Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
265. Menjenguk opa Atmaja


__ADS_3

Opa Atmaja kini sudah dipindahkan ke ruangan perawatan. Semua menunggunya, sedangkan Salman harus pulang. Kasian istri dan anaknya dirumah.


"Opa, Salman pulang dulu ya. Opa cepat sembuh, biar bisa main dengan Maryam lagi."


"Tentu, kamu jangan khawatir Salman. Pulanglah, pasti bayi itu sedang menghafal Al-Qur'an dengan mommy nya." Opa Atmaja menyunggingkan senyum.


Setelah mencium punggung tangan opa, Salman pulang. Ia berjalan menuju lift. Ia terkejut ketika melihat kedua mertuanya, keluar dari lift tersebut.


"Daddy, mommy." Ucap Salman, sambil mencium punggung tangan kedua mertuanya.


"Dimana ruang perawatan opa mu, Sal?" Tanya Daddy Marquez.


"Mari saya tunjukkan, Dad." Salman menawarkan diri, ia kembali berjalan ke ruangan opanya di rawat.


"Apa Wulan yang memberitahukan pada Daddy dan mommy?"


"Iya, Sal. Kami sangat khawatir, makanya langsung kesini. Karena pak Atmaja itu seumuran dengan grandpa dan grandma. Jadi mengingatkan Daddy dengan mereka."


Semua keluarga Salman menoleh ke arah pintu, ketika mendengar suara pintu dibuka. Mereka mengulas senyum, ketika mengetahui siapa yang masuk ke ruangan.


Mommy Melati meletakkan vas bunga segar di atas nakas, lalu ia dan suaminya bersalaman dan berpelukan dengan keluarga besannya.


"Salman, kamu tidak jadi pulang?" Tanya mama Laura.


Pria itu menarik senyum sejenak, karena bingung harus ikut menemani mertuanya ataukah pulang.


"Oh, iya. Kalau kamu mau pulang tidak apa-apa. Temani anak dan cucu Daddy."

__ADS_1


"Iya, Dad. Salman juga sudah meninggalkan mereka sejak tadi pagi. Kalau begitu Salman pamit ya, dad, mom." Salman mencium punggung tangan kedua mertuanya, dan kembali bersalaman dengan keluarganya sebelum berlalu pergi.


Setelah kepergian Salman, kedua orang tua Wulan bercakap-cakap tentang kondisi pak Atmaja.


**


Sesampainya di rumah, Salman sudah di sambut oleh anak dan istrinya, yang duduk di ruang tamu. Baby Maryam yang belum bisa tidur, sedang bermain seluncur.


Balita itu berlari ke arah Salman yang masih berdiri di ambang pintu. Dan setelah sampai, ia berteriak kegirangan, karena Daddy nya mengangkatnya tinggi lalu memutarnya.


Keduanya benar-benar tertawa lepas. Wulan yang melihatnya juga ikut bahagia dengan menyunggingkan senyum.


"Hati-hati, mas. Nanti baby Maryam jatuh lho." Wulan mengingatkan.


Salman menurunkan baby Maryam, lalu mengajaknya duduk di dekat mommy nya. Masih belum puas mengangkat bayinya tinggi, Salman memangku nya dan menggelitikinya. Sehingga tawa balita itu kembali pecah.


"Sudah, mas. Kasian anak kita, capek tahu meskipun cuma ketawa doang. Bagaimana keadaan opa?"


Salman mulai melepaskan baby Maryam sehingga bocah kecil itu kembali bermain, lalu dia menghela nafas panjang.


"Tekanan darahnya menurun, jadi sampai pingsan. Alhamdulillah, sekarang opa sudah sadar. Semoga cepat pulih, dan bisa berkumpul bersama dengan kita."


"Aamiin ya rabbal aalamiin."


"Sebenarnya opa juga menolak di rawat di rumah sakit. Katanya kalau sakit, di dekatkan baby Maryam saja. Tawanya bagai obat mujarab katanya." Wulan terkekeh mendengar aduan suaminya.


"Nanti opa kalau sudah sembuh, biar baby Maryam tidur dengan opa saja kalau begitu." Celetuk Wulan.

__ADS_1


"Serius? Terus nanti kita tidur berdua gitu? Lebih leluasa dong kita kalau mau buatkan adik untuknya." Salman merubah posisi duduknya menjadi miring, dan menatap wajah Wulan.


Istrinya itu terkekeh geli kekuatan signal suaminya sungguh luar biasa ketika berhubungan dengan ranjang.


"Sayangnya tadi aku hanya bercanda."


"Yah, ngga lucu. Aku kena prank." Salman pura-pura marah dan mengerucutkan bibirnya.


"Senyum dong." Wulan menarik kedua pipi suaminya, sehingga bibirnya yang tadi mengerucut, menjadi melebar.


Baby Maryam yang kebetulan melihat hal itu terkekeh. Sehingga membuat kedua orang tuanya juga ikut terkekeh.


"Oh iya, kamu buruan mandi gih. Biar aku bilang ke bibi untuk mempersiapkan makan malamnya."


"Okay sayang, dengan senang hati." Salman mengecup pipi Wulan, dan berlalu pergi.


"Ayo sayang. Kita bilang ke bibi, untuk menyiapkan makan malam."


Wulan menggendong baby Maryam dan berjalan menuju dapur. Setelah mengatakan pada bibi, ia kembali mengajak baby Maryam untuk merapikan mainannya yang berantakan.


Wulan memang selalu mengajarkan pada putrinya untuk selalu merapikan mainannya setelah dipakai bermain, meskipun di rumah sudah ada asisten rumah tangga.


Untuk melatihnya bertanggungjawab dengan apa yang sudah ia kerjakan. Karena segala sesuatunya harus dilatih sejak dini, agar menjadi sebuah kebiasaan yang baik.


Wulan yang dulu bersikap bar-bar dan suka seenaknya sendiri, kini berubah menjadi ibu rumah tangga yang penyabar dan selalu mengarahkan anaknya untuk berbuat baik. Nilai-nilai agama senantiasa ia tanamkan sejak dini.


Tidak salah memang, Salman menyuruhnya di rumah untuk merawat bayinya. Sehingga baby Maryam tumbuh menjadi anak yang cerdas, sholihah dan sangat menggemaskan.

__ADS_1


__ADS_2