
"Leon, kenapa kamu menarik tangan ku sekeras ini? Sakit tahu." sungut Wulan sambil menghempaskan tangan laki-laki itu.
Mereka pun sempat menghentikan langkahnya, karena Leon sejenak menatap gadis itu. Lalu akhirnya berjalan lagi.
Dalam hati Leon memang tidak suka melihat Wulan dekat dengan wanita yang memakai penutup kepala tadi. Ia takut jika Wulan akan terpengaruh oleh ucapannya. Sehingga untuk mendekatinya akan jauh lebih susah lagi.
Ia sadar jika dirinya sangat over thinking. Karena benih cinta di hatinya telah tumbuh saat masih kecil.
"Grandma dan grandpa sangat mengkhawatirkan mu. Mereka pikir cucu cantiknya hilang di culik. Makanya aku berusaha mencari mu sampai ketemu." dusta Leon, agar tetap terlihat baik di mata pujaan hatinya.
Keluarga Leon dan Wulan menanyakan kepada gadis itu kenapa lama sekali di toilet. Tapi Wulan belum sempat menjawab, Leon sudah menjawabnya duluan. Laki-laki itu benar-benar cerewet.
Mereka pun menikmati makan siang mereka sambil bercakap-cakap. Sesekali Wulan melihat ke arah anak kecil dan ibunya yang memakai penutup kepala tadi. Tapi tidak terjangkau oleh penglihatannya. Sehingga ia celingak-celinguk.
Ia menyesal, sudah bercakap-cakap dengannya cukup lama tapi tidak tahu namanya dan lupa untuk meminta nomor teleponnya juga.
__ADS_1
'Astaga. Aku ini masih muda, kenapa sudah pelupa sekali. Hanya ingat nama anaknya saja. Anisa. Nama yang bagus.' batin Wulan lagi.
"Wulan, kenapa kamu sejak tadi celingak-celinguk seperti tengah mengintai seseorang?" tanya mamanya Leon.
"Eh tidak kok Tante. Wulan cuma, menggerakkan leher saja biar tidak kram."
Wulan meringis sambil beralasan. Dan beruntung mamanya Leon terlihat percaya padanya. Buktinya ia membulatkan mulutnya seperti huruf O sambil manggut-manggut.
"Bagaimana pekerjaan mu di kantor sayang?" tanya mamanya Leon lagi.
Wulan pun menceritakan apa yang ia kerjakan di kantor dengan binar bahagia. Karena itu adalah pertama kalinya ia bekerja di kantor.
Sehingga ia masih teringat beberapa ilmu yang di dapat. Di tambah dengan otaknya yang cerdas, membuatnya cepat tanggap akan urusan pekerjaan.
Dengan terang-terangan kedua orang tua Leon memuji Wulan yang cerdas dan begitu semangat bekerja. Terlebih ia jauh dari orang tuanya.
__ADS_1
Dan mereka dengan terang-terangan juga membandingkan anaknya dengan gadis itu. Sehingga membuat Wulan tersipu malu.
Berbeda dengan Leon yang justru mengerucutkan bibirnya. Karena tak terima dibanding-bandingkan. Hal itu pun mengundang tawa keluarga nya.
"Makanya, mama sudah berulang kali menasehati. kamu itu harus semangat kerja Leon. Masa kalah sama calon istri mu." goda mamanya pada Leon. Namun hal itu sukses membuat Wulan terkejut. Hingga ia tersedak di sela-sela makannya. Leon segera menyodorkan minum untuk gadis itu.
"Kamu mau menikah?" tanya Wulan dengan serius pada Leon setelah lebih nyaman.
Dan laki-laki itu pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum pada Wulan. Entah kenapa hati gadis itu ikut senang bila sahabat masa kecilnya akan menikah.
"Selamat ya, aku turut senang jika kamu akan segera menikah."
Wulan menyodorkan tangannya dihadapan Leon. Laki-laki itu dan semuanya yang melihat cukup terkejut dengan sikap Wulan. Senyum yang tadi mengembang di wajah mereka perlahan memudar.
"Kamu tidak senang aku mengucapkan selamat padamu?" Wulan bertanya lagi.
__ADS_1
"Eh, bu_bukan begitu. Cuma aneh saja. Memangnya kamu tidak tahu siapa yang dimaksud mama dengan calon istriku?"
Wulan menggelengkan kepala serius. Dan Leon seketika menepuk jidatnya. Keluarga mereka pun menahan tawa melihat tingkah muda-mudi dihadapannya. Yang mereka anggap lucu.