Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
194. Makan malam


__ADS_3

"Ayo kita ke dapur." ajak Salman, sembari merengkuh bahu istrinya. Keduanya berjalan beriringan menuju dapur.


"Kamu itu bawa apa, mas?" Wulan penasaran dengan paper bag yang di bawa suaminya.


"Ini susu untuk ibu hamil. Agar kalian semua sehat."


"Hem, terima kasih, mas. Sudah segitu perhatiannya dengan ku."


Tak ragu Wulan mengecup pipi Salman. Dan laki-laki itu pun membalas dengan hal yang sama.


Sesampainya di dapur, Salman mendudukkan Wulan di kursi yang menghadap meja makan. Sementara dirinya mengambil makanan dari microwave dan menghidangkan untuk istrinya.


"Kamu mau susu rasa apa, sayang?" tawar Salman sambil mengeluarkan satu persatu kotak susu dengan berbagai varian rasa di hadapan Wulan.


"Ya ampun, mas. Kamu beliin aku susu sebanyak ini. Sudah seperti orang mau jualan saja." kekeh Wulan, sambil memperhatikan sepuluh kotak susu ibu hamil dengan berbagai merk dan rasa.


"Aku kirim pesan padamu. Tapi tidak kamu balas. Ya sudah, aku beli saja menurut yang paling bagus kandungan gizinya."


"Terima kasih, mas. Aku mau yang rasa kacang hijau dulu saja. Biar nanti kalau lahir, rambutnya hitam lebat seperti punyamu." ucap Wulan sambil terkekeh.


"Segitunya kamu mendambakan aku, sayang. Jadi ge-er nih." kekeh Salman juga.


Ia segera menyeduh susu dengan menggunakan air hangat. Tak berapa lama kemudian, ia meletakkan susu itu di depan istrinya.


Kini keduanya mulai menikmati makan malam bersama.


Salman tersenyum memperhatikan istrinya yang menghabiskan banyak makanan.


"Kamu ke kamar dulu saja, sayang. Aku mau cuci piring dulu." titah Salman pada istrinya.

__ADS_1


"Tidak mau. Aku mau bantuin kamu mencuci piring." Wulan memungut piring kotornya, lalu berjalan mendahului Salman menuju wastafel.


"Siapa itu?" suara bibi mengejutkan keduanya yang tengah mencuci piring.


"Salman, bi." balas Salman sambil menoleh ke arah asisten rumah tangganya. Terlihat wanita sepuh itu masih mengucek matanya, yang belum terbuka sempurna.


"Oh, den Salman dan non Wulan toh. Bibi pikir kucing."


Mereka terkekeh bersama.


"Maklum bi. Busui lapar tengah malam." ucap Salman.


"Hah. Non Wulan hamil, maksudnya?" barulah mata bibi terbuka sempurna. Wulan dan Salman pun mengangguk bersamaan.


"Doain ya bi. Semoga kami selalu sehat. Dan bisa melahirkan dengan selamat." balas Wulan.


"Tentu, tentu. Bibi doakan agar non Wulan dan bayinya selalu sehat. Dilancarkan dan dimudahkan proses persalinannya nanti. Pokoknya doa yang terbaik untuk non Wulan dan bayinya."


"Oh iya, kalian istirahat saja. Biar bibi yang mencuci piringnya." ucap bibi sambil berjalan mendekat ke arah mereka.


"Tidak usah, bi. Ini juga sudah hampir selesai kok. Bibi balik istirahat saja." balas Wulan lagi.


"Beneran, non?" Wulan tersenyum sambil mengangguk.


Setelah semuanya selesai, mereka kembali ke kamar. Wulan terlebih dahulu menggosok gigi, dan mengganti bajunya dengan lingerie.


Salman seketika menelan saliva, ketika melihat Wulan yang baru saja keluar dari toilet dan berpenampilan begitu menggoda mata.


"Sa-sayang, boleh ngga sih. Aku minta jatah makan malam ku." ucap Salman dengan suara parau, sementara pandangannya lekat menatap Wulan.

__ADS_1


"Lhoh, bukan kah kita tadi habis makan malam?" ucap Wulan dengan polosnya.


Ia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dekat suaminya, yang membuat laki-laki itu mulai kegerahan melihatnya auratnya yang tertutup kain tipis bernama lingerie.


"Itu tadi makanan untuk ragaku. Makanan untuk jiwaku belum."


"Apaan sih, maksudnya?" Wulan memandang suaminya sambil mengernyitkan dahi.


"Ya sudah, tidak perlu aku jelaskan. Tunggu, jangan tidur dulu. Aku mau gosok gigi."


Salman berlari kecil menuju toilet yang ada dalam kamarnya. Setelah setengah jam akhirnya ia keluar.


Jiwa kelaki-lakiannya semakin menggelora, ketika melihat Wulan tidur miring di atas ranjang tempat tidurnya.


Bergegas ia mendekatinya. Senyumnya sedikit memudar, debaran jantungnya perlahan berkurang ketika melihat wanita itu lamat-lamat hampir memejamkan matanya.


"Sayang. Kok tidur sih? Aku menginginkan mu malam ini." bisik Salman lembut di telinga Wulan, lalu memeluknya. Tapi wanita itu tak kunjung bangun.


"Yah, gagal deh." gumam Salman lagi terlihat merana. Wulan yang tak tahan dengan sandiwaranya, akhirnya tergelak. Hingga badannya terguncang


"Sayang, kamu. Pura-pura tidur ya?" ucap salman sambil menatap istrinya.


"Kamu pikir? Aku saja baru bangun, mana bisa tidur lagi?" balas Wulan disela-sela terkekeh.


"Ya ampun. Kamu bule yang paling menggemaskan di bumi ini." ucap Salman sambil menarik hidung mancung istrinya.


"Arghhh... Ampun." pekik Wulan, sambil menjauhkan tangan suaminya.


Tapi usahanya itu tak berhasil. Justru Salman menenggelamkan wajahnya di leher Wulan. Sehingga membuat perempuan itu semakin merasa geli, dan terkekeh keras.

__ADS_1


Beruntung kamar mereka di design kedap suara. Sehingga apa yang mereka lakukan di dalam, tidak akan ada orang yang mendengarnya.


__ADS_2