Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
127. Akad nikah


__ADS_3

Keluarga mempelai kini sedang di rias, di dua ruangan yang berbeda.


Selama beberapa jam tangan perias tak berhenti bergerak memoleskan aneka warna di wajah Wulan. Dan gadis blasteran itu terlihat diam, pasrah sambil merapalkan doa dalam hatinya. Mommy, grandma serta kerabat wanita yang lain ikut di rias di ruangan itu juga.


Sedangkan Salman dan anggota keluarga laki-laki dari pihak Wulan juga tengah di rias, tapi berbeda ruangan.


"Rileks saja ya, mas. Tidak usah gugup. Biar aku meriasnya juga mudah. Hasilnya biar memuaskan. Soalnya kamu itu sudah ganteng dari lahirnya." ucap perias laki-laki dengan nada gemulai, pada Salman.


Leon yang mendengar pujian yang dilontarkan itu, merasa tidak senang. Karena meskipun Leon seorang bule, nyatanya tidak mendapatkan pujian sama sekali.


Daddy Marquez, grandpa dan kerabat laki-laki yang lain keluar dari ruangan rias lebih awal, karena harus menyambut tamu yang hadir. Sedangkan Salman harus duduk di ruang itu, selama ia belum mendapat panggilan keluar.


Di luar, tamu terus berdatangan, memenuhi kediaman Daddy Marquez yang sangat megah.


**


Dan di kediaman opa Atmaja, keluarga besarnya juga tengah berkumpul. Mereka memakai dress code warna Sage.


Mama Laura tak lupa mengajak keluarga sahabatnya untuk ikut menghadiri acara di rumah besannya. Dengan senang mereka menerima ajakan itu.


Setelah memastikan semua siap, dan tak ada yang tertinggal, rombongan pengiring itu berangkat menuju ke kediaman mempelai wanita.


**


"Wow, cucok. Keren banget. Puas maksimal aku sama hasilnya." ucap perias laki-laki itu, setelah ia berjibaku dengan pekerjaannya selama hampir satu jam.


"Kita foto bareng yuk, mas." ajak perias itu.


Belum sempat Salman menjawab, perias itu sudah mengeluarkan handphonenya lalu berpose di dekat Salman.

__ADS_1


Leon yang melihat semakin iri. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada yang mengajaknya berfoto.


"Kamu tidak mau mengajak ku berfoto." ucap Leon pada perias.


Laki-laki itu menelisik penampilan Leon, lalu mengangguk setuju, karena merasa tak enak dengan bule dihadapannya.


Sedangkan Salman menyunggingkan senyum tipis, menyadari kekonyolan Leon. Hal itu membuat kegugupan nya sedikit mencair.


Setelah selesai berfoto dengan Leon, perias itu kembali mendekati Salman dan terus menggodanya, sehingga membuatnya merasa risih. Tapi Leon justru geram, karena ia sebagai seorang bule justru diabaikan.


Tak lama kemudian, Daddy Marquez berjalan menghampiri Salman.


"Salman, ayo kita ke depan. Penghulu sudah datang."


"Ba-baik, om." ucap Salman sedikit nervous. Lalu ia pun bangkit dari tempat duduknya dan berjalan beriringan dengan mertuanya.


"Leon, ayo kesini. Kami sebelahnya Salman. Kita antarkan dia menuju meja akad nikah." ucap Marquez saat melewati tempat duduk Leon.


"Memangnya siapa lagi. Tadi om kan memanggil namamu."


Dengan setengah hati, akhirnya Leon beranjak dari tempat duduknya dan memegang tangan Salman.


"Semoga akad nikahnya lancar ya, mas ganteng." teriak perias laki-laki tadi. Salman menoleh sejenak sembari menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


**


Wulan kini juga telah selesai di rias. Ia tampak sangat cantik menggunakan gamis lebar berwarna peach. Perias pun sampai terkagum-kagum melihatnya.


"Pasti beruntung sekali laki-laki yang mendapatkan kamu mbak." ucap perias itu. Tapi Wulan hanya menyunggingkan senyum tipis.

__ADS_1


Ia tidak tahu, siapakah sebenarnya yang beruntung. Salman kah, atau justru dirinya lah yang beruntung. Karena akhirnya rasa cintanya ini bersambut indah.


Kini ia duduk sambil menunggu kapan waktunya di panggil. Jarum jam semakin terdengar kuat. Seperti detak jantungnya yang berdetak juga semakin kencang.


**


Salman sampai di meja akad nikah. Di sana telah berkumpul penghulu, dan beberapa orang saksi.


Penghulu memberikan beberapa informasi pada Salman sebelum proses ijab qobul dimulai.


"Jadi anda sudah mengerti kan?" tanya penghulu untuk memastikan calon mempelai.


"Insyaa Allah sudah, pak."


"Baiklah, bisa kita mulai sekarang ya. Jabat tangan pak Marquez." titah penghulu.


Marquez dan Salman saling mengulurkan tangannya, lalu menjabat erat.


"Saya nikah dan kawin kan engkau Salman Alfarisi dengan putri ku Teresia Wulandari dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan tiket umrah dibayar tuunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Teresia Wulandari dengan seperangkat alat sholat dan tiket umrah di bayar tunai." ucap Salman dalam satu kali tarikan nafas.


"Bagaimana saksi, sah?" ucap penghulu.


"Sah, sah."


Suara 'sah' menggema memenuhi penjuru rumah.


"Alhamdulillah." Salman mengusap wajahnya dengan penuh rasa syukur.

__ADS_1


Wulan yang ada di ruangan rias, menitikkan air mata karena sangat terharu.


Takdir Allah demikian indah. Menjauhkan mereka yang mencintai bukan karena Allah, dan sekarang mendekatkan keduanya tanpa jarak dalam ikatan suci pernikahan. Ketika keduanya saling berpasrah pada ketentuan-Nya.


__ADS_2