
"Ayo sayang, kita segera keluar." Ucap Leon sambil mendorong stroller.
"Iya. Kamu duluan saja." Balas Fatim, sambil melihat bayangan dirinya dari pantulan cermin.
Leon, pun akhirnya keluar duluan. Sedangkan Fatim masih merapikan jilbabnya yang sedikit berantakan, karena ulah suaminya tadi.
Di lantai bawah.
"Hai opa, oma." Leon menyapa keluarganya, dengan gaya khasnya seperti anak kecil. Karena ia sedang mendorong bayinya yang tidur anteng dalam stroller.
Keluarganya itu pun membalasnya. Tapi sejurus kemudian, mereka membulatkan matanya, melihat penampilan Leon.
"Leon, kamu..." Mama Margaretha karena syok, sampai tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
Sementara anaknya justru menyunggingkan senyum jumawa. Ia yakin keluarganya juga akan memujinya, seperti halnya istrinya yang memujinya.
"Leon, apa kamu tidak bercermin dulu?" Tanya papa Marco.
"Tentu saja aku bercermin dulu, pa. Bahkan Fatim sampai memujiku tampan." Leon menarik kerah bajunya jumawa.
Kedua orang tuanya menepuk jidatnya, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Merasakan kekonyolan dari anak dan menantunya.
"Memang mama dan papa ada apa sih? Kok mukanya seperti itu? Seperti tidak suka melihat ketampanan anaknya."
Leon mengernyitkan dahinya. Bukannya di puji, malah terlihat heran dan menepuk jidat masing-masing.
"Tampan?" Ucap kedua orang tua Leon dan kedua orang tua Fatim kompak.
__ADS_1
"Mama antar bercermin dulu yuk." Ajak mama Tiwi sambil menarik tangan menantunya.
Jujur saja, mama Tiwi juga tidak sanggup untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada menantunya.
Biarlah ia tahu sendiri apa yang terjadi dengannya. Leon merasa aneh dengan mertua dan orang tuanya. Karena mereka semua berbeda dengan Fatim.
"Nah, sekarang kamu bisa bercermin." Ucap mama mempersilahkan menantunya.
Dengan penuh rasa percaya diri, Leon melihat bayangan dirinya di depan cermin. Dan alangkah terkejutnya ia, sampai matanya membulat. Kala ekspetasi tidak sesuai realita.
"Ke-kenapa jadi begini?" Pekik Leon, sambil memegangi bibirnya.
Bibir Leon, terdapat bekas lipstik berwarna pink. Bahkan bekas itu juga mengenai daerah sekitar mulut. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih. Bukannya terlihat tampan, tapi justru seperti kaum melambai.
Wajah Leon mendadak memerah, menahan malu. Untung saja, baru keluarganya yang melihatnya. Jika sampai penampilannya itu di lihat oleh para tamu undangan, dipastikan ia akan menanggung malu seumur hidup.
"Terima kasih, ma." Ucap Leon, sambil menarik beberapa lembar tisu. Lalu menyapu daerah sekitar mulutnya hingga tak ada bekas lipstik yang menempel.
"Jangan percaya omongannya Fatim. Lebih baik kamu itu bertanya dengan mama. Pasti akan mama jawab dengan sejujurnya. Ya sudah, mama ke depan dulu." Mama Tiwi berlalu meninggalkan Leon.
"Hah, kok bisa jadi seperti ini sih? Malu-maluin banget. Kenapa Fatim tidak mengatakan kalau di bibirku ada bekas lipstiknya yang menempel? Huh, lihat saja pembalasan ku nanti malam." Gerutu Leon.
Leon menghembuskan nafas kasar, lalu melempar bekas tisue yang ia pakai tadi, secara asal.
Setelah memastikan penampilannya rapi, Leon kembali bergabung dengan anggota keluarganya untuk menyalami para tamu undangan.
Sebenarnya ia benar-benar merasa, sudah tidak punya harga diri dihadapan keluarganya. Tapi apa boleh buat, itu kan acara untuk putrinya. Masa iya, mau diwakilkan. Tidak afdhol rasanya.
__ADS_1
Keluarganya yang melihat kedatangan Leon tampak menahan tawa. Membuat Leon semakin kehilangan muka dan harga diri.
"Kamu darimana saja, mas? Bukan kah yang turun duluan tadi kamu?" Tanya Fatim dengan polosnya.
Padahal Leon merasa, jika istrinya adalah tersangka utama. Hingga membuatnya kehilangan muka dan harga diri.
"Mama dan papa, kenapa tertawa seperti itu sih? Memangnya ada apa? Fatim ketinggalan info nih, pastinya." Fatim menoleh ke arah keluarganya. Tapi keluarganya belum mampu menjawab.
"Kamu tidak ketinggalan info sayang. Karena kamulah yang membuat info itu." Sindir mama Tiwi akhirnya.
"Info apaan? Perasaan Fatim tidak bawa info apa-apa." Ibu menyusui itu menggelengkan kepalanya kuat. Ia menatap orang tua, mertua dan suaminya bergantian.
"Pasti sebelum kalian keluar, melakukan itu sebentar. Iya kan?" Bisik mama Margareth, yang membuat Fatim membulatkan matanya.
"Tidak, ma. Perut Fatim saja masih merasa sakit. Mana bisa gituan. Tadi cuma ciuman bibir saja."
Fatim berbicara dengan suara yang agak tinggi. Tapi ia seketika menutup mulutnya, karena keceplosan.
Keluarganya yang sempat mendengar pengakuannya kini terkekeh. Sedangkan Leon, menepuk jidatnya.
'Astaga. Akan jadi apa anakku nanti, kalau sudah besar. Melihat kedua orang tuanya sama-sama konyol.' batin Leon.
Di tengah-tengah kekonyolan itu, satu persatu tamu mulai berdatangan. Akhirnya perhatian keluarga Leon dan Fatim kini teralihkan.
Mereka menyambut para tamu undangan dengan ramah dan mempersilahkan tamunya duduk. Keluarga mereka sangat senang, karena orang-orang yang mereka undang rata-rata datang semua.
Tapi ada yang mengganjal di hati mereka. Ketika belum melihat kehadiran keluarga Wulan dan Salman.
__ADS_1