
Hingga matahari kembali dalam peraduannya, Marquez dan Melati belum juga keluar dari kamarnya. Grandma yang merasa tidak tenang karena anak dan menantunya belum makan sejak pagi, berinisiatif untuk mengetuk pintu.
Hanya beberapa kali ketukan, terdengar suara derit pintu yang dibuka.
"Mama." desis Melati ketika melihat mertuanya berdiri diambang pintu. Terlihat ia membawa nampan yang berisi makanan.
"Kalian berdua sejak pagi sampai malam tidak juga keluar kamar. Apa tidak lapar?"
"Maafkan kami mam, sudah membuatmu khawatir."
"Tidak perlu meminta maaf. Karena mama yang menyebabkan kamu dan suamimu demikian. Sekarang makanlah kalian berdua." grandma menyerahkan nampan itu pada menantunya.
"Kalau tidak keberatan, kami ingin makan di bawah saja, bersama dengan kalian mam." ucap Marquez yang baru saja selesai mandi, dan terlihat berjalan ke arah pintu.
"Hem, mama senang mendengarnya. Kalau begitu, kami tunggu di bawah ya." dengan senyum sumringah mama menatap anaknya.
"Iya ma, sekalian ada yang ingin kita sampaikan." imbuh Marquez lagi.
Grandma mengangguk lalu berjalan menjauh dari kamar anaknya.
__ADS_1
"Memangnya apa yang ingin kamu katakan pada mereka honey?" Melati menatap wajah suaminya cukup penasaran.
"Papa dan anak kita adalah seorang yang cerdas. Hanya dengan membacanya saja mereka bisa mengambil suatu keputusan. Jika mereka saja bisa mengambil suatu keputusan dalam waktu yang singkat, kenapa aku tidak? Mungkin ini terlalu cepat, dan bahkan sangat cepat. Tapi tidak ada salahnya kita mengikuti langkah mereka bukan? Aku ingin berkumpul dengan keluarga ku di surga nya Allah."
"Apa yang kamu ucapkan honey?" Melati menyunggingkan senyum tipis karena heran dengan suaminya.
"Kita akan melakukan hal yang sama dengan orang tua dan anak ku. Menjadi seorang mualaf." tandas Marquez.
Melati terhenyak dengan ucapan suaminya. Setahunya suaminya adalah orang yang memegang teguh sebuah prinsip. Tidak mudah goyah pada sesuatu. Dan tentunya sangat mempertimbangkan segala sesuatunya.
Tapi kini, ia merasa suaminya terlalu cepat berubah. Seperti pengakuannya tadi. Melati menghirup nafas dalam-dalam. Ia hanya bisa pasrah mengikuti kemauan suaminya. Karena sehidup semati, ia hanya ingin bersama suaminya.
"Baiklah jika itu keputusan mu, aku akan mendukungnya." ucap Melati sembari menyunggingkan senyum.
"Terima kasih honey. Kamu memang istri yang terbaik." Marquez membalas dengan senyuman dan pelukan untuk istri tercintanya. Setelah itu keduanya berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan.
Keduanya segera menggeser kursi yang masih kosong saat di ruang makan. Lalu menghempaskan tubuhnya di sana.
"Kamu baik-baik saja Marq?" tanya grandpa menatap anaknya. Laki-laki gagah itu pun mengangguk.
__ADS_1
"Syukurlah."
"Bukan kah tadi kamu ingin menyampaikan sesuatu? Apa itu?" Grandma menoleh pada Marquez.
Marquez justru menoleh pada istrinya, seakan-akan mencari dukungan. Jiwa dan mentalnya yang kuat seketika menguap kala itu.
"Em, Marq_Marquez ingin mengatakan, jika kami juga akan melakukan hal yang sama seperti apa yang kalian lakukan." ucapnya dengan nada yang bergetar.
"Apa!" seru mereka yang mendengarkan.
"Iya, mungkin ini adalah keputusan yang aku ambil dalam waktu tersingkat, dan semoga saja tidak salah. Aku ingin meraih surga bersama dengan keluarga ku."
"Alhamdulillah." ucap Wulan, grandpa dan grandma bersamaan. Mereka bangkit lalu memeluk Marquez bergantian. Kristal bening meluncur di pipi masing-masing.
Setelah melewati hal yang mengharu biru itu, mereka saling mengurai pelukan, dan kembali menghadap meja makan untuk menikmati hidangan yang telah disediakan. Sambil berbincang-bincang tentang banyak hal yang menyangkut tentang keyakinan mereka.
❤️❤️
__ADS_1