Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
126. Menyindir atau kesindir


__ADS_3

Tamu undangan sudah meninggalkan tempat acara. Hanya ada beberapa orang dari keluarga Wulan yang sibuk membersihkan tempat acara.


Mommy Melati dan Daddy Marquez yang melihat Salman duduk seorang diri, segera menghampirinya.


"Nak, sudah malam, ayo masuk rumah. Tante antarkan kamu ke kamar."


"Baik, Tante."


Mereka bertiga berjalan beriringan menuju kamar yang dimaksud.


"Silahkan masuk. Istirahat yang nyenyak ya. Karena besok adalah hari pernikahan kalian."


"Iya, Tante. Oh iya, di dalam ada siapa ya, Tan?"


Kedua orang tua Wulan saling beradu pandang lalu mengernyitkan dahi.


"Tidak ada siapa-siapa di dalam. Ini kan ruang tamu. Memangnya kenapa?"


"Em, saya pikir kamar Wulan." lirih Salman, tapi masih bisa di dengar oleh Daddy dan mommy. Keduanya lalu terkekeh.


"Malam pertama mu masih besok, Sal. Kami tahu kok, sebelum menikah calon suami-istri tidak boleh tidur bersama. Tadi papa mu juga sudah bilang ke, om. Katanya, dia itu takut kalau kamu tidak berani bicara dengan kami." ujar Daddy.


"Hah! Papa bilang seperti itu pada om?" Salman membulatkan matanya, Daddy pun mengangguk.


'Ya ampun, papa. Kamu malu-maluin Salman banget sih.' batin Salman. Ia pun hanya bisa menepuk jidatnya dan geleng-geleng kepala.


"Ya sudah, kamu buruan masuk, gih. Om, sama Tante juga mau istirahat." ucap mommy, lalu keduanya berjalan menjauh dari Salman, setelah pemuda itu menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Salman lalu membuka handle pintu perlahan, tapi langkahnya seketika terhenti, ketika seseorang berjalan menuju ke arahnya.


"Katanya pengantin baru, tapi kok tidur terpisah. Kasian deh, ngga kayak aku dulu. Yang bebas keluar masuk ke kamar Wulan."


Salman tidak menoleh, karena tahu itu adalah suara Leon.


"Aku akan resmi menjadi suami Wulan setelah mengucapkan ijab qobul. Maka dari itu sengaja kami tidur terpisah untuk menghindari sesuatu yang dibenci oleh agama kami.


Lagian aku juga masih bisa mengontrol diri kok. Tidak terlalu terburu. Karena terkadang orang yang lebih mementingkan hawa nafsunya, mereka adalah orang-orang yang tidak sabaran.


Dulu, dulu kamu mungkin bebas keluar masuk kamar Wulan. Karena mereka belum tahu hukumnya pergaulan antara laki-laki dengan perempuan.


Tapi setelah tahu hukumnya, mereka pasti tidak akan mengijinkan mu lagi. Dan setelah menikah dengan ku nanti, akan ku pastikan kamu tidak bisa masuk sembarangan ke kamar kami.


Wulan adalah wanita yang cerdas, tanpa aku suruh pun dia pasti sudah tahu batasannya.


Salman pun masuk dan mengedarkan pandangannya menyapu setiap sudut ruangan yang luas dan terlihat jelas gaya Eropa.


Ia duduk di tepi ranjang sambil menghirup nafas dalam-dalam.


"Menikah, dengan Wulan. Ini semua masih terasa sebagai sebuah mimpi untukku. Semoga kami bisa membina rumah tangga yang baik." gumam Salman.


Sementara itu, Leon menghembuskan nafas kasar, dan segera berlalu masuk kamarnya. Bahkan ia sampai membanting pintunya dengan keras, untuk meluapkan amarahnya. Ia merasa kalah saing dan jatuh harga dirinya di mata Salman.


Pemuda itu benar-benar pendiam, namun menghanyutkan. Setiap perkataannya bisa menusuk hati Leon.


**

__ADS_1


Semalaman, Salman tak bisa tidur. Ia terus membolak-balikkan tubuhnya di atas ranjang king size super empuk.


Terbayang apa yang akan ia bicarakan nanti dengan Wulan. Pasalnya dulu, Wulan lah yang selalu mengajaknya berbicara.


Sekitar pukul enam pagi. Terdengar suara ketukan pintu. Salman pun segera bangkit dari tidurnya, dan melihat siapa yang datang.


"Permisi mas. Saya di utus oleh mommy, untuk mengantarkan sarapannya mas Salman. Setelah itu, mas Salman di suruh untuk bersiap-siap. Karena sebentar lagi akan di rias." ucap asisten rumah tangga keluarga Wulan.


"Oh, terima kasih bi."


Perempuan setengah baya itu pun mengangguk, lalu pergi dari hadapan Salman.


Setelah Salman menyelesaikan sarapan paginya, ia segera mandi dan tak lupa untuk melaksanakan sholat sunah Dhuha.


Ia begitu khusyu' mengerjakannya. Setelah selesai sholat, tak lupa ia berdoa agar hatinya diberi ketenangan dan keyakinan saat mengucapkan ijab qobul.


Saat ia melipat sajadah, terdengar suara ketukan pintu. Bergegas ia menghampiri. Lagi-lagi asisten rumah tangga kembali menghampirinya. Ia tersenyum meringis sebelum sempat berkata.


"Sudah di tunggu di ruang make up mas. Mari saya antar."


"Terima kasih bi. Maaf ya, sudah merepotkan."


"Tidak apa-apa mas."


Keduanya sangat sopan dalam bertutur kata. Lalu mereka pun berjalan bersama menuju ke ruangan yang dimaksud.


Sementara itu, Leon yang baru saja bangun, dan berdiri di ambang pintu, melihat semua itu dengan perasaan campur aduk.

__ADS_1


Sisi hatinya yang lain memuji kelembutan Salman sebagai seorang laki-laki. Sedangkan sisi hatinya yang lain, iri dengan apa yang bisa didapatkan Salman, tapi tidak bisa Leon dapatkan.


__ADS_2