth kembali melontarkan pertanyaan yang sama.


"Maaf, Tante. Fatim tidak bisa menjawab hal itu sekarang. Karena di dalam hati Fatim belum ada rasa suka dengan kak Leon. Jika misalnya Fatim suka dengannya, tapi harus melanggar tembok pembatas. Lebih baik Fatim mundur. Biarlah jodoh itu menjadi rahasia Allah. Agar tidak ada hati yang saling tersakiti karena sebuah janji. Sekali lagi maafkan Fatim jika kesannya Fatim menggurui, Tante."

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Tante paham kok. Tadi hanya sebuah permisalan saja." Fatim pun manggut-manggut.


"Oh iya, ini sudah jam makan siang. Fatim hubungi karyawan pantry dulu ya, Tan." Fatim segera mengirim pesan pada karyawan.


"Tidak perlu repot-repot seperti itu, nak." Fatim menoleh sebentar sambil tersenyum tipis.


"Tidak repot kok, Tan."


Di tengah keheningan keduanya, kembali terdengar suara Leon yang mengerang dan menyebut nama Fatim. Bergegas keduanya mendekat.


Tak berapa lama kemudian, seorang dokter dan perawat masuk ke kamar itu setelah mengucapkan salam.


Mereka mendekat dan memeriksa kondisi Leon.


"Bagaimana kondisinya, dok? Sebentar-sebentar dia terus mengigau." tanya mama Margareth.


"Pengaruh obat biusnya perlahan menghilang. Jika dia terus mengigau, dan yang diucapkan memang ada faktanya, itu tandanya ingatannya masih bagus.


Tapi jika yang diucapkan seenaknya sendiri, itu tandanya ingatannya berkurang.


Dan untuk mengembalikan ingatannya, keluarganya harus sering-sering mengajaknya bercerita. Itu bagus sekali untuk merangsang otaknya agar bisa bekerja.


Dan pastinya sebagai keluarga harus terus memberi semangat yang besar, agar pasien juga ikut bersemangat.


Sebaiknya, juga hindari hal-hal yang membuatnya berpikir terlalu dalam, atau hal-hal yang tidak mengenakkan hatinya. Karena bisa membuat semangatnya menurun. Dan memperlambat proses penyembuhannya."

__ADS_1


"Terima kasih, dok. Atas penjelasannya." ucap mama Margareth.


"Sama-sama, bu." balas dokter dengan diiringi senyum ramah.


__ADS_2