
"Benar grandpa, grandma. Yang ada dalam video ini Wulan. Malam itu Leon merasa gerah, lalu membuka jendela, dan melihat Wulan tengah melakukan hal itu." ucap Leon untuk meyakinkan pasangan sepuh itu.
Pasangan sepuh itu masih terdiam dengan ekspresi yang sulit diartikan. Leon pun semakin gencar dengan banyak berbicara agar orang yang ada dihadapannya terpengaruh.
Leon seorang laki-laki yang menjadi teman bermain Wulan sejak kecil dan kini telah jatuh hati padanya, tidak rela jika kini harus dipisahkan oleh dinding pembatas yang besar.
Oleh sebab itu ia berjuang menghalalkan berbagai macam cara, agar Wulan bisa kembali seperti dulu.
"Leon, sudah ku duga. Kamu pasti disini." ucap papa Leon yang membuat perhatian mereka sedikit teralihkan.
"Sebaiknya kamu berangkat kerja Leon. Tuh sudah di tunggu oleh papa mu." ucap grandpa.
"Baiklah grandpa, grandma, Leon pamit dulu. Jika butuh suatu bantuan. Leon siap membantu." setelah berkata seperti itu, Leon melenggang keluar.
"Apa yang kamu lakukan Leon? Pagi-pagi sudah nyariin Wulan." gerutu papanya saat keduanya sudah di luar.
"Papa kayak nggak tahu urusan anak muda saja ih."
Leon segera menghempaskan tubuhnya di kemudi depan, bersiap untuk melajukan mobilnya.
Papa hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya.
**
__ADS_1
Sementara itu di dalam rumah, grandpa dan grandma tengah memikirkan cucu satu-satunya mereka.
"Aku kira semua ini tidak bakal terjadi, ternyata aku salah besar." gumam grandpa.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Apa kita harus menghubungi Marquez?"
Grandpa langsung menggeleng kuat mendengar usulan istrinya.
"Sebaiknya kita bicarakan baik-baik dulu dengan Wulan."
"Hem, baiklah." Grandma menyandarkan tubuhnya di sofa sambil menghirup nafas panjang.
Hening kembali menyelimuti mereka.
Grandma langsung terduduk mendengar pertanyaan suaminya, lalu mengangguk.
"Memangnya kenapa?" tanyanya penasaran.
"Aku ingin melihat-lihat kondisi kamar Wulan."
"Baiklah, ayo." pasangan sepuh itu pun beranjak dari duduknya. Lalu menaiki tangga menuju kamar.
Setelah mencari kunci cadangan, keduanya berjalan menuju kamar Wulan. Dengan jantung yang berdegup kencang, keduanya melangkah memasuki kamar yang di design serba pink itu.
__ADS_1
Sekilas tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Grandma memang tidak pernah masuk ke kamar Wulan.
Karena gadis itu membersihkan dan merapikan kamarnya sendiri. Jika ada cucian, ia sendiri yang membawa ke bawah.
Wulan sangat mandiri di mata pasangan sepuh itu. Berbeda dengan dirumahnya sendiri, semuanya sudah dikerjakan oleh para asisten rumah tangga.
Keduanya berjalan sembari mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Lalu bergerak menuju nakas kecil yang terletak di samping tempat tidur.
Grandpa membuka lacinya dan terkejut ketika melihat Al Qur'an. Sejenak ia mengamati benda itu, sebelum akhirnya memutuskan untuk membukanya.
Sambil duduk di tepi ranjang, keduanya membaca terjemahan ayat suci Al-Quran itu. Deretan kalimatnya begitu mudah untuk mereka pahami.
Tak puas hanya membaca selembar, keduanya membalik lembar selanjutnya. Hingga tanpa mereka sadari, keduanya telah membaca hampir separuh isinya.
"Kenapa berhenti?" tanya grandma pada suaminya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu ingin tahu lebih banyak tentang isinya?" grandpa justru bertanya balik pada istrinya.
"Jika kamu mengijinkan nya." balas grandma. Lalu grandpa membuka halaman selanjutnya.
"Grandma, grandpa." desis Wulan ketika melihat pasangan sepuh itu duduk di tepi ranjang tempat tidurnya.
Ia tertegun dan masih berdiri di ambang pintu. Sementara pasangan sepuh itu ketika mendengar suara yang sangat tidak asing ditelinganya segera menoleh ke belakang.
__ADS_1