Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
53. Berpamitan


__ADS_3

Tak lama kemudian, mama Laura datang membawa nampan yang berisi cemilan dan minuman dingin. Ia menyajikan di meja, dan mempersilahkan Wulan untuk mencicipinya.


Gadis itu menyunggingkan senyum dan mengangguk. Karena memang merasa haus, tak sungkan ia untuk meneguk minuman dingin nan menyegarkan itu. Lalu mencicipi cemilan kue kering.


Mama Laura terlihat senang Wulan bersikap apa adanya, tidak malu-malu kucing seperti umumnya orang lain yang bertamu.


Sementara itu di luar, Salman memperhatikan mobil putih yang terparkir di dekat teras depan rumah. Ia menebak bahwa itu adalah mobil Wulan. Entah kenapa jantungnya berdegup kencang.


"Hanya bertemu dengan gadis aneh itu bisa membuat jantung ku berdegub kencang? Apa aku sudah ketularan anehnya?" gumam nya sebelum memutuskan turun dari mobil.


Langkahnya terhenti ketika melihat mamanya dan Wulan sedang bercakap. Terlihat akrab, padahal jarang sekali bertemu. Sedangkan kedua wanita itu tak menyadari kehadiran Salman.


"Assalamu'alaikum." ucap Salman setelah ia berdiri di dekat mamanya dan Wulan.


"Wa'alaikumussalam." balas kedua wanita itu kompak.


Mama Laura dan Salman sejenak saling beradu pandang lalu menatap Wulan. Keduanya tahu jika Wulan berbeda keyakinan, tapi kenapa ikut menjawab salam. Walaupun heran, anak dan ibu itu enggan bertanya.


"Nak Wulan sudah sejak tadi menunggu mu. Katanya ada yang mau disampaikan." terang mama Laura. Setelah Salman mencium punggung tangannya. Ia pun mengangguk, lalu duduk disampingnya.


"Apa yang ingin kamu sampaikan?"


'Padahal masih ada mamanya, kenapa harus buru-buru bertanya? Kenapa tidak menunggu nanti saja ketika mamanya sudah ngga ada? Heran deh.' Wulan mengernyitkan dahi.

__ADS_1


"Kenapa kamu diam saja?" imbuh Salman. Wulan pun menarik senyum sebelum berbicara.


"Oh, aku hanya ingin mengembalikan buku-buku ini kak." ucap Wulan sambil menyodorkan seplastik buku, dan juga paper bag.


"Ini sama baju yang kemarin sempat aku pinjam." imbuh Wulan lagi.


Mama Laura mengernyitkan dahi, lalu membuka isi paper bag itu.


"Ini kan... gamis mama Sal."


Salman meringis.


"Dulu Salman kan sudah pernah bilang ma, kalau gamis mama aku pinjam kan sama teman. Ya gamis yang itu."


"Sebenarnya Wulan kesini juga tidak sekedar mau mengembalikan buku dan baju kak, tapi ada hal lain." ucap Wulan.


"Apa itu?" tanya Salman santai.


"Aku.... mau pergi ke luar negeri. Bekerja di sana. Maafkan Wulan, jika pernah bikin salah sama kak Salman." ucap Wulan sambil menunduk.


DEG!


Jantung Salman bagai berhenti berdetak. Ia tak menyangka gadis dihadapannya akan pergi jauh.

__ADS_1


Meskipun hanya beberapa kali saja ia bertemu, dan dalam keadaan yang tidak disengaja, membuat hatinya serasa berdenyut nyeri.


'Kenapa hati ku seperti ini rasanya? perih. Bukan kah aku justru harus senang, karena tak ada lagi wanita aneh yang menggangu hidup ku?' batin Salman bertanya-tanya.


Hening menyelimuti ruangan itu. Mama Laura yang melihat ekspresi wajah keduanya bisa menyimpulkan jika mereka tengah dilanda perasaan yang gundah. Hingga akhirnya, ia pun angkat bicara untuk memecah kesunyian.


"Kapan kamu akan berangkat nak?"


"Nanti malam Tante." Wulan mengangkat wajahnya, ia berusaha tersenyum walaupun terasa berat.


"Kenapa tidak bekerja di daerah sini saja. Kami akan bantu kamu mencari kerja."


"Terima kasih Tante. Wulan ingin mendapatkan pekerjaan murni dari hasil usaha sendiri." dusta Wulan.


Tentu ia tak kan mengatakan alasan yang sebenarnya ia sampai pergi ke luar negeri. Jika mau, ia bisa kerja di perusahaan Daddy nya.


Mama Laura menyunggingkan senyum, bangga dengan alasan Wulan. Sedangkan Salman, masih tak memberi respon apapun. Padahal ia ingin sekali berbicara lebih banyak, tapi lidahnya serasa kelu.


"Semoga kamu menjadi orang sukses. Apa yang menjadi cita-cita mu, dapat terkabul. Maafkan aku juga jika ada salah padamu." ucap Salman, ketika Wulan hendak berpamitan pulang.


Wulan menghembuskan nafas lega, akhirnya Salman mau mengatakan sesuatu untuknya. Mungkin kalimat itu adalah kalimat terakhir yang dia dengar dari mulut lelaki pujaannya.


"Terima kasih kak atas doa tulusnya."

__ADS_1


__ADS_2