Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
101. Tidak ada yang instan


__ADS_3

Setelah dikumandangkannya adzan, terlihat satu persatu orang mulai memenuhi masjid. Ternyata cukup banyak warga asli yang telah memeluk Islam. Membuat hati Wulan semakin yakin dan mantap.


Tak berselang lama, iqomah mulai diperdengarkan. Yang bertepatan dengan masjid yang telah penuh.


Imam menasehati makmumnya untuk meluruskan barisan shof sholat. Sebelum akhirnya sholat Maghrib pun di mulai.


Baru mendengar seuntai kalimat takbir saja sudah membuat Wulan bergetar hatinya. Dan imam meneruskan bacaan sholatnya.


Wulan mencoba menghafal deretan kalimat yang diucapkan imam sambil meresapinya. Hatinya begitu tenang ketika melakukan ibadah itu. Waktu 10 menit yang bergulir terasa singkat.


Setelah selesai, Wulan berdzikir dan memanjatkan doa. Lalu untuk mengakhiri semuanya ia mengusap tangan ke wajahnya.


"Nat, apakah dulu kamu juga merasakan ketenangan saat pertama memulai ibadah sholat?" tanya Wulan saat melipat mukenanya. Natalie pun mengangguk sambil tersenyum.


"Nat, maaf mungkin aku belum bisa memakai penutup kepala dalam waktu dekat ini. Tapi aku akan berusaha agar suatu saat juga bisa memakainya, sama seperti mu." lirih Wulan terlihat sedih.


"Tidak apa-apa. Semua butuh proses Wulan. Tidak ada yang instan. Mie instan saja butuh di rebus dulu." Natalie terkekeh di ujung kalimatnya, yang di ikuti oleh Wulan.

__ADS_1


Setelah selesai, Wulan mengantar mereka pulang. Sepanjang perjalanan, Wulan aktif bertanya pada Natalie. Ia ingin memanfaatkan waktunya sebaik mungkin saat bertemu dengan temannya itu.


"Ayo mampir ke rumah ku." ajak Natalie. Namun Wulan kali ini terpaksa menolak. Karena hari sudah beranjak malam.


"Baiklah, lain kali kamu mampir lagi ya."


"Siap sister." ucap Wulan penuh semangat.


Setelahnya ia melajukan mobilnya menuju kediamannya. Sepanjang perjalanan, Wulan menghafal doa'-doa' yang ada dalam sholat.


Wulan merasakan manfaat dari sholat berjamaah. Bacaan imam yang tidak terlalu cepat membantunya menghafal doa dan surat. Selain itu, ia juga bisa lebih khusu'.


"Selamat malam." seru Wulan sambil membuka pintu.


"Malam juga sayang. Kamu dari mana saja? Kenapa jam segini baru pulang? Grandma pikir kamu jalan-jalan dengan Leon. Ternyata bukan." tutur grandma panjang lebar.


Wulan menghampiri pasangan sepuh yang ada di hadapannya sambil tersenyum, lalu bergantian mengecup pipinya.

__ADS_1


Ia tahu pasti pasangan itu tengah mengkhawatirkan dirinya. Karena di situ ia memang tak memiliki seorang teman pun kecuali Leon.


"Wulan harus beradaptasi dengan lingkungan sini ma, pa. Mencoba mencari teman. Tidak hanya Leon seorang yang menjadi teman Wulan. Karena bagaimanapun juga, suatu saat kami akan berumah tangga. Tidak mungkin jika Wulan butuh sesuatu minta pada Leon. Di saat ia tengah menikmati waktu bersama istri dan anaknya bukan?"


Pasangan sepuh itu menghirup nafas panjang, sambil memikirkan ucapan cucu cantik mereka.


"Wulan, bukan kah Leon pernah mengatakan bahwa dirinya menyukai mu?" grandma dan grandpa mencoba mengingatkan cucunya. Wulan pun terkekeh.


"Aku sudah menganggap dia sebagai saudara ma,pa. Tidak lebih. Aku tidak akan pernah bisa mencintainya." tandas Wulan.


Sekali teman tetap teman. Tidak ada istilahnya dari temen jadi demen.


"Hem, kita lihat saja. Sekuat apa kamu bisa menahan rasa di hati kamu. Jika Leon terus-menerus mengejar mu cucu ku." ucap grandpa dengan senyum tipisnya.


"Okay. Wulan akan buktikan itu grandpa. Apa ada hadiah besar menanti Wulan. Jika apa yang grandpa katakan itu tidak akan pernah terjadi?"


Grandpa terkekeh sebelum akhirnya menjawab.

__ADS_1


"Tentu saja. Jangan khawatir."


Setelah perbincangan singkat itu, Wulan ke kamar membersihkan diri. Sedangkan grandma menyiapkan makan malam.


__ADS_2