
Siang itu untuk pertama kalinya Leon menjadi imam sholat untuk istrinya. Walaupun masih ada beberapa doa-doa yang salah, itu tak menyurutkan niatnya untuk tetap memperdalam ilmu agama.
Setelah selesai sholat, keduanya kini duduk berhadapan. Leon meminta maaf pada istrinya karena belum bisa menjadi imam yang baik ketika sholat tadi.
Fatim mengulas senyum dan menggelengkan kepalanya. Sebagai tanda itu tidak masalah. Ia justru menyemangati dan membantu suaminya dalam belajar menghafal doa'-doa'.
Cukup lama keduanya larut dalam mempelajari tentang sholat, dan beberapa hal lain yang ada dalam Islam. Hingga akhirnya terdengar suara adzan sholat Ashar.
Leon seketika menepuk jidatnya sendiri, karena melupakan keinginannya untuk mencicipi madu pernikahan bersama dengan istrinya.
"Sayang, nanti malam ya. Jangan sampai lupa." Leon merengek pada Fatim seperti anak kecil yang ingin sekali dibelikan jajanan.
"In shaa Allah. Sekarang ayo sholat lagi." ucap Fatim sambil bangkit berdiri.
**
Di tempat lain, setelah pulang dari menghadiri acara ijab di tempat Fatim, Salman berniat mengantar Wulan untuk periksa ke dokter.
Tapi wanita itu dengan kukuh menolak. Karena merasa keadaannya sudah jauh lebih baik. Ia tidak suka menelan obat yang pahit.
Salman pun berniat mengantarkannya pulang, agar bisa tidur siang. Sementara dirinya berencana akan mengunjungi counter. Untuk yang kesekian kalinya, Wulan menolak. Ia justru ingin ikut pergi bersama suaminya. Kemana pun suaminya pergi, ia harus berada disampingnya.
__ADS_1
Dari pada terus berdebat, akhirnya Salman mengalah. Ia mengijinkan istrinya ikut. Mobil Salman belok di cabang counter.
Bergegas keduanya turun dari mobil dan memasuki counter. Seperti biasa, keduanya akan selalu menjadi pusat perhatian. Apalagi saat itu keduanya masih menggunakan baju berwarna senada.
Salman mengedarkan pandangannya mengamati kinerja para karyawannya yang sedang melayani customer.
Ia berjalan menuju meja komputer, untuk melihat data di cabang itu. Ia menarik sebuah kursi agar istrinya juga bisa duduk disampingnya.
Kini keduanya mengamati deretan angka dengan teliti. Untuk memastikan bahwa tidak ada kesalahan. Ia menghirup nafas lega, ketika tidak ada masalah di counter itu. Dan menunjukkan angka-angka yang tinggi.
Ia keluar dari counter itu, dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju counter berikutnya. Hingga tibalah di cabang counter yang ke delapan. Ketika masuk, ia melakukan hal yang sama.
Salman membulatkan matanya ketika ada beberapa data yang tidak sesuai saat ia menatap layar komputer. Lalu mengecek total barang secara manual.
Setelah cukup merasa lebih baik, ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Dan akhirnya, setelah sekian jam berlalu, keduanya selesai dan kembali menyocokkan dengan data yang ada di komputer.
Salman menyandarkan tubuhnya di kursi sambil menghirup nafas panjang. Lalu ia memanggil salah satu karyawannya untuk dimintai keterangan.
Para karyawan sudah memasang wajah tegang sejak tadi, saat Salman dan Wulan mengecek stok toko.
"Lihat ini, kenapa perbedaannya banyak sekali? Kamu sebagai kepala di cabang ini bisa jelaskan." titah Salman.
__ADS_1
Karyawan itu mengamati catatan yang baru saja di buat Salman dengan data yang ada di komputer. Terlihat jelas perbedaannya. Dan ia baru menyadari itu.
Ia kembali menyocokkan dengan tumpukan nota pembelian. Cukup lama untuk mendapatkan sebuah jawaban. Hingga akhirnya membuahkan hasil. Dan ia pun menghirup nafas lega. Karena telah terjadi salah input data.
"Maafkan kami, kak. Sudah membuat kesalahan. Terima kasih sudah dibantu untuk mengecek." ucap karyawan itu dengan wajah menunduk.
"Aku harap kalian bisa lebih teliti. Karena ini semua juga berhubungan dengan bonus yang kalian dapatkan setiap bulannya."
"Baik, kak. Kami akan berusaha lebih keras lagi."
"Hem, kamu bisa kembali kerja."
Karyawan itu pun mengangguk, lalu kembali bekerja.
"Alhamdulillah, akhirnya sudah ketemu letak kesalahannya. Sekarang beli es yang lagi viral itu yuk. Biar hilang stress nya." Wulan menyunggingkan senyum ke arah suaminya.
"Hem, kamu bisa saja. Baiklah kalau begitu." Salman bangkit dari duduknya, setelah mengambil uang penjualan dari counter itu.
Sebelum membeli es krim, mereka menyempatkan diri mampir ke ATM untuk menyimpan uang tadi. Salman hanya mengambil beberapa lembar untuk pegangan, selebihnya ia simpan. Tak lupa ia juga mentransfer sejumlah uang ke rekening Wulan, sebagai uang nafkahnya.
Kesepuluh counter yang ia kelola adalah warisan dari papanya. Karena papanya sudah sangat sibuk mengurus showroom yang juga diwariskan oleh papa mertuanya. Sementara opa Atmaja, hanya sesekali datang ke kantor untuk melihat hasil kerja menantunya.
__ADS_1
Banyak orang yang beranggapan menjadi orang kaya itu menyenangkan. Padahal mereka tidak tahu apa saja yang telah mereka lakukan hingga sampai berada di titik itu.
Dan ketika sudah berada di titik itu, mereka tidak serta merta bersantai-santai saja. Tapi otak mereka juga bekerja lebih keras untuk memajukan usaha yang telah mereka bangun selama ini.