Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
263. Pekerjaan baru Leon


__ADS_3

"Pa, mama kangen sekali dengan Abidah. Masa cuma video call melulu, kita ke Indo yuk." Ajak mama Margareth pada suaminya.


Keduanya tengah menikmati makan malam berdua. Selalu seperti itu setiap hari, sehingga lama-kelamaan membuat mama Margareth bosan sendiri.


Terkadang untuk mengusir rasa bosannya, mama Margareth ikut papa Marco ke kantor, atau pergi ke rumah grandma. Keduanya menghabiskan waktu bersama untuk berkebun, atau untuk merajut.


Papa Marco menghentikan aktivitas makannya, lalu menatap istrinya sejenak.


"Nanti papa lihat dulu ya ma, jadwal papa sepekan ke depan. Kalau tidak ada meeting, kita bisa berangkat pekan ini juga. Tapi kalau ada meeting dan banyak pekerjaan, kita tunda dulu."


"Okay, pa. Janji ya." Papa Marco menganggukkan kepalanya, sambil menyuap makanan ke mulutnya.


**


"Pagi grandma." Sapa mama Margareth pada grandma Lusi, yang tengah menikmati secangkir lemon tea di belakang rumah.


"Margareth, ayo duduklah." Grandma meletakkan cangkirnya di meja samping tempat duduknya.


"Apa suamimu sudah berangkat?"


"Baru saja grandma." Balas mama Margareth, sambil menghempaskan tubuhnya di kursi samping meja.


"Oh iya, grandma. Apa tak ada rencana menjenguk buyut?" Mama Margaretha menoleh menatap wanita berusia senja di hadapannya.

__ADS_1


"Tentu saja ada. Kamu tahu kan, kami selalu kesana sebulan sekali. Kalau tidak kami akan sangat kangen dengan baby Maryam."


"Betul grandma. Aku juga sangat kangen dengan cucuku. Maka dari itu, aku ingin kesana. Tapi, menunggu keputusan dari Marco."


"Oh ya, kapan kalian akan ke Indo? Apa kamu ingin mengajak terbang kesana bersama?"


"Iya, grandma."


"Aku rasa itu ide yang bagus. Aku juga akan bilang ke grandpa nanti. Ayo, sekarang kita lanjutkan lagi merajutnya. Aku ingin memberikan sweater untuk baby Maryam. Pasti dia sangat comel sekali memakainya." Grandma bangkit berdiri dan masuk ke rumah, untuk mengambil peralatan yang digunakan untuk merajut.


**


Sementara itu di Indo. Leon telah meninggalkan tanah kelahirannya selama setahun penuh, karena harus menjalankan perannya sebagai seorang ayah yang siaga.


Sebenarnya ia juga sangat kangen dengan kedua orang tuanya, dan ingin membantunya bekerja mengurus perusahaan. Tapi hatinya sangat berat meninggalkan anak dan istrinya walau hanya sehari atau dua hari.


Di Indo sendiri, Leon tidak hanya berdiam diri di rumah. Malu rasanya untuk berpangku tangan, sedangkan papa mertuanya masih bekerja.


Akhirnya ia memutuskan membuka sebuah usaha. Yakni mengikuti jejak salman dengan membuka sebuah counter.


Dia memilih usaha itu, karena tidak membutuhkan banyak modal, tidak terlalu riskan, dan tentunya ia bisa belajar dari Salman.


Leon membuka usahanya itu dengan menyewa sebuah kios yang dekat dengan rumah mertuanya. Sehingga semakin memudahkan dirinya untuk memantau.

__ADS_1


Ia juga mempekerjakan seorang karyawan, untuk membantunya mengelola usahanya itu. Jika nanti anaknya sudah besar, ia bisa kembali ke Belanda dan menjual usahanya itu ke Salman, pikirnya.


"Hai Abidah, papa kerja dulu ya. Ayo salaman dulu." Leon mengulurkan tangan pada anaknya, yang sedang bermain boneka.


"Iya, papa. Hati-hati ya." Ucap Fatim, dengan logat seperti anak-anak.


"Ya, papa." Abidah juga ikut menirukan ucapan mamanya, lalu mencium punggung tangan papanya.


Setelah itu, Fatim mencium punggung tangan suaminya. Setelah berpamitan pada anak dan istrinya, Leon juga berpamitan pada mama mertuanya yang tengah menyirami tanaman hiasnya. Sedangkan papa mertuanya sendiri sudah berangkat ke rumah sakit.


Leon melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju kiosnya. Dan hanya butuh waktu lima belas menit, ia sudah sampai di depan kios nya.


Ia mendorong pintu rolling door, lalu mulai membersihkan counternya. Setelah itu, ia duduk di depan komputernya, mengecek laporan yang berkaitan dengan counternya sambil menunggu pembeli datang.


**


Seperti halnya Leon, Salman juga tengah berjibaku dengan pekerjaannya.


Meskipun counter itu adalah warisan dari papanya, ia tetap bekerja dengan sepenuh hati. Bahkan ia sudah diajari papanya berbisnis sejak kecil.


Dulu saat ia masih berstatus sebagai pelajar SMP, setiap pulang sekolah, ia ikut menjaga counter. Setiap bulannya ia juga selalu mendapatkan gaji dari papanya, seperti karyawan yang lainnya.


Hal itulah yang mendorongnya semakin giat dalam bekerja selama ini. Hingga papanya tak ragu untuk menyerahkan seluruh urusan counternya pada anaknya. Dan papa Reyhan fokus dengan showroom nya.

__ADS_1


Setelah selesai mengecek counter yang satunya, ia pindah ke counter yang satunya. Begitulah pekerjaannya setiap hari.


Ketika telah selesai mengerjakan pekerjaannya, barulah ia bisa pulang dengan tenang. Di tengah perjalanan, tiba-tiba ia teringat dengan Leon. Salman pun akhirnya membelokkan mobilnya, menuju ke arah kios temannya itu.


__ADS_2