Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
275. Landing


__ADS_3

Haji Dahlan dan papa Andre berpesan pada Fatih, untuk memajukan pondoknya. Yang sudah dibangun selama ini dengan penuh kerja keras.


Fatih tak bisa menjanjikan apa-apa, selain akan mengusahakan dengan sebaik-baiknya dan semampu yang ia bisa.


Tak beda jauh dengan keluarga Salman dan Aisyah. Keluarga Fatim dan Leon juga berpesan pada keduanya, untuk memajukan rumah sakit dan perusahaan yang sudah dibangun selama ini.


"In shaa Allah Fatim akan melihat-lihat kondisi rumah sakit, pa." Ucap Fatim pada papanya.


"Kalau Abidah sudah besar nanti, Leon akan ke Belanda pa. Kalau dalam Minggu ini, tentu Leon tidak bisa. Nih, Abidah saja masih kecil banget." Balas Leon pada papanya, sambil menunjukkan putrinya, yang ada dalam gendongannya.


"Hem, papa tahu itu. Ingat ya Leon, kamu sudah besar. Kamu itu harus menjadi seorang laki-laki yang bertanggungjawab pada istri dan anak-anakmu."


"Iya, papa. Leon tahu akan hal itu. Lagian kenapa sih? Mau berangkat umrah seminggu saja, sudah titip pesan banyak sekali. Berasa mau ditinggal jauh saja."


"Ke Mekkah kan jauh, Leon. Memang kamu pikir, jarak Indo ke Mekkah seperti jarak tempat tidur mu dan toilet?" Ucap papa Marco, yang membuat mereka tergelak.


"Ya sudah, buruan masuk pesawat sana. Nanti keburu telat lho." Ucap Leon setengah mengusir.


**


Setelah puas bercakap-cakap dan berpamitan pada anak cucu, rombongan pasangan sepuh itu berjalan melewati garbarata pesawat.

__ADS_1


Sengaja mereka mengikuti jalur umrah pribadi, jadi yang naik pesawat adalah rombongannya saja.


Saat berada di pintu, mereka melambaikan tangan dan menyunggingkan senyum, pada anak-anaknya yang ada di bawah sana. Lalu mereka duduk dan memasang set belt nya.


Mereka yang ada di dalam pesawat sejenak menghirup nafas dalam-dalam, lalu mengucapkan doa naik kendaraan. Dan tak lama kemudian, pesawat mulai mengudara.


Keluarga mereka yang menyaksikan dari bawah, melambaikan tangan. Meskipun keluarganya yang ada di dalam pesawat tidak bisa melihatnya.


Setelah puas melihat pesawat itu mengudara, rombongan keluarga kecil itu memasuki mobil masing-masing dan pulang.


**


Sementara di dalam badan pesawat, rombongan umrah itu senantiasa membasahi bibir mereka dengan kalimat toyyibah. Canda dan tawa yang biasa terdengar, tidak ada sama sekali. Niat mereka khusus memenuhi panggilan Allah semata. Bukan untuk bersenang-senang.


Lisan mereka tak henti-hentinya mengucap syukur, karena sudah diberi kemudahan oleh Allah dalam perjalanan ke tanah suci.


Setelah menginjakkan kaki di bandara internasional Mekkah, mereka sujud syukur cukup lama. Lalu seorang tour guide menginterupsi, sehingga mereka bangun dari sujudnya.


Tour guide itu mengajak rombongan umrah haji Dahlan, untuk berjalan menuju ke arah bus terparkir. Satu persatu mereka masuk, dan duduk dengan nyaman di dalam bus. Yang akan mengantarkan mereka menuju ke penginapan.


**

__ADS_1


Setelah sampai di hotel tempat menginap, mereka memasuki kamar masing-masing. Rombongan itu berpisah menuju ke dua kamar, yang terletak bersebelahan. Satu untuk rombongan laki-laki dan satu untuk rombongan perempuan.


Sebagai orang kaya, sebenarnya mereka mampu menyewa satu kamar untuk satu orang. Tapi tidak mereka lakukan, karena ingin merasakan keseruan tidur bersama seperti muda-mudi.


Setelah memasuki kamar masing-masing, mereka yang tidak merasa capek, segera memasukkan barang-barangnya ke dalam almari yang sudah disediakan, di dekat tempat tidur mereka.


Selesai menyusun barang, mereka berwudhu, lalu berjalan bersama menuju Ka'bah. Untuk mengikuti sholat Dhuhur berjamaah.


Karena waktu sholat Dhuhur masih satu jam lagi, mereka duduk dihadapan Ka'bah sambil berdzikir ataupun beristighfar.


Tidak ada dari mereka yang bercakap-cakap. Karena dari awal mereka sudah berniat, melaksanakan ibadah umrah untuk meneladani Rasulullah shalallahu alaihi wa salam. Bukan untuk ajang pamer atau yang lainnya.


Setelah dikumandangkannya iqomah, mereka mengikuti sholat Dhuhur berjama'ah. Rombongan umrah itu hanyut dalam untaian ayat-ayat suci Al-Qur'an yang terdengar sangat merdu.


Walaupun ayat-ayatnya yang dibaca dipajang, sama sekali tidak membuat mereka capek atau kelelahan. Justru badan mereka terasa begitu segar dan bugar.


Setelah mengikuti sholat Dhuhur, sebenarnya mereka ingin kembali berdiam diri di dekat Ka'bah, sambil berdzikir.


Tapi tour guide menyarankan mereka untuk makan siang terlebih dahulu. Akhirnya rombongan itupun mengikuti perintahnya. Karena semua juga demi kebaikan untuk bersama.


Jika badan sehat, otomatis menjalankan ibadah pun terasa mudah dan tidak lemas.

__ADS_1


Setelah sampai di restoran tempat mereka makan siang, rombongan itu duduk sembari bercakap-cakap. Tidaklah banyak, karena hal itu hanya dijadikan sebagai selingan dalam menunggu makan siang tersaji di hadapan mereka.


Setelah hidangan makan siang tersaji di atas meja, mereka menyantapnya dengan hati-hati dan penuh rasa syukur atas nikmat yang diberikan pada diri masing-masing.


__ADS_2