
Leon mengayunkan kakinya menuju koridor rumah sakit. Dan ia mencoba bertanya pada bagian resepsionis.
"Okay, terima kasih." ucapnya setelah berhasil mendapatkan informasi tentang Fatim.
Saat ia hendak membuka pintu ruangan, pintu itu sudah terlebih dulu dibuka. Muncul seorang gadis cantik yang memakai jas putih khas dokter. Dan kini wanita itu tengah menatap dirinya.
"Hai!" sapa Leon sambil tersenyum simpul.
"Le-Leon?" ucap Fatim dengan dahi berkerut. Seakan tak percaya dengan siapa yang kini sedang berada dihadapannya.
"Kenapa kamu bisa tiba-tiba ada disini?"
"Kebetulan lewat sini. Jadi sekalian aku mampir." Leon memberi alasan klasik.
"Mampir kok di rumah sakit. Bukan di rumah teman." kekeh Fatim.
"Karena disini ada temanku. Makanya aku mampir."
"Siapa?"
"Kamu." Fatim yang sejak tadi terkekeh mendadak diam.
"Aku ngga punya teman sama sekali. Teman satu-satunya sudah menikah. Aku mau ngajak teman baru ku untuk makan siang bersama. Apakah kamu mau?"
"Boleh mengajak teman-teman ku?" pinta Fatim.
"Aku kan mau mengajakmu. Bukan temanmu yang lain."
"Tapi, aku tidak suka berduaan dengan laki-laki yang bukan mahram ku terlalu lama."
"Hanya sebentar. Pliss. Di tempat ramai juga kan makannya?"
"Em, ya sudah. Kamu ijin dengan papa ku dulu. Tuh, ada di dalam. Sekalian aku mau ambil tas." ucap Fatim, sambil membuka pintunya lebih lebar.
__ADS_1
Leon garuk-garuk kepala. Hanya untuk makan siang bersama saja, harus pakai acara minta izin segala. Tapi apa boleh buat. Ia pun memberanikan diri masuk ruangan, menghadap papanya Fatim.
"Permisi, om." Adam, papanya Fatim mendongak menatap laki-laki bule yang yang ada dihadapannya.
"Iya, ada yang bisa saya bantu? Silahkan duduk dulu." tawar papanya Fatim ramah.
Leon menurut apa kata papanya Fatim, untuk duduk."
"Perkenalkan, om. Saya Leon, saudaranya Wulan yang di Belanda. Mumpung masih ada waktu luang, saya ingin mengajak Fatim makan siang bersama."
Papa Adam menatap Fatim dan Leon bergantian. Lalu mengangguk setuju.
"Asal jangan lama-lama, dan jangan di tempat yang sepi." ujar papa mengingatkan. Wajah Leon seketika berbinar.
"Baik, om." Leon menganggukkan kepalanya antusias.
Setelah itu ia bangkit berdiri dan menggandeng tangan Fatim. Yang membuat gadis itu membulatkan matanya.
"Jangan pegang-pegang tangan anak saya."
"Eh, maaf om." Leon melepas pegangan itu.
Mereka berjalan bersama melewati koridor ruangan. Sepanjang jalan yang mereka lalui, para karyawan rumah sakit yang kebetulan melihat, mulai berbisik. Tentu saja mereka membicarakan pasangan itu.
Sesampainya di tempat parkir, Leon membukakan pintu untuk Fatim. Gadis itu pun masuk setelah mengucapkan kata terima kasih. Lalu Leon mengitari mobil dan masuk lewat pintu samping.
"Kamu mau makan dimana?" tanya Leon.
"Dimana saja boleh."
"Masalahnya aku tidak terlalu hafal daerah sini. Jadi kamu tolong tunjukkan arahnya ya."
"Boleh." Fatim mengangguk. Lalu memberi arahan jalan. Sambil sesekali bercakap-cakap dengan Leon.
__ADS_1
Leon merasa senang, akhirnya memiliki seorang teman pengganti. Setelah dulu bersama Wulan dalam waktu yang lama.
Meskipun sampai sekarang masih berteman dengan Wulan. Tidak enak rasanya, karena ia sudah menjadi jodoh laki-laki lain.
"Disini tempatnya?" ucap Leon ketika mobilnya berhenti di sebuah rumah makan yang cukup ramai pengunjung. Wajar saja, karena bertepatan dengan jam makan siang. Fatim pun menganggukkan kepalanya.
"Gimana? Kamu suka tidak?" tanya Fatim.
"Suka. Yang penting cita rasa masakannya. Kalau enak, aku bakal ajak kamu sering-sering kesini." ucap Leon serius, tapi Fatim menanggapinya sebagai sebuah candaan.
Keduanya kini memasuki warung itu. Lalu mencari tempat duduk yang kosong.
"Di saung itu saja." Leon menunjuk deretan rumah-rumah kecil yang terbuat dari kayu dengan atap jerami. Fatim mengangguk, lalu keduanya berjalan bersama menuju tempat yang dimaksud.
Setelah keduanya duduk, seorang pelayan membawa buku menu dan kertas kosong untuk mencatat pesanan mereka.
"Saya pesan makanan yang sama seperti punya teman saya mbak." ucap Leon pada pelayan.
Sambil menunggu pesanan datang, keduanya bercakap-cakap.
"Oh iya, aku punya kejutan untuk kamu. Tapi, kamu harus memberi ku nomor telepon mu dulu."
"Ngga tertarik sama kejutan yang kamu berikan." balas Fatim datar. Membuat Leon sedikit kecewa.
"Ayolah. Aku tidak akan macam-macam." Leon terus merengek, akhirnya Fatim menyebutkan nomor handphonenya. Leon berseru kesenangan, lalu mengotak-atik handphonenya sebentar.
"Nah, sekarang kamu buka handphone mu." titah Leon.
Dengan ragu, Fatim membuka handphonenya. Ada notifikasi pesan dari nomor tak dikenal. Itu pasti milik laki-laki bule dihadapannya. Ia mengernyitkan dahi saat mengetahui isi pesan itu.
"Ka-kamu sengaja ya dulu itu ingin memfoto ku?" cerca Fatim.
"Sumpah, aku ngga berniat seperti itu. Niat ku cuma ingin memperlihatkan wajah mu saja dulu itu. Aku juga sedikit kaget waktu membuka galeri handphone, dan melihat foto kita berdua. Tapi ngga apa-apa sih. Aku suka. Sampai kapan pun ngga akan ku hapus. Biar jadi kenang-kenangan kalau kita pernah dekat." tutur Leon panjang lebar. Yang membuat gelenyar aneh di hati Fatim.
__ADS_1