Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
162. Terpesona dengan Fatim


__ADS_3

Papa Marco dan mama Margareth sejenak saling beradu pandang, mendengar ungkapan hati Leon. Namun belum sempat keduanya memberi jawaban, terdengar suara pintu yang dibuka.


"Selamat malam." sapa Fatim sambil mengulas senyum pada keluarga Leon.


"Malam, nak." mereka pun membalas dengan senyuman pula.


"Akhirnya kamu datang juga, nak. Sejak tadi Leon tidak mau makan. Kalau bukan kamu yang menyuapinya. Dasar anak manja." cicit mama Margareth.


"Maaf ya, Tan. Tadi di bawah Fatim berpapasan dengan teman yang mau melahirkan. Jadi ikut menemani disana."


"Terus bagaimana kondisinya?"


"Alhamdulillah, ibu dan bayinya selamat dan sehat. Mereka sudah dibawa ke ruang perawatan."


"Syukurlah kalau begitu. Oh, iya. Ini Tante minta tolong kamu suapi Leon ya, nak." Margareth menyerahkan sepiring nasi beserta lauknya pada Fatim.


"Baik, Tan."


"Kalau begitu, kami keluar dulu ya."


"Mau kemana, Tan?"


Marco dan Margaretha sejenak saling beradu pandang sebelum menjawab.


"Kami hanya ingin duduk di luar, sedikit mencari angin segar."


Fatim sebenarnya tidak nyaman, berada dalam satu ruangan dengan orang yang semahram dengannya.

__ADS_1


Tapi mungkin itu bagian dari pekerjaannya, akhirnya ia pun mengangguk setuju seraya menyunggingkan senyum, mencoba untuk tulus.


Leon tersenyum melihat kedua orang tuanya keluar dari ruangannya. Itu artinya dia ada waktu berduaan dengan Fatim.


"Kak, kenapa senyum-senyum sendiri?"


"Eh, tidak. Aku hanya mencoba melemaskan otot-otot di sekitar wajahku. Agar tidak kaku." Fatim hanya manggut-manggut saja. Lalu menyodorkan sesendok nasi lembut ke mulut Leon.


Saat sedang mendengarkan Leon bicara, Fatim menepuk jidatnya.


"Astaghfirullah. Aku sampai lupa belum menunaikan sholat Maghrib dan Isya'."


"Ya sudah. Nanti sholat disini saja."


"Mukena ku ada di ruangan ku, kak."


Karena laki-laki itu sangat pelan mengunyah. Mungkin benar kalau otot-otot wajahnya masih sakit untuk sekedar mengunyah.


"Fat, kamu ngga capek setiap hari mengerjakan sholat?"


"Cuma lima menit kak. Masa capek sih. Kalau kita olahraga saja butuh waktu lebih dari itu lho setiap harinya." Fatim terkekeh.


"Anggap saja, kalau kita sedang sholat itu sebagai bagian dari olahraga juga. Jadi meskipun capek, tetap dapat sehatnya.


Tahu ngga kak, sholat itu bagus lho buat ibu hamil?


Karena bagi ibu hamil, shalat tidak hanya merangsang tumbuhnya rasa tenang dalam hati. Shalat dapat memberikan efek terapi yang bermanfaat kembali pada diri dan buah hati. Gerakan dalam shalat terbukti memberikan efek luar biasa bagi hamba yang rutin menjalankannya.

__ADS_1


Najwa Ibrahim as-Sa'id 'Ajlan, dokter spesialis masalah wanita dan persalinan di Pusat Kedokteran Riyadh, mengatakan bahwa wanita hamil, bila melakukan gerakan shalat dengan benar, maka membantu sirkulasi darah dalam tubuh. Shalat meminimalisir pemekaran pembuluh darah di betis, yang biasanya terjadi pada sebagian wanita pascamelahirkan.


Takbiratul ihram, disebut sebagai teknik relaksasi pasif, karena terjadi pemusatan perhatian yang ditujukan kepada Allah Swt. Itulah sikap sehat yang sempurna. Manfaatnya antara lain melancarkan peredaran darah serta menstabilkan jantung, paru-paru, pinggang, dan tulang punggung.


Dengan gerakan ruku', tulang belakang berada dalam kondisi baik, corpus vertebrata menjadi lentur, menghindari penyempitan dan pengapuran tulang. Menurut para ahli, gerakan ruku' secara sempurna dapat memperbaiki sistem saraf.


Sujud sempurna bermanfaat memperlancar getah bening yang dipompa ke leher dan ketiak. Saat sujud, posisi jantung berada di atas otak, sehingga darah kaya oksigen mengalir maksimal menuju otak.


Walau gerakan shalat kaya manfaat bagi kesehatan, namun dalam pelaksanaannya tetap harus diniati lillahi ta'ala (karena Allah saja) dan mengharap ridho-Nya. Sebagai hamba, sudah selayaknya kita taat dan berbakti kepada Sang Maha Pemberi Kehidupan.


Walaupun kak Leon bukan seorang muslim, kak Leon juga boleh melakukan gerakan seperti yang ada dalam gerakan sholat. Untuk membantu melancarkan peredaran darah, dan juga untuk melatih otot-ototnya.


Semoga dengan cara seperti itu, kak Leon segera sembuh, dan bisa beraktivitas lagi." Fatim menjelaskan dengan panjang lebar.


"Apa itu artinya kamu menyuruhku agar mengikuti jejak keluarga Wulan untuk menjadi seorang mualaf, Fat?"


"Oh tidak. Semua orang kan memiliki haknya masing-masing untuk memeluk agama. Tidak boleh dan tidak bisa dipaksakan. Lakum dinukum waliyadin. Untukmu agamamu dan untukku agamaku. Tidak boleh ada paksaan dalam memeluk suatu keyakinan.


Tapi, ketika kita ditimpa musibah seperti ini. Alangkah baiknya dijadikan sebagai bahan muhasabah diri. Adakah yang salah dengan tingkah laku, ucapan, perbuatan atau sesuatu yang ada pada diri kita.


Jika kita tidak merasa berbuat buruk, berdo'a saja semoga ini bagian dari rencana Allah untuk menghapus dosa-dosa dan meninggikan derajat, kak Leon. Karena sejatinya manusia itu tak luput dari dosa. Fatim pun pasti memiliki dosa yang tidak aku sadari.


Dan jika kita merasa pernah berbuat buruk, maka anggap saja ini sebagai salah satu bentuk teguran dari Allah. Agar kita memperbaiki diri."


"Kata-kata mu begitu menyejukkan hatiku, Fat. Sampai-sampai aku sudah kenyang duluan sebelum makanannya habis."


"Hah, maafkan aku kak. Kalau begitu ayo dimakan lagi." Fatim kembali mendekatkan sesendok nasi ke arah bibir Leon.

__ADS_1


__ADS_2