Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
229. Jalan-jalan pagi


__ADS_3

Ibu-ibu muda tengah bercanda tawa untuk menghilangkan stress yang mereka alami, saat status mereka berubah menjadi seorang ibu.


Sebenarnya bukan stress berat seperti yang dialami oleh orang-orang dengan gangguan mental, sampai harus mendapat perawatan intensif. Tapi lebih ke penyesuaian diri terhadap kondisi baru.


Karena bagaimana pun juga, keadaan yang mereka alami sangat jauh berbeda. Antara sebelum dan sudah menikah, atau saat memiliki seorang bayi.


Hal yang sama juga dilakukan oleh bapak-bapak. Biasanya laki-laki cenderung bersikap acuh dan sesuka hati, sebelum menikah.


Tapi, setelah menikah dan memiliki anak, mereka harus merubah sikap dan sifat mereka. Menjadi lebih dewasa, bisa menjadi sosok pemimpin yang baik, untuk dirinya sendiri dan juga istrinya paling tidak.


Cukup lama mereka bercakap-cakap. Hingga samar-samar terdengar suara adzan sholat dhuhur. Merasa tidak enak, karena takut mengganggu istirahat Wulan dan bayinya, mereka pun ijin pulang.


Hanya sekedar bercanda dan tertawa saja, sudah membuat mereka kelelahan. Setelah tamunya pulang, Wulan dan Salman akhirnya beristirahat siang terlebih dulu.


**


Malam harinya, Wulan dan Salman membuka satu persatu kado yang dibawa oleh sanak keluarga dan para tamu undangan, yang menghadiri acara aqiqah kemarin malam.


Kado pertama yang dibuka, adalah dari keluarga inti mereka. Dari kedua orang tua Wulan, lalu dari kedua orang tua Salman.


Mama Laura memberi kado stelan gamis berwarna mocca. Papa Reyhan memberikan satu set perhiasan berlian. Mommy Melati memberi sweater berwarna pink dan sepatu berwarna sama. Daddy Marquez memberi satu perusahaan. Grandpa dan opa Atmaja juga memberi sebuah perusahaan dan satu showroom.

__ADS_1


Wulan dan Salman seketika Tremor. Tak menyangka jika bayi kecilnya mendadak menjadi bayi terkaya. Karena diusianya yang baru satu Minggu, sudah memiliki perusahaan, showroom, dan perhiasan berlian.


"Semoga anak kita kelak mampu mengelola semua warisan dari kakek dan buyutnya dengan baik ya, sayang. Bisa menemukan laki-laki yang tepat untuk membantu mengurus semuanya. Agar semua yang didapatkan bisa lebih bermanfaat."


"Aamiin ya rabbal aalamiin. Tentu aku sebagai mommy, akan selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anak kita, mas."


"Tunggu-tunggu. Kamu bilang tadi anak-anak? Itu tandanya kita akan memiliki anak lebih dari satu kan?" Salman sedikit menyunggingkan senyum.


"Kondisikan pikiranmu. Aku belum selesai nifas. Jika kamu terus berbicara seperti itu, sebaiknya nifas ku ngga usah selesai saja."


"Lhololoh, kalau nifasnya tidak selesai, tidak bisa sholat dong." Kekeh Salman.


"Terserah kamu lah, mas. Mau buka kado yang lainnya lagi. Karena masih banyak sekali yang belum dibuka."


Wulan merentangkannya. Terlihat sebuah dress berwarna kuning yang dihiasi Mote. Ada sepatu berwarna kuning, dan bandana berwarna senada. Ketika melihat nama pengirimnya, adalah dari Oma Rohmah.


Oma Rohmah meskipun tak punya, ia selalu mengusahakan untuk kebahagiaan anak dan cucunya.


Dan masih banyak lagi hadiah-hadiah menarik, yang diberikan untuk baby Maryam. Sampai waktu semalam tak cukup untuk membuka semua kadonya.


Terpaksa mereka menyudahi aktivitas itu, dan akan melanjutkan keesokan harinya, atau ketika ada waktu luang.

__ADS_1


**


Kini sudah sebulan usia baby Maryam. Wulan sudah tidak lagi merasakan sakit di bagian jalan lahirnya. Ia juga sudah bisa sedikit-sedikit memandikan dan mendadani putri kecilnya. Ia memang selalu melihat suaminya ketika melakukan hal itu. Sehingga lama-kelamaan ia juga bisa.


Pagi itu Wulan dan Salman serta bayinya yang diletakkan di dalam stroller, berjalan-jalan pagi. Untuk menghirup udara segar, di sekitar kompleks perumahannya.


Embun pagi yang menetes di dedaunan, kabut pagi yang terasa menusuk tulang, dan sedikit membuat pandangan menjadi kabur, tidak begitu terdengar bising kendaraan, kicauan burung pagi. Sungguh suatu fenomena alam yang membuat tenang hati menentramkan pikiran.


"Sayang, kita beli bubur sumsum yuk." Ajak Salman.


"Bubur sumsum? Apa itu terbuat dari sumsum tulang sapi? Ataukah sumsum dari tulang manusia?" Tanya Wulan sambil bergidik ngeri.


Ia membayangkan sesuatu hal yang tak lazim, sehingga membuat Salman terkekeh.


"Bukan. Tebakan mu salah semua. Bubur sumsum itu terbuat dari tepung beras, dan dikasih kuah dari gula merah yang dilelehkan. Kalau penasaran, ayo kita cobain."


"Janjinya kalau rasanya memang benar-benar enak." Wulan menunjuk wajah suaminya, sambil melotot ke arahnya.


"Janji. Kalau kamu ngga habis, aku siap menghabiskan."


Salman pun mendorong stroller bayinya. Dan bergerak mendekati penjual bubur sumsum yang ada di dekat perempatan jalan. Tampak dari kejauhan warung kaki lima itu sudah dipenuhi banyak pengunjung.

__ADS_1


"Bang, bubur sumsum nya dua ya. Minumnya teh hangat saja." Ucap Salman memberi instruksi ke sang penjual. Sementara itu, Wulan mencari tempat duduk yang sengaja di design lesehan.


__ADS_2