Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
219. Sebuah nama


__ADS_3

"Ayo kak, aku bantuin berjalan." tawar Fatim, sambil mengulurkan tangannya. Berniat memapahnya.


"Katamu tadi aku di suruh mandi."


"Iya sih. Lalu kakak mau mandi duluan atau langsung tidur."


"Demi kamu, aku mandi duluan saja lah. Siapa tahu, habis mandi aku dapat obat kuat, terus bisa sembuh dalam semalam." celoteh Leon.


"Kak Leon tidak apa-apa kan, aku tinggal di kamar mandi sendiri?"


"Sebenarnya ingin ditemani, tapi kalau kamu tidak mau ya sudah." Leon selalu mengeluarkan jurus rayuan. Fatim pun menghela nafas, lalu kembali menutup pintunya.


"Ayo, aku mandiin. Sini aku bantuin buka baju dulu." tangan Fatim terulur menarik baju bagian bawah suaminya.


'Asyik.' batin Leon kegirangan.


Setelah selesai membantu mandi, Fatim lalu memapahnya berjalan menuju ranjang tempat tidur.


"Beruntung tidak sampai parah kak lukanya. Tidak ada luka memar juga. Kalau rasa nyeri ya wajar sih. Mungkin dua atau tiga hari sudah hilang rasa nyerinya. Dan bisa beraktifitas seperti biasanya."


"Besok-besok kalau mandi, jangan lama-lama ya. Aku khawatir." nasehat Leon sebelum tidur.


"Kenapa memangnya?"


"Aku khawatir kalau terjadi apa-apa dengan mu atau bayi kita. Bukan kah kita sangat menantikan kehadirannya?"


"Ish, kakak. Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku. Hingga kamu justru abai memperhatikan dirimu sendiri." Fatim gemas, lalu memeluk tubuh suaminya. Matanya terpejam dan mulai terlelap tidur.


'Obat kuatnya cukup di peluk seperti ini juga tidak apa-apa lah.' batin Leon sembari mengusap perut buncit istrinya.

__ADS_1


**


Di malam yang sama, Wulan dan Salman tengah membicarakan tentang aqiqah, dan nama yang akan diberikan untuk putrinya.


"Menurut kamu, apa nama yang pantas untuk di berikan ke anak kita, sayang?" tanya Salman sambil membelai lembut, pucuk kepala istrinya.


"Apa ya, mas?"


"Lhah, kok malah bertanya balik?" Salman menghentikan usapannya, lalu menatap wajah istrinya yang tampak meringis.


"Kalau aku kasih nama kebarat-baratan, nanti kamu ngga terima."


"Kamu belum mencoba ajukan nama. Bagaimana bisa aku menolaknya? Aneh-aneh saja deh." Salman menggelengkan kepalanya, menatap wajah istrinya.


"Chaterine. Kimberly. Agnes. Siapa lagi ya...? Aku bingung mas." Wulan meringis sambil garuk-garuk kepala.


"Maryam. Maryam Benazir."


"Apa ada artinya, mas?" Salman mengangguk.


"Setiap nama itu, pasti ada artinya."


"Lalu nama itu artinya apa, mas?"


"Maryam itu artinya perempuan yang menjaga kehormatan.


Seperti Siti Maryam, ibu dari nabi Isa. Ia adalah wanita yang sangat menjaga kehormatannya sebagai seorang wanita. Beliau juga sangat rajin berdo'a dan beribadah.


Ia tak pernah keluar kamar, atau bahkan tidak pernah bertemu dengan seorang laki-laki mana pun juga. Ia menghabiskan banyak waktunya untuk beribadah.

__ADS_1


Hingga Allah memilihnya menjadi ibu dari seorang bayi. Hal itu, Allah sampaikan kepadanya melalui perantara malaikat Jibril. Tentu Siti Maryam merasa terkejut dengan kedatangan seorang malaikat.


Awalnya Maryam merasa rendah diri. Karena Allah lah yang memilihnya. Tapi kembali lagi, bahwa puncak tertinggi seseorang dalam menganut kepercayaan adalah menaati dan melaksanakan perintah-Nya.


Maryam pun akhirnya bersedia mengandung. Dengan segala konsekuensi yang sudah ia perhitungkan sebelumnya. Akhirnya malaikat Jibril pun meniupkan ruh ke dalam perut beliau.


Semakin besar kandungan Siti Maryam, masyarakat di sekitar semakin gempar bahwa ia mengandung tanpa adanya suami.


Orang-orang non muslim pada saat itu selalu mengejek dan memfitnah Siti Maryam. Bahwa ia sudah berbuat maksiat dengan laki-laki yang bukan suaminya.


Siti Maryam juga adalah seorang manusia biasa. Meskipun awalnya beliau merasa siap menerima jalan takdirnya seperti itu.


Tapi mendengar banyaknya orang yang menggunjingkan nya di belakang, juga membuatnya futur iman. Yaitu rasa malas dalam beribadah.


Mendekati waktu kelahiran, Siti Maryam hijrah ke daerah lain untuk terhindar dari fitnah-fitnah orang di sekitarnya tersebut.


Setelah jauh dari tempat asalnya, ia merasakan sakit pada perutnya. Kemudian, ia pun melahirkan setelah menyandarkan dirinya pada pohon kurma.


Kemudian Malaikat Jibril menghampiri Siti Maryam dan berkata, "Hai Maryam, kamu jangan bersedih hati, Allah subhanallahu wa ta'ala telah memberimu air di bawah kakimu pada pohon kurma yang kau sandari itu, goyangkanlah ke arahmu, maka pohon kurma itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan minum dan bersenanglah kamu, dan jangan bersedih hati. Bila kamu nanti bertemu dengan orang maka katakanlah: sesungguhnya aku rela bernadzar akan berpuasa karena Tuhan yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini."


Setelah melahirkan, Siti Maryam kembali ke kampung halamannya. Kedatangannya disambut oleh ejekan kembali dari masyarakat. Namun, Siti Maryam tetap sabar dan bangga dengan bayi yang digendongnya itu.


Beberapa orang bertanya perihal bayi tersebut, dan Siti Maryam menyuruh mereka untuk mengajak bicara anak tersebut langsung. Atas kuasa Allah SWT, bayi atau Nabi Isa tersebut mengatakan,


"Sesungguhnya aku ini hamba Allah yang kelak Allah menganugerahiku kitab dan aku dijadikan Nabi, di mana saja aku, Allah memberi berkah kepadaku, dan berguna bagi orang banyak. Dan selama hidupku aku perintahkan salat dan aku perintahkan zakat. Aku sangat berbakti kepada ibuku dan aku tidak dijadikan orang yang menyombongkan diri dan durhaka. Aku diberi keselamatan oleh Allah dari semua kesukaran, mulai dari aku dilahirkan dan pada saat aku mati dan saat aku dihidupkan lagi dan pada saat aku mati dan saat aku dihidupkan lagi. Anak bayi (Nabi Isa) mengeluarkan kata-kata yang demikian itu sebetulnya, akan tetapi orang-orang yang menyaksikan kejadian itu tercengang dan bingung penuh menyaksikan kejadian itu tercengang dan bingung penuh ragu, bahkan ada di antara mereka yang menyangka bahwa anak Maryam itu adalah anak Tuhan, dan bahkan sebagian lagi ada yang menyangkanya Tuhan."


Itu tadi tentang nama Maryam. Beda lagi dengan nama Benazir. Yang artinya tidak tertandingi. Aku ingin anak kita menjadi seorang anak yang segala sifat baiknya tidak tertandingi. Dan mendapatkan banyak karunia yang lebih banyak dan tak tertandingi.


"Okay lah, mas. Kalau begitu aku setuju saja pakai nama itu."

__ADS_1


__ADS_2