
Malam Sabtu, keluarga Salman datang ke rumah Wulan untuk menghadiri lamaran resmi. Mereka telah siap membawa seserahan dan mengenakan dress code batik.
Sepanjang perjalanan, mereka saling bercakap-cakap membicarakan pertemuan Salman dan Wulan yang cukup unik.
Sedangkan Salman tidak terlalu menanggapi. Dan justru tengah berkomat-kamit mengucapkan istighfar untuk menghilangkan kegugupannya.
Google Map berhenti di sebuah rumah megah yang memiliki design khas Eropa itu. Jantung Salman seketika berdegup kencang.
"Tidak usah khawatir sayang. Serahkan semuanya pada Allah." ucap mama Laura sambil menggenggam tangan putranya. Ia tahu jika putranya tengah cemas.
Mungkin saja bayangan masa lalu saat melamar Aisyah kembali menghampirinya. Salman menghirup nafas dalam-dalam lalu menganggukkan kepalanya.
Terlihat pintu sudah di buka lebar. Dan belum sempat mereka mengucapkan salam, Daddy dan mommy sudah menghampiri mereka.
Mereka pun saling mengucapkan salam dan berpelukan. Senyum sumringah terpancar di wajah mereka.
__ADS_1
Setelah saling mengurai pelukan, mommy Melati mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu. Setelah semua duduk, Daddy mengajak mereka bercakap-cakap. Sedangkan mommy Melati naik ke lantai atas hendak memanggil Wulan.
"Wulan." ucap mommy sambil mengetuk pintu kamar putrinya.
Sedangkan di dalam kamar, Wulan tengah mematut di depan cermin. Mendengar suara mommy yang di iringi ketukan pintu, bergegas ia membukakan pintu.
Mommy melihat penampilan Wulan dari atas sampai ke bawah, lalu kembali mendongak ke atas.
Kali ini Wulan mengenakan gamis berwarna peach, yang di padukan dengan jilbab segiempat yang lebar dan berwarna senada.
Wajahnya juga ia poles tipis dengan make up natural. Alasnya pun hanya mengenakan flat shoes. Namun semua itu mampu membuat Wulan tampak semakin cantik memukau.
"Mommy bisa saja." balas Wulan sambil tersenyum tipis.
"Keluarga Salman sudah datang, kamu bantuin siapkan cemilan untuk mereka ya."
__ADS_1
Wulan mengangguk patuh, lalu keduanya berjalan menuju dapur.
"Wulan, sebaiknya kamu bawa cemilannya saja. Mommy takut kalau kamu yang pegang minumannya, malah kamu jatuhin. Tangan mu saja gemetaran begitu." ucap mommy ketika terdengar suara denting gelas, dan ia melihat tangan Wulan bergetar hebat ketika membawa nampan yang berisi gelas itu.
"Iya mom." Wulan seketika merasa lega ketika nampan gelasnya berpindah posisi. Ia juga tidak tahu kenapa, bisa gemetar hebat seperti itu. Padahal saat mendekati Salman, ia tampak percaya diri dan tangannya tidak bergetar sampai seperti itu.
"Ini dia yang ditunggu-tunggu." kekeh Marquez ketika melihat Wulan berjalan sambil membawa nampan cemilan. Semua menoleh ke arahnya, sehingga membuatnya semakin gugup.
Dan akhirnya ia benar-benar tidak bisa menguasai rasa gugupnya. Sehingga nampan yang ia bawa hampir terjatuh.
Semua menatap penuh dengan rasa deg-degan, takut jika semuanya pecah dan melukai tangan atau kaki. Beruntung Salman sigap segera menangkap nampan itu.
Wulan membulatkan matanya ketika melakukan kecerobohan itu. Kini tangan keduanya saling bersentuhan dan jarak keduanya pun sangat dekat.
Mata keduanya saling beradu pandang, yang mengisyaratkan sebuah cinta yang dalam hadir di hati keduanya. Namun tak bisa untuk sekedar dikatakan.
__ADS_1
Semuanya berdehem menyaksikan hal itu. Yang akhirnya menyadarkan keduanya. Salman meletakkan nampan itu di meja, lalu kembali duduk. Begitu pula Wulan yang langsung duduk. Rasanya kakinya tak kuat untuk menahan beban tubuhnya.
"Sebentar lagi kalian akan berduaan lho. Kenapa malah jadi gemetar dan kaku seperti itu?" ucap grandpa. Tapi kedua insan itu hanya diam menunduk sambil menyunggingkan senyum tipis.