
Di hari Minggu, seperti biasa Leon akan mengajak keluarga grandpa untuk berangkat ibadah bersama. Tanpa permisi ia masuk ke dalam rumah yang ada disampingnya.
"Wulan, grandpa, grandma, om Marquez, Tante Melati, kalian sudah siap belum? Ayo kita berangkat ibadah bersama." seru Leon sambil mengecek satu persatu ruangan.
"Leon, kenapa pagi-pagi kamu sudah berteriak? Berisik tahu." sungut Wulan kesal pada temannya itu.
"Lhoh, kalian kenapa belum pada siap?" Leon terkejut ketika melihat para wanita sedang sibuk di dapur, memasak.
"Memangnya mau kemana?" grandma justru bertanya balik pada pemuda yang tampak linglung itu.
"Ini kan hari Minggu. Seperti biasa kita berangkat ibadah bersama." Leon mencoba mengingatkan mereka.
"Maaf Leon, mulai detik ini kami tidak bisa beribadah dengan mu. Karena jalan kita sudah beda. Aku harap kamu mengerti dengan keputusan yang kami ambil ini. Tapi meskipun begitu, kita tetap akan menjadi tetangga yang baik, saling tolong menolong. Bukan begitu grandma?"
"Hem, betul sekali sayang." grandma menimpali ucapan cucunya.
"Tapi... kenapa kalian bisa berubah secepat itu?" Leon masih sulit percaya dengan fakta yang ada.
__ADS_1
"Semua yang ada di muka bumi pergerakannya telah di atur Allah. Kamu tidak usah heran seperti itu. Sekarang sebaiknya kamu cepat berangkat, nanti bisa telat kalau kelamaan berdiri di situ." ucap Wulan mengingatkan.
Dengan berat hati Leon keluar dari arena memasak itu. Sepanjang perjalanan ia terus terdiam dengan pikiran yang berkelana. Bahkan ketika beribadah, ia juga tidak konsentrasi.
"Leon, kami tahu Wulan anak yang baik. Tapi sepertinya kamu tidak berjodoh dengannya. Jangan terus memikirkannya, cobalah move on." bisik mamanya ketika telah selesai beribadah.
"Ma, Wulan itu teman masa kecil Leon, cinta pertama ku juga. Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya?" Leon mendengus kesal.
"Ingat, segala sesuatu yang terlalu dipaksakan hasilnya tidak baik. Cobalah untuk ikhlas, siapa tahu nanti dapat jodoh yang lebih baik lagi." imbuh papanya.
Leon mulai jengah menanggapi ucapan kedua orang tuanya. Sesampainya di kamar, ia bergegas menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Apa perlu aku mengikuti jejaknya, agar bisa bersatu dengannya? Ah sepertinya itu ide yang tepat."
Bergegas ia keluar kamar, lalu melompat balkon menuju kamar Wulan. Ia menggedor pintu kamarnya.
"Leon." pekik gadis itu karena terkejut melihat Leon yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?" Wulan membuka pintu kamarnya.
"Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting padamu."
"Katakan lah cepat. Aku tidak ingin kita berduaan dalam waktu yang lama."
Leon terkekeh mendengar ucapan teman masa kecilnya itu. Padahal dulu keduanya sering menghabiskan waktu bersama. Sekarang bisa-bisanya Wulan berkata seperti itu.
"Wulan." Leon menjeda kalimatnya sejenak, lalu menggenggam tangan Wulan. Gadis itu berusaha melepaskan, namun sekuat tenaga Leon menahannya.
"Aku juga ingin pindah keyakinan sama sepertimu. Asalkan kamu mau menjadi pacar ku."
Wulan terperanjat mendengar ucapan Leon.
"Leon. Kamu sudah besar, soal keyakinan jangan buat mainan. Lagi pula, semisal kamu pindah haluan, aku juga tetap tidak mau menerimamu menjadi pacar ku." tandas Wulan.
Apapun yang terjadi ia memang memegang teguh prinsipnya, tidak boleh ada kata cinta pada teman. Setelah itu, ia segera mendorong Leon keluar.
__ADS_1
"Jangan menggadaikan keyakinan mu demi rasa cintamu padaku. Aku takut kamu menyesal. Berpikirlah bijak. Cepat pulang sana."