Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
55. Nasehat Aisyah


__ADS_3

Perjalanan yang membutuhkan waktu sekitar 15 jam membuat Wulan merasa bosan. Tapi berbeda dengan Leon, ia sangat senang karena ada waktu yang lebih banyak untuknya bisa berduaan dengan pujaan hatinya.


Ia pun mengajak gadis itu berbicara. Namun, Wulan hanya menanggapi secukupnya. Ia lebih suka menatap pekatnya awan malam dari balik kaca jendela. Sampai akhirnya ia tertidur. Leon yang melihat hal itu pun ikut tertidur.


Beberapa jam kemudian, Wulan terbangun. Ia menggeliat dan menoleh ke kiri kanan. Menyadari jika masih berada dalam badan pesawat. Leon pun masih tertidur pulas.


Sedangkan ia ingin ke toilet, karena ingin pipis. Akhirnya, ia melangkah di depan Leon pelan. Agar tidak membuatnya terbangun.


Di toilet, tak hanya pipis saja, tapi Wulan juga membasuh wajahnya. Air dingin itu menciptakan sensasi kesegaran tersendiri. Tidak hanya di wajah, tapi juga di hatinya.


Setelah sekian menit berlalu, ia kembali ke tempat duduknya. Leon pun masih dalam keadaan yang sama. Dan justru terlihat ia bertambah lelap. Dengan langkah pelan, Wulan kembali melewati depan lelaki itu. Dan akhirnya ia bisa kembali ke tempat duduknya.


Karena tak bisa tidur lagi, ia menatap keluar jendela. Pemandangan yang sama masih tersaji di depan mata. Yakni kegelapan malam.

__ADS_1


Pikiran Wulan pun kembali ke berkelana. Mulai dari masa kecilnya yang ia habiskan di Belanda dengan penuh derai tawa. Tidak hanya dengan keluarganya saja, tapi juga dengan keluarga Leon.


Keluarga Leon memang menganggap Wulan sudah seperti anaknya sendiri, karena keduanya memang seumuran, dan sering bermain bersama.


Dan saat remaja, Wulan sekeluarga harus ke Indo, karena nenek dan kakeknya sama-sama sakit. Mommy ingin merawat kedua orang tuanya, sampai akhirnya ajal menjemput mereka.


Suasana yang jauh berbeda antara Indo dan Belanda membuat Wulan menyukai kedua tempat itu. Sehingga ia selalu berandai-andai agar bisa di dua tempat dalam waktu yang bersamaan.


Namun, rupanya takdir membawa Wulan untuk tinggal menetap di Indo, karena ia sudah terlanjur memiliki teman-teman yang baik dan unik seperti Aisyah dan lainnya.


Keduanya selalu bersaing dalam memperebutkan nilai tertinggi. Sehingga hal itu mendorongnya untuk lebih banyak mengetahui tentang Aisyah. Dan akhirnya keduanya justru berteman dengan baik.


Tiba-tiba Wulan teringat akan sahabatnya itu. Ia lupa belum memberitahu tentang kepergiannya.

__ADS_1


'Maafkan aku teman-teman, yang tak sengaja belum mengabari kalian tentang kepergian ku. Jika nanti sudah sampai sana, aku akan mengabari kalian. Sebenarnya aku juga tak ingin jauh dari kalian. Tapi, mau bagaimana lagi. Mungkin ini adalah jalan yang terbaik bagi ku. Demi menyelamatkan keyakinan ku. Demi membuat kedua orang tua ku bahagia. Dan aku tidak di cap sebagai anak yang durhaka.' batinnya.


Setelah pikirannya bercabang kesana-kemari, akhirnya Wulan kembali memejamkan matanya.


Rasanya tak kuat untuk mengingat segala momen manis dan pahit yang ia alami di Indo. Termasuk soal pertemuan singkatnya dengan Salman yang begitu membekas. Bahkan sebelumnya ia sampai menitikkan air mata. Buru-buru ia pun menghapus air matanya.


'Semangat Wulan! Jangan cengeng!' batinnya menyemangati diri sendiri.


Ia berusaha tersenyum sebelum tidur. Berharap senyumnya terbawa sampai alam mimpi. Seperti yang pernah ia dengar selama ini dari mulut Aisyah.


'Jangan pernah sekali pun menyimpan dendam dan amarah ketika hendak tidur. Karena itu akan mempengaruhi alam bawah sadar mu. Dan membentuk perilaku negatif mu.


Hilangkan lah segala beban yang menumpuk di pikiran dan hatimu sebelum tidur. Agar hatimu tenang dan damai.

__ADS_1


Tersenyum lah, karena senyuman akan membasuh luka mu.'


__ADS_2