
Setelah menyiram bunga, mommy duduk di kursi taman samping rumahnya. Ia duduk termenung sambil memikirkan anak semata wayangnya. Hingga suara mobil suaminya ia tak mendengarnya.
Sementara itu, setelah Marquez keluar dari mobil, ia berjalan masuk ke dalam rumah megahnya. Ia memasuki kamarnya dan tak menemukan istrinya.
"Pasti lagi menyiram bunga." gumamnya sambil menuruni anak tangga, dan berjalan keluar rumah. Setelah mengitari rumah, akhirnya ia menemukan istrinya yang tengah duduk termenung di kursi.
"Pasti sedang memikirkan Wulan." tebak Marquez sambil meletakkan kedua tangannya di bahu istrinya, sehingga wanita itu tersentak kaget.
"Honey, kamu baru saja pulang?" mommy Melati mendongak menatap wajah suaminya.
"Em, sudah beberapa menit yang lalu. Aku sudah ke kamar, lalu keliling rumah mencari mu. Dan akhirnya menemukan belahan hati ku di sini."
"Ingat umur. Selalu saja berkata gombal." Mommy Melati mencubit gemas hidung suaminya. Sehingga lelaki itu meringis kesakitan.
__ADS_1
"Kata mami mertua dulu, gombal itu artinya baju. Jadi kamu ngatain aku baju?" kekeh Marquez. Istrinya terlihat mengerucutkan bibirnya, karena suaminya memang sering bercanda.
"Jangan terus menerus menggoda ku seperti itu. Kita ini sudah tua."
"Meskipun tua, tetap berjiwa muda. Kita itu masih pantas memiliki satu atau dua orang anak lagi. Agar kamu tidak melamun karena kesepian di tinggal Wulan."
Mommy Melati kembali mendongak menatap wajah suaminya. Ia memang kesepian sejak di tinggal Wulan. Padahal baru 3 hari, tapi rasanya sudah seperti setahun. Bagaimana nanti ia akan melewati hari-hari panjangnya tanpa kehadiran Wulan lagi.
"Honey, aku ingin Wulan seminggu sekali pulang." rengek mommy, yang membuat suaminya terbatuk-batuk.
Ia tahu jika istrinya tengah memikirkan anaknya. Sebenarnya ia juga rindu dengan Wulan, tapi sebagai seorang laki-laki pantang baginya bersedih di hadapan para wanita, termasuk pada istrinya.
Sementara itu, mommy dalam hati membenarkan ucapan suaminya. Ia menyadari jika dirinya terlalu egois.
__ADS_1
"Honey, kalau begitu bagaimana jika Wulan pulangnya 6 bulan sekali?"
"Honey, kamu seperti pembeli saja, pakai acara tawar menawar segala." kekeh Marquez.
"Biarkan dia pulang sesuka hatinya. Mungkin adakalanya kita beri kejutan, dengan kita datang kesana. Tentunya bukan dalam waktu dekat-dekat ini."
Campur aduk perasaan mommy. Tapi ketika mendengar suaminya berbicara soal kejutan untuk Wulan, ia merasa sedikit lega.
"Ya sudah, kalau begitu, aku mau pinjam handphone mu. Aku ingin tanya kabar putri kita, boleh kan?" mommy mengulurkan tangannya ke arah suaminya.
"Janji tidak boleh menangis. Harus memberi semangat dan dukungan untuk putri kita."
Marquez menyodorkan jari kelingkingnya seperti anak kecil yang meminta janji pada orang tuanya. Mommy melati terkekeh melihat tingkah lucu suaminya. Lalu ia pun menautkan jari kelingkingnya dengan kelingking suaminya.
__ADS_1
Setelahnya, Marquez menyerahkan handphonenya pada sang istri, dan ia pun duduk di dekatnya. Hanya dalam hitungan detik, panggilan udara itu akhirnya terhubung.