Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
102. Sebuah bukti


__ADS_3

Tanpa terasa sudah hampir 5 bulan Wulan menganut agama Islam. Ia rutin mengerjakan kewajibannya melaksanakan sholat. Dan di sela-sela waktunya ia menambah dengan sholat Sunnah tahajud atau Dhuha.


Tapi setiap hari Minggu ia juga berangkat ke tempat ibadah lain, demi menjaga perasaan anggota keluarganya. Meskipun ia sudah menganut pemahaman lain.


Mungkin sebagian orang akan menganggapnya tidak berpegang teguh pada keyakinannya, tapi ia tidak terlalu ambil pusing mengenai hal itu. Karena yang menjalani Wulan sendiri.


Selagi masih bisa menutupi jati dirinya, kenapa tidak? Toh semua Tuhan yang akan menilainya sendiri.


Malam itu Wulan terbangun. Seperti biasa, jika ia terbangun tengah malam, maka ia akan melaksanakan sholat tahajud.


Setelah berwudhu ia menggelar sajadah nya menghadap kiblat. Lalu melaksanakan dua rekaat ibadah Sunnah itu. Ia bermunajat dengan khusu'.


Dan tanpa ia sadari, seseorang tengah memperhatikan apa yang ia lakukan dengan serius. Ialah Leon.


Pemuda itu merasakan hawa yang begitu panas. Jadi membuka jendelanya. Dan saat membuka jendela ia melihat Wulan yang tengah melakukan gerakan sholat. Karena jendela Wulan juga dalam keadaan terbuka.


"Apa yang tengah Wulan lakukan?" gumamnya dengan raut wajah yang serius.

__ADS_1


Ia memperhatikan Wulan dari awal sampai akhir. Lalu segera menutup tirai jendelanya, agar Wulan tidak curiga padanya.


"Aku harus menyelidiki semua ini." yakin Leon dalam hati. Ia pun beringsut naik ke tempat tidurnya. Sejak melihat hal itu, ia menjadi susah tidur.


Berbeda dengan Wulan. Setelah melaksanakan sholat tahajud, ia kembali terlelap tidur. Dan ketika keesokan harinya bangun, dalam keadaan yang segar bugar.


Malam-malam berikutnya, Leon melakukan pengintaian hingga rela memasang alarm agar bisa bangun tengah malam.


Walaupun mengantuk, ia tetap membuka matanya lalu duduk di pinggir jendela sambil melihat Wulan melakukan aksinya.


Dan benar saja, setelah sekian menit berlalu, di saat kepalanya tertunduk mulai tertidur, ia melihat sekelebat bayangan Wulan yang tengah memakai mukena.


"Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus melakukan sesuatu."


Leon segera mengabadikan apa yang dilakukan Wulan dalam rekaman handphonenya.


"Dengan video ini pasti kamu tidak bisa mengelak." Leon tersenyum sinis.

__ADS_1


Pada pagi harinya, Wulan berangkat ke kantor seorang diri. Karena grandpa sudah melepas seluruh tanggungjawab padanya.


Dan di saat itulah momen terbaik bagi Leon untuk mengungkapkan semuanya pada grandpa dan grandma.


"Pagi grandpa. Pagi grandma." seru Leon pada pasangan sepuh yang masih berdiri di ambang pintu.


"Leon. Kenapa kamu tidak segera berangkat kerja?" grandma heran dengan sikap pemuda dihadapannya itu, yang terlihat kurang bertanggung jawab.


Berbeda dengan cucunya. Walaupun ia seorang wanita, ia cenderung lebih bertanggung jawab dalam memimpin sebuah perusahaan.


"Ayo kita masuk dulu grandpa, grandma. Leon mau menunjukkan sesuatu yang penting." bisik Leon.


"Hah, sepagi ini kamu mau mengajak kita bergosip?" grandma setengah tak percaya.


Leon pun kembali meyakinkan pasangan sepuh itu, hingga akhirnya mereka memasuki ruang tamu. Untuk mempersilahkan Leon mengatakan berita yang katanya penting itu.


Tak ingin membuang waktu, dan ingin segera mengetahui reaksi apa yang akan dilakukan pasangan sepuh di hadapannya jika sampai mengetahui kelakuan cucu satu-satunya, Leon segera merogoh handphone dari saku celananya. Lalu memperlihatkan video Wulan.

__ADS_1


Dengan malas, grandpa dan grandma melihat video itu. Dan keduanya cukup terkejut hingga merubah posisi duduknya. Yang awalnya santai kini berubah jadi serius ketika melihat video itu.


"Wulan." desis mereka bersamaan. Sementara Leon tampak menyunggingkan senyum sinis.


__ADS_2