
Kini mereka sudah tiba di depan ruangan Fatim. Setelah salamnya di balas, mereka pun masuk.
Mereka pun kembali berjabat tangan dan berpelukan. Hubungan mereka sudah seperti layaknya keluarga sendiri.
Setelah mengurai pelukan, mereka dipersilahkan duduk dan menikmati cemilan yang disediakan.
Selayaknya orang yang membesuk pasien, mereka pun bertanya apa yang terjadi dengan lebih detail.
Sebelumnya mereka melihat bayi Fatim yang ditempatkan dalam inkubator.
Seketika Wulan bergidik ngilu, karena badannya sangat kecil sekali dan lembek. Juga berwarna sangat merah. Karena memang terlahir prematur.
Untung saja Salman menggenggam tangannya. Sehingga ketakutan Wulan perlahan berkurang.
Wulan merasa iba dengan apa yang di alami oleh Fatim dan bayinya. Terlebih Fatim belum diijinkan untuk menimang bayinya sejak lahir. Bahkan untuk urusan menyusui, harus melalui dot bayi.
Tidak seperti dirinya yang bisa menyusui langsung. Bayi milik Wulan pun tampak gembul. Karena ia memang kuat sekali menyedot ASI-nya. Kulitnya juga mulai memutih dan terlihat segar.
Wulan bersyukur sekali, atas anugerah terindah yang didapatkannya. Wulan pun mendoakan bayi Fatim, agar cepat tumbuh besar seperti bayi yang terlahir normal.
Cukup lama mereka menjenguk sambil mengobrol. Hingga tiba-tiba Wulan merasakan dadanya mulai nyeri. Seketika ia teringat dengan baby Maryam.
Ia mengirimkan pesan WhatsApp pada suaminya, untuk mengajaknya pulang. Karena waktunya ia memberikan asi pada putrinya.
Keduanya memang tidak duduk berdekatan. Salman duduk dengan Leon, papanya dan Fatih. Sedangkan Wulan duduk dengan Aisyah, Fatim dan keluarganya yang perempuan.
Mereka memang duduk berjauhan, untuk saling memberi ruang. Agar bisa saling bercerita meluapkan apa yang ada dalam hati mereka kepada sesama jenisnya, tanpa rasa malu terdengar oleh lawan jenisnya.
Salman mendengar handphonenya berdering. Bergegas ia pun membukanya. Karena sudah tahu siapa yang mengirimkan pesan padanya.
Laki-laki itu memang memberikan notif khusus untuk istrinya. Agar jika terjadi apa-apa, ia langsung ingat dan bertindak dengan cepat.
__ADS_1
Ia begitu menomorsatukan istrinya. Karena istri adalah jantung keluarga.
Jika istrinya bahagia, maka anak dan dirinya juga bahagia. Begitu juga sebaliknya, jika istrinya sedih, maka anak dan dirinya juga akan bersedih.
Istri juga adalah magnet rezeki bagi seorang suami. Jika suami memberi nafkah yang sepantasnya pada istrinya. Mereka pun akan mendapatkan balasannya, dengan mendapatkan rezeki yang jauh lebih besar.
Salman berbisik pada Fatih, bahwa ia akan segera pulang. Karena sudah terlalu lama meninggalkan putri kecil mereka.
Fatih mengangguk, ia pun sama juga ingin pulang. Akhirnya kedua pria itu meminta ijin pulang. Istri mereka pun turut meminta izin pulang.
Keluarga Leon dan Fatim sangat berterima kasih pada mereka, karena sudah meluangkan waktu untuk menjenguk dan mendoakan.
Fatih dan Salman berpisah saat keduanya berada dipertengahan jalan. Karena jalur rumah mereka berbeda.
"Sayang, apa kamu tidak ingin membeli sesuatu? Untuk amunisi sebelum menyusui baby Maryam."
Wulan mengernyitkan dahi sambil berpikir, ingin membeli apa kiranya dirinya itu.
"Aku pengen makan sushi."
"Aku juga ingin minuman yang lagi viral itu, Mixue. Sepertinya segar sekali."
"Sudah, itu saja?"
"Aku juga ingin siomay ikan. Karena sambal kacangnya enak, manis-manis gitu."
"Lalu apa?" Salman sedikit menyunggingkan senyum, ternyata amunisi ibu menyusui memang banyak.
"Aku juga ingin buah naga."
"Terus?"
__ADS_1
"Kok, jawaban mu cuma, terus, lalu. Niat belikan aku ngga sih?"
Wulan mengerucutkan bibirnya, sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Beranggapan suaminya tengah mengejeknya.
Padahal Salman memang serius. Ia tidak ingin Wulan kurus karena makanannya di serap oleh anaknya.
Ia juga tidak ingin anaknya kurus gara-gara mommy nya kekurangan asupan gizi dan makanan.
Salman pun memberi penjelasan yang panjang lebar pada istri tercintanya, agar tidak marah.
Tak lama kemudian, keduanya sudah sampai di restoran yang menyajikan menu makanan Chinese food.
Keduanya pun segera masuk dan mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat yang kosong. Karena keadaan restauran sore itu memang cukup ramai.
Beruntung keduanya melihat tempat duduk yang kosong di sudut ruangan. Mereka pun berjalan ke arah sana.
"Hai, Sal." Sapa pria bermata sipit dan berkulit putih kekuningan.
"Hai juga, Jack." Balas Salman.
Kedua pria itu saling berjabat tangan dan berpelukan. Setelah mengurai pelukan, laki-laki itu menoleh ke arah Wulan. Lalu keduanya saling menyunggingkan senyum.
Pria itu memang tahu, istri dari temannya tidak berjabat tangan dengan pria lain yang bukan ada hubungan dengannya.
"Kenapa kalian tidak membawa baby kalian kesini?" Tanya Jack, temannya Salman.
"Dia masih bayi. Tentu tidak kami bawa kemari. Jika sudah besar saja, kami akan mengajaknya merampok restauran mu. Kalau sekarang, cukup berdua dulu." Canda Salman. Mereka pun terkekeh bersama.
"Kalau begitu, silahkan duduk. Kami akan memberimu menu spesial di tempat ku ini."
"Istriku ingin makan sushi. Berikan yang terbaik untuknya."
__ADS_1
"Oh, tentu. Pelayan akan menyiapkan yang terbaik untuk kalian. Silahkan duduk."
Salman dan Wulan segera duduk di lesehan yang ada di sudut ruangan.