
Kini rombongan keluarga Leon sudah sampai di bandara. Fatim dan Leon mengantarkan kedua orang tuanya ke dalam.
"Kalian yang rukun ya. Jangan bertengkar. Fatim, Leon memang suka bertingkah ke kanak-kanakan. Harap maklum ya. Mama titip Leon sementara waktu. Karena papamu ada urusan bisnis. Selain itu kami juga ingin menyiapkan pesta pernikahan untuk kalian disana. Dan kamu leon, bersikap lah dewasa. Ingat, kamu sudah menikah. Jadi pemimpin rumah tangga, dan contoh yang baik untuk anak dan istrimu." pesan mama Margareth pada anak dan menantunya.
"Tapi, ma. Kita kan belum ada anak." seloroh Leon.
"Astaga. Kamu masih saja tidak berubah. Lambat-laun kalian kan juga bakal punya anak." Jelas papa Marco, dan Leon hanya meringis saja.
"Iya, ma. Sebisa mungkin Fatim akan berusaha untuk menjadi istri yang baik bagi, kak Leon. Mama dan papa tenang saja. In shaa Allah Fatim tidak akan berbuat macam-macam dengan, kak Leon. Semoga urusan papa dan mama disana cepat selesai ya, ma."
"Aamiin. Terima kasih doanya sayang." Mama Margaretha memeluk Fatim. Istri Leon membalas pelukan itu.
Setelah memeluk Fatim, mama bergantian memeluk Leon. Ia mengusap kepala anaknya yang memakai topi berwarna hitam. Untuk menyembunyikan kepalanya yang plontos. Karena pasca operasi, rambutnya masih tipis.
Mereka kini berpisah dan saling melambaikan tangan. Setelah pesawat take off, pasangan pengantin baru itu kembali ke mobilnya.
"Sayang, aku mau jalan-jalan. Masa iya pengantin baru cuma di rumah melulu." cicit Leon yang duduk di samping Fatim.
"Memang, kak Leon, mau kemana?" balas Fatim tanpa menoleh, karena ia sedang fokus menyetir.
"Kemana saja boleh, asal selalu bersamamu." Fatim tersenyum tipis, mendengar jawaban Leon yang asal.
__ADS_1
Mobil berbelok pada sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Di sana fasilitasnya sangat lengkap. Jadi tidak perlu berpindah-pindah tempat jika ingin melihat atau membeli sesuatu.
"Kita serius kesini?" Fatim menganggukkan kepalanya ke arah Leon, yang tengah mengedarkan pandangannya di gedung tiga lantai itu.
"Kesannya aku jadi seperti cowok matre nih." celetuk Leon.
"Jangan bicara seperti itu. Di tempat ini, fasilitasnya sangat lengkap, kak. Kak Leon mau apa saja ada. Jadi tidak perlu repot-repot pindah tempat satu ke tempat lainnya." Leon manggut-manggut mendengar penjelasan Fatim.
Mereka berdua pun keluar dari mobil, dan berjalan bersama memasuki lantai pertama mall itu. Tiba-tiba tangan Leon menggandeng tangan Fatim, dan memegangnya dengan erat.
"Kak Leon." ucap Fatim sambil melihat ke arah tangannya.
Fatim terkekeh mendengar balasan suaminya. Lalu ia pun memberanikan diri membalas genggaman tangan itu dengan erat.
Yang mereka kunjungi pertama kali adalah store baju.
Leon menggandeng tangan Fatim menuju bagian baju Koko. Ia ingin membeli beberapa potong untuk di pakai saat sholat. Fatim pun membantu memilihkan yang cocok untuk suaminya. Setelahnya memasukkan ke dalam keranjang belanjaannya.
Keduanya masih berada di store baju, melihat-lihat apa lagi yang ingin di beli. Sampai akhirnya muncul sebuah ide yang melintas di kepala Leon. Ia menarik tangan istri menuju ke tempat yang dicari.
Matanya pun berbinar ketika melihat deretan lingerie yang berwarna warni dan tampak mengkilap, karena rata-rata menggunakan bahan silk.
__ADS_1
"Kak, kenapa kita menuju kesini?" tanya Fatim polos. Namun Leon belum menjawab. Tangannya sibuk memilih mana gaun malam yang cocok untuk istrinya.
"Ini sepertinya sangat cocok untukmu, sayang." celoteh Leon sambil menempelkan lingerie berwarna merah menyala ke tubuh Fatim.
Sontak istri Leon membulatkan matanya melihat kelakuan suaminya itu. Ia menoleh ke kiri dan kanan. Takutnya ada yang memperhatikan apa yang dilakukan suaminya.
"Ka-kamu yakin, kak." lirih Fatim dengan suara terbata.
"Yakin dong. Kalau sudah menikah, dihadapan suami itu harus pakai baju kayak gini."
"Kenapa kalau soal pelajaran seperti ini kamu cepat sekali tanggap, kak." seloroh Fatim yang membuat Leon terkekeh sekaligus garuk-garuk kepala. Lalu ia memilih lingerie yang cocok untuk istrinya lagi.
Setelah puas memilih, keduanya segera antri di kasir untuk membayar belanjaan mereka. Beberapa pasang mata menatap ke arah Fatim dan Leon.
Orang-orang menganggap, memiliki pasangan bule itu adalah suatu kebahagiaan dan keistimewaan tersendiri.
Apalagi jika bulenya setampan Leon. Mereka menganggap Fatim adalah wanita yang beruntung mendapatkannya.
Di tambah perlakuan mesra yang Leon tunjukkan pada Fatim, dengan merangkul bahunya. Membuat mereka yang melihat semakin mengiri.
Setelah membayar, mereka kembali menyusuri setiap lorong mall itu agar lebih puas. Hingga akhirnya keduanya merasa kelaparan. Mereka pun memutuskan untuk makan di food court yang ada di dalam mall itu.
__ADS_1