
Pagi itu Wulan tidak pergi ke kantor. Ia masih menghabiskan waktunya bersama Daddy dan mommy untuk bersiap-siap kembali ke Indo. Karena pada siang harinya, kedua orang tuanya akan melakukan penerbangan.
Setelah semuanya siap, mereka pun melajukan mobilnya menuju bandara. Sesampainya di bandara, mommy dan Daddy banyak memberikan nasehat pada putri semata wayangnya.
Wulan pun tersenyum dan mengingat baik-baik setiap nasehat mereka. Ia meyakinkan kedua orang tuanya bahwa dirinya tidak apa-apa.
Gadis itu memang mulai berubah, tidak lagi manja. Ia lebih semangat lagi setelah kunjungan kedua orang tuanya pada hari ulang tahunnya kemarin.
Kedua orang tuanya berjalan menuju garbarata. Wulan, grandpa dan grandma nya menyaksikan mereka sambil melambaikan tangannya.
Setelah pesawat lepas landas dan mengudara, barulah mereka bertiga meninggalkan bandara.
"Kamu harus lebih semangat lagi Wulan. Apalagi setelah kedatangan kedua orang tua mu." nasehat grandpa memecah keheningan.
"Tentu saja grandpa. Wulan akan berusaha sungguh-sungguh untuk membantu grandpa memajukan perusahaan."
"Hem, bagus itu. Grandpa suka kalau kamu bersemangat."
Semua manggut-manggut dan saling melempar senyum.
__ADS_1
"Apakah kamu mau kita mampir makan atau sekedar untuk ngopi?" tanya grandpa lagi.
"Tidak usah grandpa, kita langsung pulang saja."
Grandpa mengangguk lalu melajukan mobilnya menuju rumahnya.
Setelah sampai rumah, Wulan ke kamar untuk mengecek mukenanya.
'Yah, masih sedikit basah." gumamnya kecewa, ketika tangannya memegang mukena berwarna putih dan sajadah.
Ia pun menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Lalu membuka aplikasi google. Mencari lebih banyak referensi ilmu.
Tak hanya membaca sekali, tapi dia coba mengulangi hingga beberapa kali saat membaca artikel. Sampai dia merasa paham.
"Sudah lumayan kering, sebaiknya aku pindah jemur di balkon." gumamnya lagi. Ia benar-benar berusaha agar mukena itu lekas kering.
Saat malam tiba, Wulan pun rela menyetrika mukena dan sajadah itu. Sehingga kedua benda itu lebih rapi dan wangi.
"Wulan, Wulan. Ayo kita makan malam sayang." seru grandma dari balik pintu.
__ADS_1
Wulan yang baru saja selesai menyetrika mukena sedikit kalang kabut. Untung dia ingat untuk mengunci pintunya. Jadi ia bisa merapikan semuanya tanpa di ketahui oleh grandmanya.
"Iya ma, tunggu sebentar. Wulan akan siap-siap turun." balasnya sambil berteriak, agar grandma tidak lagi memanggilnya.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama. Sejak tadi siang kamu belum makan."
"Siap grandma."
Setelah mendengar jawaban dari cucunya, grandma berlalu pergi. Sedangkan Wulan yang berada di dalam kamar telah selesai merapikannya semuanya. Ia pun segera keluar kamar menyusul pasangan sepuh di ruang makan.
"Wulan. Wulan." teriak Leon sambil masuk ke rumah grandpa Louis.
"Leon, bisa kah kamu tidak berteriak seperti itu?" seru Wulan yang tengah menuruni anak tangga.
"Eh, kebetulan sekali kamu ada. Ayo kita keluar makan malam bersama." Leon tidak mengindahkan ucapan Wulan, dan justru mengajaknya keluar.
"Tapi Leon, kasian grandma, dia sudah memasak makanan yang banyak untuk kami bertiga."
"Betul kan grandma?" Wulan bertanya pada grandma nya. Ia memang merasa tak enak jika sering keluar untuk jajan bersama Leon.
__ADS_1
"Hem, betul apa yang dikatakan Wulan, Leon. Lihat, makanan sebanyak ini siapa yang akan menghabiskan? Sebaiknya kamu makan malam disini saja. Dan, kalau kamu mau keluar, kamu bisa beritahu kami pagi, agar grandma tidak memasak terlalu banyak."
Tak ada lagi alasan yang bisa dikeluarkan Leon. Akhirnya ia ikut bergabung dengan keluarga Wulan. Baginya dimana pun tempatnya, yang penting bisa bersama Wulan.