Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
104. Berprasangka baik


__ADS_3

Grandpa, grandma dan Wulan sejenak saling beradu pandang, tentunya dengan jantung yang berdetak kencang.


Wulan tahu suatu saat hal ini pasti akan terjadi. Siap tidak siap ia harus menghadapi nya. Ia yakin, Tuhannya akan memberikan jalan keluar dalam setiap masalahnya.


Ia menghirup nafas dalam-dalam sebelum akhirnya mendekat ke arah pasangan sepuh itu.


"Sejak kapan kamu menyimpan ini Wulan?" tanya grandpa sembari memperlihatkan Al Qur'an ditangannya.


"Sekitar 5 bulan yang lalu grandpa." balas Wulan mantap. Ia siap jika harus dimarahi oleh pasangan sepuh dihadapannya.


"Maafkan Wulan jika mungkin hal ini akan membuat grandpa dan grandma marah pada Wulan. Tapi bukan kah setiap manusia itu memiliki hak penuh dalam menentukan suatu pilihan? Terlebih itu menyangkut soal keyakinan." Wulan berkata dengan penuh ketenangan, bahkan ia sampai menatap keduanya dengan intens.


"Kenapa kamu tidak memberitahu kami waktu itu? Menyimpan perihal besar dalam kurun waktu 5 bulan, bukanlah waktu yang singkat." tanya grandpa lagi.


"Waktu itu, Wulan benar-benar belum siap pa, ma. Maafkan Wulan."


"Jika kami tidak menerobos kamar mu, mungkin sampai saat ini kami tidak akan pernah tahu rahasia yang tengah kamu sembunyikan Wulan." grandma yang sejak tadi diam akhirnya ikut bersuara.


"Grandma, mohon maafkan Wulan." untuk yang kesekian kalinya Wulan meminta maaf pada keduanya, sampai ia menggenggam tangan keriput milik grandma.

__ADS_1


Wulan yang semakin diliputi rasa bersalah, kini tertunduk.


"Jika sejak dulu kamu mengatakan perihal ini pada grandpa, maka grandpa pun akan mengikuti jalan yang kamu pilih ini Wulan."


Seketika Wulan mendongakkan kepalanya menatap pasangan sepuh itu bergantian. Seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Ma_maksud grandpa?" bahkan suara Wulan seakan tercekat di kerongkongan, saat mengatakan hal itu.


"Grandpa sama seperti mu, ingin ikut mempelajari kitab ini."


"Be_benar kah apa yang grandpa katakan?"


Benar apa yang Tuhan katakan, Allah tidak akan menguji mu di luar batas kemampuan mu.


"Apa kamu hanya akan memeluk grandpa mu seorang Wulan?" tanya grandma yang membuat Wulan seketika teringat dengan kehadiran wanita di samping grandpanya.


Ia pun lantas mengurai pelukan dengan grandpanya, lalu beralih menatap grandma dan tak lama kemudian memeluknya.


"Grandma juga sama seperti grandpa Wulan, ingin ikut mempelajari kitab itu. Mau kah kamu mengajari kami?" ucap grandma sembari mengusap rambut panjang Wulan.

__ADS_1


Gadis itu mengurai pelukannya dan mengangguk pada grandma.


"In shaa Allah Wulan akan membantu grandma dan grandpa. Wulan memiliki seorang teman mualaf. Jika berkenan Wulan bisa mempertemukan dengan teman ku itu."


"Kami setuju. Lebih cepat lebih baik." ucap grandpa.


Setelahnya mereka bertiga saling berpelukan.


Grandpa dan grandma tak menyangka jika akhirnya lewat perantara cucunya, keduanya bisa menemukan cahaya baru.


Hatinya di beri kelapangan dalam menerima sesuatu yang dulunya di anggap bertentangan.


Air mata kembali menetes melewati pipi mulus Wulan. Ia benar-benar tak menyangka Allah begitu baik padanya.


Ia menganggap baru melakukan kebaikan yang seujung kuku, tapi Allah telah membalasnya dengan hal yang melebihi itu.


Memang benar, kita tidak boleh berprasangka buruk mengenai hal yang belum tentu terjadi.


Teruslah berprasangka baik pada Tuhan mu, niscaya Allah akan mengikuti prasangka mu.

__ADS_1


__ADS_2