Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
188. Suasana pengantin baru


__ADS_3

Di tengah lelapnya tidur malam, tiba-tiba Salman terbangun dan mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya.


"Ya Allah, kelakuan istri ku gini amat sih. Tadi siang jajan es krim ngga kira-kira. Sekarang kakinya justru menindih perutku. Tidurnya sudah seperti anak kecil saja." gumamnya pelan.


Sesaat Salman memandangi wajah istrinya dengan penuh kasih sayang. Ia merapikan anak rambutnya yang berantakan. Lalu mengecup keningnya cukup lama.


Tak di sangka, Wulan justru melingkarkan kedua tangannya di leher Salman dan membalas dengan mengecup pipinya.


"Apa kau menginginkan ku malam ini?" tanya Wulan dengan suara parau, khas bangun tidur.


Siapa yang bakal menolak pesona kecantikan Wulan yang memiliki ciri khas wajah campuran Indo dan Belanda. Diiringi senyuman, Salman pun mengangguk. Setelah berdoa, ia mulai bergerilya.


Keduanya sama-sama pintar dalam menjalankan kewajibannya. Sehingga senyum puas tersungging di wajah mereka setelah selesai.


Dan ketika bangun tidur, Wulan kembali muntah-muntah. Salman yang mendengar suara istrinya, bergegas menyusulnya ke toilet.


"Sayang, pokoknya nanti kita harus ke dokter. Titik." tegas Salman.


Laki-laki itu sangat khawatir dengan kondisi istrinya. Karena sudah beberapa hari ia selalu seperti itu.


**


Pagi itu Leon mendapat kabar dari papanya, jika ia dan mama akan segera terbang ke Belanda. Tentu saja Leon ingin mengantarkan kedua orang tuanya sampai bandara.


Setelah menutup teleponnya, ia memberitahu pada istrinya. Karena Fatim memang belum masuk kerja, ia juga ingin ikut mengantar mertuanya.


Setelah sarapan pagi keduanya berpamitan dengan kedua orang tua mereka. Karena hal itu mendadak, maka keluarga Fatim tak menyiapkan apa-apa untuk sekedar oleh-oleh. Leon tak begitu mempermasalahkannya.

__ADS_1


"Aku sudah bisa menyetir mobil." ucap Leon, saat Fatim membuka pintu mobil bagian kemudi.


"Aku khawatir, karena keadaan mu belum sembuh benar."


"Aku juga khawatir dengan keadaan mu yang belum sembuh benar." balas Leon yang membuat Fatim mengernyitkan dahi. Karena merasa ia tidak sakit apa-apa.


"Aku tidak sakit."


"Maksudku, itu mu yang sakit. Semalam kan kita habis bertarung di ranjang." dengan santainya Leon berkata.


Karena melihat jalan istrinya yang sedikit aneh, ditambah noda merah yang menempel di sprei, membuatnya bergidik ngilu.


"Kak, jangan keras-keras. Malu kali kalau sampai ada yang mendengar.


Leon seketika menutup mulutnya sambil meringis. Ia memang bicara terlalu apa adanya. Sesuai dengan kebiasaannya dulu, dan lingkungannya pun juga seperti itu. Jadi ia menganggap itu adalah hal yang wajar.


"Sudah, kak. Ayo buruan masuk ke mobil. Takutnya papa dan mama kelamaan menunggu kita. Aku sudah tidak apa-apa kok. Yang aku khawatirkan justru kesehatan kak Leon. Karena bagian kepala itu sangat riskan."


Leon tidak mendebat lagi ucapan Fatim. Karena tidak mau terjadi hal yang buruk jika ia nekad mengemudikan mobilnya.


Keduanya masuk mobil, dan Fatim pun mulai melajukan mobilnya menuju kediaman Wulan.


Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, akhirnya keduanya tiba ditempat yang di tuju. Terlihat pintu ruang tamu terbuka lebar. Mungkin kedua orang tua Leon, sudah menunggu kedatangan anak dan menantunya.


Keduanya segera turun dari mobil dan mengucapkan salam saat berada di ambang pintu. Tepat sekali dugaan mereka.


Kedua orang tuanya telah menunggu kedatangan mereka. Fatim dan Leon pun melangkahkan kakinya masuk ke rumah. Dan menyalami kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Kami bisa pesan taksi online. Agar tidak menggangu waktu kalian." seloroh mama Margareth. Ia merasa tak enak dengan Fatim, karena melihat jalannya yang sedikit aneh.


"Tidak apa-apa, tante. Kami tidak merasa direpotkan kok." Fatim mengulas senyum tipis pada ibu mertuanya.


"Kok panggilnya masih, Tante, sih. Sekarang kamu harus memanggil dengan kata, mama. Karena mulai kemarin, setelah kalian resmi menikah. Mama jadi mamamu juga, sayang." Mama Margaretha menangkup wajah Fatim sambil tersenyum.


"Baik, Tan. Eh, mam." Fatim menutup mulutnya karena hampir salah sebut.


"Apakah semalam, Leon terlalu menyakitimu." bisik mama Margareth. Fatim seketika memerah wajahnya, karena mendapat pertanyaan itu.


"Kamu harus kalahkan dia. Jangan sampai dia yang selalu menang." imbuh mama Margareth dengan berapi-api.


Entah apa maksud perkataannya, yang jelas Fatim memanas wajahnya, dan tak bisa menjawab.


"Tenang, ma. Leon tidak akan menyakiti Fatim kok." cetus Leon, yang ternyata mendengar pembicaraan mama dan istrinya.


"Kalian, tidak pandai menjaga rahasia." kini giliran papa Marco yang bersuara.


Mendengar perkataan keluarga Leon semakin membuat Fatim merasa tak enak. Tapi ia harus coba tahan. Karena memang keduanya memiliki latar belakang yang jauh berbeda.


Marquez dan Melati menghampiri keluarga Leon yang tengah bersenda gurau.


"Om, bisa mengantarkan kedua orang tua kalian. Kenapa kalian harus repot-repot kesini? Harusnya mumpung masih jadi pengantin baru, manfaatkan waktu kalian baik-baik." kekeh Marquez. Entah untuk yang ke berapa kalinya, wajah Fatim memerah mendengar ocehan itu.


"Tidak apa-apa, om. Nanti juga bisa dilanjutkan lagi." balas Leon.


Fatim seketika mendongakkan kepalanya, tangannya menggenggam erat tangan suaminya. Takut mereka akan semakin lepas kendali, jika sudah mengobrol soal urusan ranjang. Fatim memang tidak terbiasa mendengar hal yang dianggapnya tabu.

__ADS_1


__ADS_2