Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
128. Patah hati


__ADS_3

Setelah proses ijab qobul selesai, Wulan di dampingi oleh anggota keluarganya berjalan menuju meja akad. Tampak disana Salman tengah memandang ke arahnya dengan takjub. Sehingga membuat Wulan tersenyum dan menundukkan pandangannya.


Setelah sampai di dekatnya, Salman mempersilahkan Wulan duduk. Keduanya menandatangani beberapa berkas penting.


Lalu penghulu mempersilahkan Wulan mengecup punggung tangan Salman. Dan Salman dipersilahkan mengecup pucuk kepala Wulan.


Keduanya kini saling berhadapan, dengan penuh perasaan yang sulit untuk diartikan.


Selanjutnya pasangan pengantin baru itu melakukan apa yang dianjurkan oleh penghulu. Keduanya melakukannya dengan penuh kasih. Meskipun hal itu baru pertama kali mereka lakukan.


Tepuk tangan meriah menyadarkan keduanya, bahwa mereka melakukan hal itu terlalu lama. Sehingga membuat keduanya tersenyum canggung.


Namun, tidak semua yang menghadiri acara itu turut bahagia dan senang menyaksikan pernikahan keduanya.


Di deretan kursi tamu bagian depan, Fatim mencoba menguatkan hatinya. Melihat orang yang ia puja dan damba telah menemukan pasangan hidupnya.


Bahkan Fatim tak pernah mengira jika Salman bisa berjodoh dengan orang yang memiliki darah campuran luar negeri.


Ia pikir Salman akan menyukai gadis seperti dirinya yang menutup aurat, sudah menjalin hubungan yang cukup lama dengannya, meskipun itu hanya sekedar teman, karena kebetulan ibu keduanya juga berteman.


Takdir memang menjadi sebuah misteri illahi, yang siapa pun tidak akan pernah tahu, pada siapa dirinya akan berjodoh.


Ia yang tak kuat, akhirnya lebih memilih pergi saat pesta tengah berlangsung.


"Pa, ma. Fatim ijin ke belakang dulu ya."


"Iya, jangan lama-lama ya nak. Soalnya kita belum pernah kesini sebelumnya. Takutnya kamu kesasar."

__ADS_1


"Papa. Fatim sudah besar kok. Kalau cuma mengelilingi rumah ini mana mungkin kesasar sih." Fatim berusaha tersenyum dihadapan kedua orang tuanya. Lalu berjalan meninggalkan tempat acara.


Ia berjalan dengan menunduk, karena berusaha menyembunyikan kesedihannya dari lalu lalang orang yang hadir di pesta.


Kakinya terus berjalan tak tahu arah. Dan ia belum menyadari hal itu. Karena yang ada dipikirannya saat ini hanyalah Salman. Tanpa terasa air matanya terus menetes.


Brukk...


Terdengar suara benturan yang cukup keras, sehingga membuat tangisnya berhenti seketika, berganti suara mengerang kesakitan.


"Hah, siapa kamu?" ucap laki-laki bule sambil menunjuk wajah Fatim. Ia terduduk di depannya.


"A-aku Fatim. Maafkan aku telah menabrak mu." ucap Fatim sedikit ketakutan, ketika pertama kalinya melihat orang bule dalam jarak yang sangat dekat. Dan orang itu tak lain adalah Leon.


"Oh, aku kira hantu." balas Leon sedikit terkekeh, dengan menggunakan dialog bahasa internasional.


Semua orang memuji jika dirinya cantik dan baik. Tapi laki-laki dihadapannya justru mengatakan dirinya hantu.


"Memangnya dirumah mu tidak ada kaca? Ayo, sini kita cari kaca. Agar kamu tidak terlalu percaya diri jadi hantu. Eh, jadi orang maksudnya."


Satu tangan Leon membekap mulutnya, dan satunya lagi menarik tangan Fatim. Ia berjalan mencari cermin. Fatim terus memberontak, tapi tenaganya kalah kuat dengan bule aneh itu.


"Lepaskan tanganku." cicitnya lagi. Tapi Leon mengabaikannya.


"Tuh, lihat wajah mu."


Leon berdiri di belakang Fatim, ia memegang bahu gadis dihadapannya, lalu menunjukkan wajah gadis itu lewat pantulan cermin.

__ADS_1


Fatim membulatkan matanya melihat make up nya yang luntur karena menangis. Eye linear nya sampai ke pipi-pipi. Membuatnya mirip hantu jadi-jadian. Pantas saja Leon yang berada di dekatnya terkekeh dan mengatainya seperti itu.


"Aku tidak bohong kan?" ucap Leon lagi di sela-sela tawanya. Dan Fatim mengangguk.


"Makanya kamu pakai make up yang waterproof dong, seperti mama ku. Dijamin seharian kena panas, hujan terik, badai, ngga bakal luntur tuh make up."


Kali ini Fatim lah yang justru tertawa. Melihat tingkah konyol laki-laki didepannya. Yang seolah tahu dunia perempuan. Apalagi itu soal ilmu merias diri. Dirinya saja sebagai seorang perempuan hanya bisa menggunakan bedak tabur, tipis-tipis.


"Kenapa kamu tertawa? Tidak percaya?" Leon merasa terhina melihat Fatim menertawakannya.


"Ayo, kita buktikan. Kalau aku juga memake-over dirimu." Lagi-lagi Leon menggandeng tangan Fatim, menuju ke tempat rias.


Leon meminta ijin pada MUA untuk menggunakan make up nya. Setelah itu mendudukkan Fatim.


"Ingat! Jangan bergerak-gerak ya. Kalau tidak mau wajahmu semakin amburadul." tegas Leon, lalu membuka pengait jilbab yang di pakai Fatim.


"Kamu ini apa-apaan sih. Pakai mengancam ku segala. Jangan buka jilbabku, nanti rambutku yang indah kelihatan sama kamu."


"Hahaha. Aku hanya ingin membuktikan kemampuan ku saja. Tidak akan jatuh cinta karena melihat rambutmu. Stop, tidak boleh banyak bicara."


"Dasar bule gila"


"Aku gila semenjak Wulan memutuskan menikah dengan laki-laki itu. Harusnya saat ini aku yang duduk mendampinginya menjadi pengantin baru."


"Oh, ternyata kamu sedang patah hati, toh? Pantas jadi aneh seperti ini." celetuk Fatim menatap Leon. Leon pun balas menatapnya.


"Dan kamu juga jadi aneh setelah patah hati dengan mempelai pria itu kan pastinya?"

__ADS_1


Seketika Fatim kembali teringat Salman, tapi enggan berkata jujur pada Leon. Karena itu hal yang memalukan baginya. Patah hati sebelum cinta diutarakan.


__ADS_2