
Mama Margareth mengambil handphone Leon yang terlepas dari genggamannya. Lalu sejenak menatap handphone itu dan beralih menatap Leon.
"Kamu kenapa membaca seperti ini, Leon? Apa kamu benar-benar menyukai Fatim, dan ingin mengikuti jejaknya?"
"Ma-maafkan, Leon ma. Semakin kesini Leon semakin tak bisa menahan rasa ingin tahu pada pemahaman Salman dan Fatim. Untaian kata-kata nya membuat hati Leon tenang ma."
"Tidak apa-apa. Lakukan saja jika memang itu bisa membuat mu menjadi lebih baik." papa Marco yang sudah mendengar percakapan itu ikut menambahi.
"Sungguh, pa?" Leon dan mama serempak bertanya dengan wajah yang harap-harap cemas.
Marco menganggukkan kepalanya yakin sebagai sebuah jawaban.
"Leon, yang perlu kamu ingat. Ketika kamu mempelajari sebuah pemahaman itu, bukan karena kamu menyukai seseorang yang menganut pemahaman tersebut. Tapi kamu melakukannya karena memang berniat tulus dalam hati." tegas papa Marco.
"Awalnya Leon hanya takjub dengan setiap ucapan yang keluar dari mulut mereka. Tapi setelah itu, Leon semakin menyadari, jika di dalam kitab mereka ada sebuah kebenaran. Leon juga belum pernah mengatakan perasaan pada Fatim."
"Hem, bagus itu. Bagaimana kalau kita belajar bersama? Agar bisa saling mengingatkan jika ada salah." tawar Marco
"Serius, pa?" tanya Leon dan mama lagi secara bersamaan.
"Iya. Mana pernah papa berbohong. Papa akan selalu mengusahakan yang terbaik untuk kalian, agar kalian bahagia. Sudah setua ini papa jungkir balik mengurus perusahaan, tapi kamu tetap santai dan berbuat sesuka hati. Tapi papa cuma diam saja kan?"
Leon meringis menyadari kesalahannya.
"Maafkan Leon ya, pa. Harusnya Leon itu seperti Salman yang ikut membantu usaha keluarganya."
__ADS_1
"Nah, itu tahu." balas Marco, dan semua terkekeh bersama.
Terdengar suara ketukan pintu dan diiringi suara pintu yang terbuka. Muncul Salman dan Wulan yang menyunggingkan senyum.
"Selamat pagi semua." sapa Salman dan Wulan pada keluarga Leon. Mereka saling berjabat tangan dan berpelukan.
"Selamat pagi juga, Wulan. Kamu semakin cantik saja." Mama Margaretha menarik gemas hidung Wulan.
"Hihihi, terima kasih, Tan. Tante Margareth juga cantik kok. Oh iya, ini kemarin kami belikan vitamin tambahan untuk Leon. Sebenarnya mau kami antar kemarin, tapi karena hari sudah larut, makanya baru bisa kami antar sekarang, Tan." jelas Wulan panjang lebar.
"Oh, terima kasih sayang." sekali lagi Margareth memeluk Wulan.
"Salman, terima kasih ya selalu menjenguk ku. Padahal aku pernah membencimu."
Leon memang pernah mengucapkan minta maaf pada Salman, yakni saat ia menikah, saat pertama kali dijenguk, dan sekarang kembali mengucapkan lagi.
"Iya-iya. Itu tandanya aku benar-benar menyesal." seperti biasa Leon tak mau kalah.
Mereka kembali bercakap-cakap. Sampai akhirnya seorang dokter datang untuk memeriksa kondisi Leon.
"Kondisi keseluruhannya sudah bagus. Hari ini sudah kami ijinkan pulang." ucap dokter setelah melakukan serangkaian pemeriksaan.
Serempak mereka mengucap syukur sesuai dengan pemahamannya. Leon meraih handphonenya dan segera mengabari Fatim. Entah kenapa yang ada di kepalanya sekarang adalah gadis itu melulu.
"Pasti mau mengabari Fatim." celoteh mama Margareth saat melihat Leon mengetik sesuatu.
__ADS_1
"Oh, jadi benar dugaan Wulan. Kalau Leon itu menyukai Fatim." ucap Wulan, dan mama Margareth menganggukkan kepalanya.
"Itu hanya rasa suka terhadap sesama teman, Wulan." Leon sengaja berdalih.
"Fatim adalah gadis yang baik. Dan aku juga menyukainya kok, Leon." ucap Wulan lagi, memberi tanggapan soal wanita yang diam-diam menaruh rasa suka pada suaminya dulu kala.
Saat mereka tengah membicarakan Fatim, orang yang sedang dibicarakan itu akhirnya muncul dari balik pintu, sembari mengucap salam.
"Tuh, orangnya datang." Wulan menunjuk Fatim. Gadis itu balas menatap Wulan dengan raut wajah sedikit bingung.
"Ada apa?" tanyanya kebingungan.
"Selamat. Kamu adalah orang yang berhasil merubah Leon berhenti mencintai ku." tangan Wulan terulur di depan Fatim, yang masih kebingungan.
"Ma-maksudnya apa sih. Aku tidak mengerti." Fatim menyunggingkan senyum tipis.
"Bukankah kalian saling menyukai?" tuduh Wulan.
"Ti-tidak. Maksud ku, aku memperlakukan kak Leon sama seperti aku memperlakukan yang lain." balas Fatim dengan sedikit terbata, dan wajah yang bersemu merah.
Sebenarnya Fatim hanya merendah. Karena apa yang terjadi sebaliknya, adalah dia begitu mengkhawatirkan keadaan Leon. Dan ketika mendapat kabar bahwa laki-laki itu sudah diijinkan pulang, ia sangat senang.
Kedua orang tua Leon bisa melihat rona merah di wajah Fatim. Keduanya tahu jika apa yang diucapkan oleh gadis itu berbanding terbalik dengan isi hatinya.
Sementara Leon sedikit mengerucutkan bibirnya karena Fatim berkata seperti itu. Ibarat kata, setelah dilayangkan tinggi, kini dijatuhkan ke jurang terdalam. Padahal Leon bisa merasakan jika perhatian Fatim padanya selama sakit tidaklah main-main.
__ADS_1