Kisah Cinta Anak Juragan

Kisah Cinta Anak Juragan
185. Alhamdulillah sah


__ADS_3

Fatim dan mamanya berjalan beriringan menuruni anak tangga. Fatim memegang tangan mamanya, karena merasa kakinya lemas untuk dipakai berjalan.


Mama Tiwi yang mengetahui anaknya sangat gugup, menenangkannya dengan mengusap tangannya lembut.


Saat Fatim sudah tiba di dekat para tamu, semua mendongakkan kepalanya menatap ke arahnya. Leon menatap tak berkedip ke arahnya.


"Sadar diri." papa Marco menyenggol lengan anaknya yang terbengong. Leon gelagapan, dan mengusap kasar wajahnya.


'Astaga, dia benar-benar membuatku tak berkutik.' batin Leon gemas.


Walaupun di rias dengan make up sederhana, tetap membuat Fatim tampil cantik. Saat itu juga tengah mengenakan kebaya brokat warna putih, dan bawahannya menggunakan kain jarik. Kepalanya juga tertutup oleh jilbab berwarna senada dengan pakaiannya. Tak sebuah accesoris dan ronce bunga melati juga turut menghiasi kepalanya. Kini Fatim duduk diapit oleh kedua orang tuanya.


Anggota keluarga yang melihat tingkah Leon justru terkekeh.


Merasa semua sudah lengkap, pak penghulu mulai menyampaikan beberapa informasi penting, sebelum calon pengantin laki-laki mengucapkan ikrar ijab qobul. Setelahnya, acara sakral itu pun di mulai.


Penghulu menjabat tangan Leon dan mulai membacakan ikrar ijab qobul. Leon menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan, lalu mulai membalasnya.


Semua yang hadir serempak berkata 'sah'. Dan hal itu begitu membuat hati Leon sangat lega. Ia mengucapkan kalimat tahmid, sambil mengusap wajahnya yang dipenuhi peluh yang bercucuran.


Fatim pun juga melakukan hal yang sama. Ia mengusap wajahnya sambil mengucapkan kalimat tahmid.

__ADS_1


Meskipun hanya menikah di rumah dan sederhana, yang penting suaminya tadi bisa mengucapkan ikrar ijab qobul dengan lancar.


Penghulu mengijinkan bagi kedua pasangan suami-istri itu untuk saling bersalaman.


Leon dan Fatim sejenak saling beradu pandang. Pengantin pria mengulurkan tangannya ke arah pengantin perempuan. Yang segera diraih, lalu Fatim mengecup punggung tangannya dengan takzim.


Kini giliran Leon yang mengecup kening istrinya. Dengan jantung yang berdebar kencang, ia melakukan hal itu. Rupanya ia sudah tak sabar hingga hilang kesadaran.


Tak hanya mengecup kening Fatim, ia juga mengecup kedua pipinya dan bagian lainnya. Yang mengundang tawa keluarganya.


"Leon." bisik kedua orang tuanya, sambil menarik ujung baju bagian bawahnya. Dan berhasil menyadarkan laki-laki itu. Ia meringis menahan malu, karena perbuatannya.


Setelah menandatangani dokumen penting pernikahan, mereka di persilahkan untuk mencicipi hidangan yang telah disediakan.


Ia juga berpesan dengan besannya, agar memaklumi sikap anaknya yang kadang di luar nalar. Dan mengingatkannya tentang hal-hal yang berkaitan dengan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Mama Tiwi mengulas senyum tipis, lalu berjanji akan melakukan permintaan besannya. Keduanya pun saling berpelukan sebelum pulang.


Setelah kepergian seluruh anggota keluarganya, mama Tiwi meminta Fatim untuk melaksanakan sholat Dhuhur. Sedangkan semua yang berhubungan dengan sisa pernikahan, di urus oleh asisten rumah tangganya.


Leon berbinar wajahnya ketika mama mertuanya menyuruhnya ke kamar. Terbayang di benaknya, ia akan melakukan hal yang umum dilakukan oleh pasangan suami-istri. Hingga membuatnya senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


Tak ragu, pria itu melingkarkan tangan di bahu istrinya, saat keduanya berjalan menyusuri anak tangga. Fatim sedikit tersentak kaget ketika mendapat perlakuan seperti itu. Ia menoleh dan berusaha tersenyum tipis. Karena bagaimana pun juga, Leon telah resmi menjadi suaminya.


Sesampainya di kamar, Leon mengedarkan pandangannya menyapu ke setiap sudut ruangan.


"Kamar yang bagus." gumamnya, ketika melihat kamar Fatim yang cukup luas, dengan dominasi cat warna pink. Dan beberapa barang khas wanita banyak terpajang di situ.


"Kamu bisa sholat dulu kak. Ambil air wudhu bisa di toilet, yang ada disebelah sana." Fatim menunjuk arah pojok kiri dari kamarnya.


"Aku ingin sholat dengan mu saja. Tapi jangan hina aku karena belum fasih dengan bacaannya." Fatim tersenyum lembut menatap wajah suaminya.


"Orang yang menghina atau mengolok-olok orang yang sedang belajar, sejatinya ia adalah orang yang bodoh. Dan aku tidak mau bertindak sebodoh itu, kak. Justru aku sangat senang, karena kak Leon mau belajar."


"Terima kasih, Fatim." Leon mendekatkan bibirnya ke kening dan pipi istrinya. Yang membuat gadis itu tersipu malu.


"Apakah nanti setelah sholat, aku boleh melakukannya?"


"Melakukan apa?" Fatim bertanya dengan polosnya.


"Itu, melakukan hubungan suami-istri di atas ranjang tempat tidur." balas Leon dengan apa adanya. Tidak perlu ada kode-kode, karena sudah tidak sabar yang menyergap hatinya.


Wajah Fatim bersemu merah, mendengar permintaan suaminya. Jantungnya juga berdegup kencang. Karena ini adalah kali pertama bagi keduanya.

__ADS_1


"Apa harus siang ini?" tanya Fatim ragu, takut menyinggung perasaan suaminya.


"Iyalah, kapan lagi. Kita cepat-cepat menikah untuk menghindari dosa kan?" Leon menaikkan satu alisnya, juga menaikkan sudut bibirnya. Mode nakal ke arah istrinya.


__ADS_2