Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
244. Pulang


__ADS_3

"Bagaimana perkembangannya, dok?" Tanya Leon, pada dokter yang menangani bayinya Fatim.


"Alhamdulillah, semua sudah bagus. Saya ijinkan pulang hari ini." Jelas dokter, sambil menyunggingkan senyum.


"Alhamdulillah." Serempak semua mengucapkan kalimat tahmid.


Seorang perawat wanita yang menemani dokter itu, membantu melepas peralatan yang ada di tubuh bayi.


Setelah sepuluh hari di rawat di rumah sakit, akhirnya hari itu bayi Fatim diijinkan pulang.


Bayi Fatim memang kuat meminum ASI yang diberikan untuknya. Sehingga ia cepat mengalami kenaikan berat badan. Dari yang awalnya hanya satu setengah kilogram, kini menjadi dua setengah kilogram.


Tak hanya itu saja, kulit nya yang dulu kemerahan dan banyak mengelupas, kini kelupasannya sudah memudar. Begitu juga dengan warna kulitnya, yang tidak semerah saat awal lahir. Dan juga tidak terlihat begitu lembek.


Semua itu tak luput dari campur tangan Allah. Sehingga mereka sangat bersyukur sekali.


Setelah kepergian sang dokter, keluarga Fatim segera mengemasi barang-barangnya dengan penuh semangat.


Sedangkan Fatim, ia tetap duduk di dekat box bayinya. Ia tersenyum indah, melihat bayinya yang masih tertidur pulas.


"Sayang, kamu senang kan? Sebentar lagi kita akan segera pulang."


Di rumah nanti, kamu pasti akan lebih cepat tumbuh besar. Karena setiap hari, papa dan mama akan lebih sering memeluk dan menggendong mu.


Kita juga bisa tidur di ranjang yang sama. Kalau sudah cukup umur untuk makan, mama juga akan memberimu makanan pendamping ASI terbaik." Celoteh Fatim panjang lebar, sambil mengusap pelan wajah bayinya.


Leon baru saja selesai mengemasi seluruh barang milik istri, anaknya, dan barang-barangnya pribadi. Setelah itu ia mendekati sang istri yang tampak mengoceh sendiri.

__ADS_1


"Sayang, kamu sedang curhat dengan bayi kita ya. Kalau sudah diijinkan pulang."


"Tentu saja, kak. Karena aku sangat bahagia sekaligus bersyukur. Tak sabar rasanya tidur di kamar sendiri." Wajah Fatim tampak tersenyum semringah.


"Perasaan ku juga sama seperti mu sayang. Sangat bahagia sekali. Dan itu artinya kita bisa merencanakam Aqiqah untuk putri kecil kita."


"Iya, kak. Aku sudah tak sabar mengadakan acara itu." Imbuh Fatim antusias.


"Leon, kamu sudah selesai mengemasi barang-barang kalian?" Tanya mama Margaretha sambil berjalan mendekat.


"Sudah, ma."


"Yakin, tidak ada yang tertinggal?" Tanya mama Tiwi memastikan. Ia berdiri di samping besan wanitanya.


"Iya, ma. Kalau ada yang tertinggal, pasti akan dibawakan oleh papa Adam. Tenang saja." Dengan santainya Leon menjawab, sambil diiringi kekehan kecil.


Tak berselang lama, papa Adam datang. Di belakangnya ada seorang suster yang membawa kursi roda.


"Semua sudah siap kan?" Seru papa Adam, menginterupsi keluarganya dan besannya.


"Sudah, Dam." Balas papa Marco.


"Okay, kalau begitu kita segera pulang sekarang. Fatim, duduklah di kursi roda." Ucap papa Adam.


"Apa, duduk di kursi roda? Tapi Fatim kan sudah sembuh." Protes Fatim merasa tidak terima.


"Jika di lihat dari luar, kamu memang baik-baik saja. Tapi takutnya papa, bekas operasi mu yang belum sepenuhnya kering akan rusak."

__ADS_1


"Betul apa yang dikatakan papa. Kita patuh saja, karena ini semua juga demi kebaikan kita."


Fatim menganggukkan kepalanya. Tentu saja ia tidak ingin bekas operasi nya rusak. Dengan dibantu oleh Leon, Fatim duduk di kursi roda, sambil memangku bayinya.


Setelah itu, rombongan mereka berjalan meninggalkan ruang perawatan. Fatim menghirup udara dalam-dalam, begitu keluar dari ruangannya.


Mereka keluar dari lift, lalu menuju lobby rumah sakit. Dimana mobilnya sudah disiapkan di depan lobby.


Saat akan masuk ke mobil, Fatim mengalami sedikit kesulitan. Hingga suaminya kembali membantunya.


"Alhamdulillah." Gumam Fatim dan Leon bersamaan. Setelah berhasil masuk ke dalam mobil.


Posisi mereka, papa Adam berada di depan, dan bersiap mengemudikan mobilnya. Di dekatnya ada besan laki-lakinya, yakni papa Marco. Sedangkan dibarisan tengah, ada mama Tiwi, Fatim dan mama Margareth. Dan di kursi paling belakang, Leon duduk sendiri.


Bayi mereka tampak masih tertidur nyenyak, berada dipangkuan mama Margaretha. Fatim yang melihatnya terus menyunggingkan senyum.


Di rasa semua sudah siap, mobil pun bergerak pelan meninggalkan pelataran rumah sakit.


"Pa, aku ingin mampir beli buah." Ucap Fatim, saat hampir separuh perjalanan.


"Okay." Balas papa Adam singkat.


Tak berselang lama, mobil mereka sudah berhenti di depan kedai penjual buah-buahan segar.


"Kamu makan buah apa, sayang?" Tanya Leon.


"Buah pepaya. Karena semenjak melahirkan sampai sekarang, aku belum buang air besar juga."

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak bilang ke papa Fatim?" Protes papa Adam.


"Maafkan Fatim yang lupa bilang ke papa. Lagian Fatim juga agak gimana gitu kalau minum obat. Kalau makan buah kan segar dan manis rasanya." Ucap Fatim sambil nyengir.


__ADS_2