Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
138. Meminta pendapat


__ADS_3

Leon duduk di barisan laki-laki. Yang terdiri dari, dirinya, Salman, Daddy Marquez, papa Reyhan, opa Atmaja, dan grandpa Louis.


Sedangkan Wulan duduk di barisan perempuan. Yang terdiri dari dirinya, mommy Melati, mama Laura, Oma Ani, Oma Rohmah, dan grandma Luci.


Barisan itu berada di depan. Sedangkan para tamu undangan untuk laki-laki berada disebelah kanan. Dan untuk tamu undangan perempuan di sebelah kiri.


Seorang MC mulai membaca salam, lalu membacakan susunan acara. Menginjak acara Tilawah Al-Qur'an dibacakan oleh Salman sendiri.


Pemuda itu mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Keadaan begitu hening. Yang terdengar hanyalah suaranya yang sangat merdu.


Wulan terus menatap suaminya tanpa kedip. Dengan senyum yang terpancar di wajahnya.


'Aku memang tak salah pilih. Punya suami paket komplit.' batinnya kegirangan.


Semua memuji Salman. Mulai dari fisik dan suaranya yang indah. Termasuk Leon.


'Ah, dia itu terlampau komplit. Semua menatapnya tanpa kedip. Termasuk si Wulan. Eh, si Fatim juga menatapnya dengan takjub. Astaga, dia kenapa bisa menatap seperti itu pada temannya sendiri. Lebih baik menatap ku, yang seorang bule. Apa aku perlu menjadi seperti Salman? Agar semua orang takjub melihatku? Tapi gimana caranya?' batin Leon, dan wajahnya terlihat gusar.


Tilawatil Qur'an telah selesai dilakukan oleh Salman. Kini saatnya sambutan dari tuan rumah, yang di wakili oleh opa Atmaja.


Ia menyampaikan rasa syukurnya di beri kesempatan untuk bisa mengerjakan umrah dengan keluarga besarnya. Ia juga memohon pada para tamu undangan untuk membantu doa agar dalam pelaksanaan umrah tidak ada halangan apapun.


Setelah cukup kata sambutan yang ia berikan, kini saatnya berdoa bersama. Lalu dilanjutkan dengan tausyiah singkat. Dan acara makan bersama.


Tak terasa akhirnya sudah tiba di penghujung acara. Kini saatnya para tamu meninggalkan tempat acara. Leon sengaja mengikuti Fatim.

__ADS_1


"Hei!"


"Astaghfirullah. Kamu...." Fatim mengusap dadanya, karena terkejut dengan kehadiran Leon yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya dan menepuk bahunya kuat. Sedangkan Leon justru meringis.


"Kamu kesini dengan siapa?" tanya Leon basa-basi.


"Kenapa? Mau sensus ya?"


Leon menepuk jidatnya. Ada rasa ingin bercakap-cakap banyak hal dengan gadis dihadapannya. Tapi terkadang gadis itu bersikap sedikit jutek.


"Lupakan pertanyaan ku tadi. Kalau kamu enggan menjawab." ucap Leon pasrah.


"Oh iya, bagaimana penampilan ku memakai baju ini?" Leon merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum.


Fatim mengernyitkan dahi, sambil menelisik penampilan Leon.


"Astaga. Aku sudah berdandan maksimal lho. Masa iya nilainya cuma biasa saja? Di puji sedikit lah. Atau paling tidak caramu memandang ku, seperti cara memandang mu pada suaminya Wulan."


Barulah ketika mendengar penuturan Leon membuat Fatim terkekeh.


"Ya Allah, jadi kamu ingin dipuji toh? Harusnya kamu melakukan semuanya karena ikhlas dong. Bukan karena ingin mendapatkan pujian. Amalnya sia-sia lho jadinya. Sudah ya, kedua orang tua ku pasti sudah menunggu ku mobil. Aku harus segera pulang. Assalamu'alaikum." Fatim melenggang pergi tanpa Leon sempat menjawab.


"Wa'alaikumussalam." ucap Leon dengan susah payah, dan terbata-bata.


"Leon. Tante cariin ternyata kamu ada disini." Suara mommy Melati mengejutkan Leon, yang tengah menatap kepergian Fatim.

__ADS_1


"Ayo kita pulang."


"Baik, Tan." Leon mengangguk. Lalu berjalan dibelakang mommy Melati.


Setelah sampai rumah dan membersihkan diri, Leon merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Ia kembali membuka galeri foto yang terdapat fotonya dengan Fatim.


"Ternyata gadis ini cukup menyebalkan juga. Tapi kenapa aku justru kangen dengannya ya. Dimana aku bisa menemuinya?" pandangan Leon menerawang.


Lalu kembali mengotak-atik handphonenya selama hampir satu jam lebih.


"Apa sih yang tidak bisa? Leon, gitu lho." senyum mengembang ketika berhasil mendapatkan informasi tentang Fatim.


**


Dua hari berlalu sejak acara pengajian itu. Keluarga Wulan berangkat bersama menuju kediaman keluarga Salman. Dengan diantarkan oleh Leon.


Mereka sengaja menginap di sana, agar bisa berangkat bersama-sama. Tentunya atas ajakan papa Reyhan.


Ia memang sudah menganggap besannya itu menjadi keluarga dekat.


Saat mengantar, Leon memang bertemu dengan Salman. Keduanya pun saling bercakap-cakap. Leon banyak bertanya tentang ibadah umroh yang akan dijalankan oleh keluarga Salman.


Leon manggut-manggut mendengar penjelasan itu. Hatinya terdorong untuk ingin lebih banyak tahu. Dan Salman memberinya lebih banyak penjelasan.


Saat adzan Dhuhur tiba. Salman berpamitan ingin melaksanakan sholat Dhuhur di masjid dengan papa dan opanya di masjid. Leon pun mempersilahkan nya. Sekalian ia pamit pulang.

__ADS_1


Saat perjalanan pulang, Leon memutar kemudinya menuju suatu tempat.


"Hem, jadi dia kerja di rumah sakit ini." gumamnya, ketika telah sampai di sebuah rumah sakit swasta yang besar.


__ADS_2