Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
226. Ikatan batin


__ADS_3

Tausyiah yang dibawakan oleh haji Dahlan telah selesai. Beliau berniat kembali ke tempat duduknya, tapi di tahan oleh Daddy Marquez. Ia mengajaknya agar tetap di panggung, menemani keluarganya. Haji Dahlan pun tidak bisa menolaknya.


Acara dilanjutkan dengan hiburan marawis, sambil menikmati hidangan yang telah disediakan.


Para tamu undangan begitu menikmati hiburan itu. Keluarga Daddy Marquez juga begitu menikmatinya. Karena sebelumnya, mereka tidak pernah mendengarnya.


Tanpa terasa, satu persatu acara telah mereka lewati bersama. Kini acara akhirnya telah selesai.


Anggota keluarga Wulan dan Salman berdiri di tempat semula. Untuk menyalami dan mengucap terima kasih, pada seluruh tamu undangan yang berkenan hadir.


Tidak hanya itu saja, mereka juga membagikan paket gift pada mereka. Yaitu, boneka berbentuk domba yang berwarna pink dan biru muda.


Para tamu undangan itu sangat senang menerimanya.


"Harusnya kalian disini dulu, tidak langsung pulang. Bantuin beres-beres dong." Ucap papa Reyhan pada adik dan keluarga sahabatnya.


"Kasian anak dan istri. Mereka sudah tak tahan, ingin segera memeluk guling dari pada memeluk suami sendiri." Celoteh papa Bayu asal.


"Mas!" Seru umi Anisa. Wanita itu harus selalu mengingatkan suaminya. Karena sering kali berkata yang serba blak-blakan dan apa adanya.


"Maaf, sayang. Aku hanya mengatakan yang sejujurnya." Cerocos papa Bayu sambil meringis, istri dan anaknya hanya bisa geleng-geleng kepala. Sedangkan yang lain justru terkekeh.


Papa Reyhan tak lagi menahan adik dan keluarga serta sahabatnya untuk pulang. Toh semua pekerjaan bisa di urus oleh asisten rumah tangga dan anak buahnya yang lain.

__ADS_1


Wulan menjatuhkan dirinya di atas kursi, lalu menghirup nafas lega. Akhirnya acara itu benar-benar selesai. Ia pun bisa segera beristirahat.


"Kamu pasti kecapaian. Iya kan, sayang?"


Wulan pun mengangguk sambil menyunggingkan senyum. Berusaha untuk terlihat baik-baik saja dihadapan suaminya.


Beruntung sekali, selama acara berlangsung, baby Maryam tidak menangis atau sekedar terisak.


Bulat beningnya justru mengerjap berulang kali, dan terkadang mengurai senyum atau kekehan kecil selama acara berlangsung.


"Ya sudah. Ayo kita masuk ke rumah. Agar bisa segera istirahat." Ajak Daddy Marquez. Semua mengangguk menyetujuinya.


Salman merangkul bahu Wulan dari belakang. Sedangkan istrinya itu mendorong stroller yang berisi baby Maryam. Sungguh, suatu pemandangan yang indah.


Sesampainya di kamar, Salman mempersilahkan Wulan terlebih dahulu untuk membersihkan diri. Sedangkan Salman sendiri, mengganti pakaian anaknya dengan yang lebih nyaman di pakai untuk tidur. Tak lupa ia juga mengganti Pampers nya.


Cukup lama Wulan berada di dalam kamar mandi. Karena ia harus memastikan tubuhnya bersih. Agar hatinya tenang ketika memberikan asi ke anaknya.


Setelah Wulan keluar, kini giliran Salman yang ke kamar mandi. Wulan mengulas senyum, saat bayinya sedang bergerak pelan di atas tempat tidur.


"Kamu pasti haus dan lapar ya, sayang? Mimik asi dulu yuk." Celoteh Wulan menirukan gaya bicara anak kecil.


Ibu muda itu mengangkat tubuh bayinya pelan, lalu duduk di pinggir ranjang tempat tidur. Ia membuka baju piyamanya, dan mendekatkan gudang asi miliknya ke bibir tipis sang bayi.

__ADS_1


Ia sedikit meringis menahan sakit, ketika bayinya mulai menggigit, lalu menghisap asi miliknya.


Wulan tersenyum, ketika melihat bayinya meminum ASI-nya dengan lahap. Ia pun membelai pelan pucuk kepala baby Maryam sambil mendoakannya.


Tak lama kemudian, bayinya itu sudah terpejam matanya. Tapi mulutnya masih aktif menyedot.


Sementara itu, Salman baru saja keluar dari kamar mandi. Ia memakai kaos tipis dan celana pendek, karena udara sedikit panas, meskipun sudah menghidupkan pendingin ruangan.


Ia menghentikan langkahnya dan menelan saliva, ketika melihat istrinya tengah tersenyum sambil menyusui putri kecilnya. Pandangannya tertuju pada gudang asi milik Wulan. Karena sudah beberapa Minggu, ia tidak menjamahnya.


Salman menghirup nafas dalam-dalam, lalu mendekati istrinya. Ia harus menahan keinginannya untuk melakukan hubungan suami-istri hingga beberapa Minggu ke depan. Demi menjaga organ reproduksi istrinya tetap bekerja dengan baik.


"Kenapa mukamu seperti itu, mas?" Wulan mengernyitkan dahi, ketika melihat wajah suaminya yang terlihat memerah.


"Biasa. Sakit panas dingin. Mau flu, tapi tidak bisa."


"Tadi di depan kamu terlihat biasa-biasa saja, mas. Sudah minum obat belum?"


"Sakitnya baru muncul sekarang. Tak ada obat yang bisa menyembuhkan diri ku selain kamu."


Wulan tertawa terbahak-bahak, menganggap apa yang di ucapkan suaminya itu adalah sebuah gombalan belaka. Padahal kenyataannya, setiap kalimat yang Salman ucapkan, mengandung keinginan besar yang harus di tahan.


"Sini biar aku bantuin menidurkan baby Maryam."

__ADS_1


Salman meminta putri kecilnya yang sudah tidur pulas dalam pangkuan istrinya. Lalu menidurkannya di tengah ranjang tempat tidurnya. Agar ikatan batin diantara ketiganya terjalin kuat.


__ADS_2