
Pada malam hari, Marquez menjemput keluarga opa Atmaja di hotel. Karena grandpa Louis mengundang mereka untuk makan malam bersama.
Opa Atmaja tidak dapat menolak, karena grandpa Louis terus memaksa. Katanya sebagai tanda pertemanan.
Salman berdandan serapi mungkin. Hatinya terasa begitu bersemangat untuk menghadiri acara itu.
"Wow, kamu keren sekali sayang." ucap mama saat melihat Salman yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Mama bisa saja. Salman keren juga sudah sejak dulu ma." Keduanya pun lantas tertawa bersamaan.
"Ayo sayang, Marquez sudah menunggu kita di lobby." ucap opa Atmaja pada Laura.
Mereka pun berjalan beriringan menuju lift. Dan sesampainya di lobby, terlihat Marquez tengah duduk di kursi tunggu. Mereka pun segera menghampiri lelaki itu.
"Assalamu'alaikum." ucap keluarga opa Atmaja. Marquez mendongak sembari menjawab salam. Dan mereka saling berjabat tangan.
"Grandpa sudah tidak sabar menunggu kedatangan kalian. Ayo segera masuk mobil." ajak Marquez sambil mempersilahkan mereka untuk jalan duluan.
Sepanjang perjalanan, tampak mereka tengah bercakap-cakap, membicarakan tentang banyak hal.
"Sudah sampai." ucap Marquez ketika mobil memasuki pelataran rumah. Jantung Salman mendadak berdegub dengan kencang.
__ADS_1
'Astaghfirullah, Kenapa sekencang ini detaknya?' batin Salman sambil memegang dadanya.
Ia menghirup nafas panjang untuk menetralisir rasa yang tak menentu itu.
"Assalamu'alaikum." ucap mereka saat pintu ruang tamu di buka oleh Marquez.
"Wa'alaikumussalam." teriak Wulan, mommy dan grandma bersamaan.
Mommy dan grandma segera meninggalkan meja dapur, lalu berjalan ke depan untuk menyambut tamunya. Sedangkan Wulan masih berdiam sementara waktu.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Wulan. Gadis itu menekan kuat dadanya karena jantungnya terus berdetak kencang.
'Ya Allah, kenapa rasa ini kembali hadir? Tolong hilangkan jika memang dia itu bukan jodohku.' batin Wulan. Ia pun menyusul ke ruang tamu.
Wulan pun mendekati mereka, lalu mengulurkan tangan pada mama Laura dan kedua Omanya Salman.
Salman memperhatikan Wulan yang tampak malu-malu itu. Padahal dulu ia adalah seorang gadis yang bar-bar dihadapannya.
"Ayo kita segera ke ruang makan, semua sudah disiapkan oleh cucu cantik ku." ucap grandpa sambil terkekeh.
Ia tahu jika cucunya menyukai Salman. Dalam hati ia juga suka pada pemuda itu, dan ingin keduanya bersatu. Apalagi tak ada dinding pembatas antara mereka.
__ADS_1
Kini mereka mengelilingi meja makan yang telah terhidang berbagai jenis makanan yang lezat dan menggoda. Mulai dari menu Indo dan Belanda.
"Semua makanan ini halal, jangan ragu-ragu untuk menghabiskannya." ucap grandpa.
Mereka pun mulai mengambil jenis makanan yang disukainya, lalu mulai melahap.
Sesekali Salman mencuri pandang ke arah Wulan yang duduk di antara mommy dan grandmanya.
"Ehem...Ehem" Marquez sengaja berdehem keras melihat Salman yang ketahuan mencuri pandang ke arah putrinya.
"Tenggorokan mu sakit?" tanya papa Reyhan yang belum menyadari kelakuan putranya.
"Tidak Rey."
"Lalu?"
"Sepertinya ada yang cinta lama bersemi kembali."
Wulan dan Salman tersedak bersamaan mendengar ucapan Marquez yang sedang menahan senyum.
Keduanya segera meneguk minuman yang ada didekatnya hingga habis, lalu menghirup nafas panjang untuk menghilangkan kegugupannya.
__ADS_1
Sedangkan keluarga mereka kini menatap kedua muda-mudi itu sambil berpikir.
"Kalian berdua memangnya punya hubungan apa? Sehingga sampai bisa tersedak bersamaan?" papa Reyhan menoleh pada Salman dan berbisik.